METROPEKALONGAN.COM, Batang– Terik matahari, debu jalanan hingga tanjakan dan turunan tajam di Pantura tak mampu memadamkan semangat Teguh, 35 tahun. Dengan kedua tangannya, pria asal Klampok, Banjarnegara, itu terus menarik gerobak dari Depok menuju Solo demi satu cita cita: bertemu mantan Presiden Joko Widodo.
Perjalanan ratusan kilometer tersebut tidak ditempuh Teguh seorang diri. Sang istri, Yuliati, dan anak semata wayangnya, Rajul, ikut menemani.
Mereka memilih berjalan kaki dengan gerobak sebagai satu satunya kendaraan sekaligus tempat membawa barang dan beristirahat.
Teguh bukan pejabat, tokoh politik maupun orang dengan kehidupan serba berkecukupan. Sehari hari, ia bertahan hidup sebagai pemulung di Kota Depok, Jawa Barat.
Ia merantau dari kampung halaman dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi keterbatasan pendidikan membuat langkahnya mencari pekerjaan formal tidak mudah.
Dari berbagai cerita tentang Joko Widodo yang didengarnya, kekaguman Teguh perlahan tumbuh menjadi keinginan untuk bertemu langsung.
Keinginan itu akhirnya berubah menjadi tekad yang menurutnya harus diwujudkan, meski tidak memiliki cukup uang untuk perjalanan.
Baca Juga: 14 Hari Dorong Gerobak, Keluarga Pemulung Tembus Alas Roban, Demi Jokowi
Baca Juga: Demi Bertemu Jokowi, Keluarga Pemulung Rela Dorong Gerobak
Yuliati sempat mencoba membujuk suaminya agar mengurungkan niat tersebut. Ia sadar, perjalanan menuju Solo bukan perkara mudah, apalagi kondisi ekonomi keluarga yang pas pasan. Namun, kuatnya tekad Teguh akhirnya membuat sang istri luluh.
Rajul, anak mereka yang berusia 13 tahun dan sudah tidak bersekolah, turut diajak dalam perjalanan tersebut.
Pada 21 September 2026, perjalanan dimulai. Teguh menarik gerobak, sedangkan Yuliati dan Rajul berada di dalamnya. Bekal yang dibawa pun sangat sederhana, hanya pakaian, alas tidur, roda cadangan dan sejumlah peralatan bengkel untuk mengantisipasi jika gerobak mengalami kerusakan.
Di sisi dan bagian belakang gerobak, Teguh memasang tulisan besar “Depok ke Solo Jalan Kaki”. Tulisan tersebut menjadi penanda tujuan perjalanan sekaligus memberi tahu orang-orang yang mereka temui di sepanjang jalan.
Baca Juga: 10,9 Juta Penumpang Pilih Kereta, Minat Naik KAI Meningkat
Baca Juga: Ini Alasan Festival Literasi Kini di Halaman Dinarpus Kota Pekalongan
Tak disangka, perjalanan itu mempertemukan mereka dengan banyak orang baik. Ada yang memberikan makanan, ada pula yang memberi uang untuk membantu kebutuhan selama perjalanan.
Hari demi hari dilalui dengan berjalan kaki. Ketika tubuh mulai lelah, Teguh memilih berhenti dan beristirahat.
Pada malam hari, SPBU menjadi salah satu tempat yang mereka tuju untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Memasuki Kabupaten Batang, tantangan perjalanan terasa semakin berat. Bukan hanya panas dan debu Pantura, tetapi juga kontur jalan yang dipenuhi tanjakan dan turunan.
Alas Roban menjadi salah satu titik paling menguras tenaga. Setiap kali menghadapi tanjakan, Yuliati dan Rajul harus turun dari gerobak. Keduanya ikut mendorong dari belakang agar gerobak bisa melewati tanjakan.
Begitu jalan kembali datar, mereka naik ke gerobak dan perjalanan dilanjutkan.
Baca Juga: Festival Literasi Pekalongan Ajak Warga Cerdas Saring Informasi
Baca Juga: Pemerintah Daerah Apresiasi TNI yang Selalu Sigap Membantu
Senin (5/10/2026), setelah 14 hari berjalan, Teguh sekeluarga akhirnya sampai di wilayah Gringsing, Kabupaten Batang. Mereka berhenti di bawah fly over untuk memulihkan tenaga.
Meski sudah menempuh perjalanan panjang, wajah Teguh masih menunjukkan semangat. Baginya, kesehatan dan kekuatan menjadi modal utama untuk terus melangkah.
“Saya tetap semangat. Saya dan keluarga diberi kesehatan dan kekuatan,” ujar Teguh saat beristirahat di Gringsing.
Teguh mengaku perjalanan dari Depok hingga Batang berjalan aman dan lancar. Namun, ia menyebut jalur di Kabupaten Batang menjadi bagian paling berat karena banyak tanjakan dan turunan.
“Saya lega setelah melewati Alas Roban karena sudah tidak ada tanjakan dan turunan tajam lagi,” kata Teguh dengan logat ngapak.
Berdasarkan peta yang dipelajarinya sebelum berangkat, Teguh memperkirakan Alas Roban menjadi titik tengah perjalanan. Artinya, setelah melewati kawasan tersebut, perjalanan menuju Solo tinggal sekitar separuh lagi.
Tidak ada target waktu yang dipasang Teguh untuk tiba di Solo. Ia memilih berjalan sesuai kemampuan tubuh. Jika lelah, mereka berhenti. Jika kondisi memungkinkan, perjalanan dilanjutkan.
Yang terpenting baginya adalah sampai di Solo, mewujudkan keinginannya bertemu Jokowi, kemudian kembali lagi ke Depok.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com