METROPEKALONGAN.COM, Batang– Keinginan bertemu sosok yang dikaguminya membuat Teguh, 35, rela menempuh perjalanan panjang dari Depok, Jawa Barat, menuju Solo. Bukan dengan kendaraan, pria asal Klampok, Banyumas, itu memilih berjalan kaki sambil menarik gerobak bersama istri dan anak semata wayangnya.
Gerobak yang biasanya digunakan Teguh untuk mencari barang bekas kini berubah fungsi menjadi kendaraan perjalanan. Pakaian, alas tidur, bantal hingga peralatan bengkel disusun di dalamnya. Sementara istri dan anaknya ikut berada di gerobak ketika perjalanan berlangsung.
Teguh berangkat bersama Yuliati, istrinya, dan Rajul, anak semata wayangnya, dari Depok pada 21 September 2026.
Tujuan mereka satu, Solo. Di kota tersebut, Teguh berharap bisa bertemu mantan Presiden Joko Widodo yang selama ini menjadi sosok idolanya.
Tak ada seremoni keberangkatan. Tak ada pula bekal perjalanan yang berlimpah. Teguh hanya membawa apa yang dianggap penting untuk bertahan di perjalanan.
“Saya hanya membawa tekad dan semangat. Beruntung kami bertemu orang-orang baik selama di perjalanan yang memberi kami makan dan kadang juga uang,” ujar Teguh dengan logat ngapak.
Baca Juga: 10,9 Juta Penumpang Pilih Kereta, Minat Naik KAI Meningkat
Baca Juga: Ini Alasan Festival Literasi Kini di Halaman Dinarpus Kota Pekalongan
Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan seorang pria mengejar impian. Yuliati yang sehari-hari juga membantu mencari nafkah sebagai pemulung akhirnya memilih mendampingi suaminya.
Semula Yuliati keberatan meninggalkan aktivitas mencari barang bekas. Namun, ia tak tega membiarkan Teguh berjalan seorang diri menempuh ratusan kilometer. Rajul pun ikut dalam perjalanan tersebut.
Keluarga kecil itu kemudian memperbaiki gerobak sebelum berangkat. Teguh bahkan membawa ban cadangan lengkap dengan pelek dan as roda, serta seperangkat peralatan bengkel untuk mengantisipasi kerusakan di tengah jalan.
Tidak ada target kapan harus tiba di Solo. Tidak ada pula kenalan yang disiapkan sebagai tempat menginap. Setiap hari mereka hanya berjalan mengikuti kemampuan.
Ketika malam tiba, keluarga tersebut beristirahat di SPBU sebelum kembali melanjutkan perjalanan pada pagi atau siang berikutnya.
Baca Juga: Festival Literasi Pekalongan Ajak Warga Cerdas Saring Informasi
Baca Juga: Pemerintah Daerah Apresiasi TNI yang Selalu Sigap Membantu
Perjalanan panjang itu memperlihatkan bagaimana sebuah impian sederhana mampu membuat keluarga tersebut bertahan menghadapi panas jalanan Pantura dan berbagai kondisi selama perjalanan.
Bagi Teguh, jarak ratusan kilometer bukan alasan untuk mengurungkan niat. Keinginan bertemu tokoh yang dikaguminya justru menjadi penyemangat untuk terus menarik gerobak menuju Solo.
Setelah menempuh perjalanan selama 14 hari, keluarga itu akhirnya tiba di wilayah Gringsing, Kabupaten Batang, Senin (5/10/2026). Mereka kemudian beristirahat di bawah fly over.
Teguh mengaku lega setelah berhasil melewati kawasan Alas Roban yang dikenal memiliki jalur menanjak.“Saya lega setelah melewati Alas Roban karena setelahnya tidak ada jalan tanjakan lagi,” tuturnya.
Perjalanan Teguh sekeluarga masih menyisakan jarak menuju Solo. Namun, satu hal telah mereka buktikan: keterbatasan ekonomi tidak serta-merta memadamkan sebuah keinginan yang sudah lama disimpan.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com