METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Jauh sebelum internet dan media sosial ikut membentuk citra sebuah kota, Pekalongan sudah dikenal sebagai Kota Batik.
Identitas itu tumbuh melalui tradisi membatik yang diwariskan lintas generasi hingga dikenal luas di berbagai daerah dan mancanegara.
Namun, di dunia maya, Pekalongan pernah mendapatkan julukan yang jauh berbeda.
Di kalangan gamer era 2010-an, kota di pesisir utara Jawa Tengah ini sempat dikaitkan dengan sebutan “Kota Cheater”. Sebutan tersebut bukan muncul karena seluruh warga Pekalongan bermain curang, melainkan berkaitan dengan popularitas sebuah komunitas di dunia game bernama Pekalongan Community.
Nama Pekalongan Community pernah cukup dikenal di kalangan pemain game online karena aktivitasnya menyediakan berbagai program cheat untuk sejumlah permainan populer.
Baca Juga: Mengenal Pindang Tetel Pekalongan, Sejarah, Rasa, dan Tempat Makannya
Baca Juga: Apes! Bukan Cuma Muatan, Tas Sopir Juga Hilang di Alas Roban
Pada masa ketika game PC seperti Point Blank, Lost Saga dan CrossFire begitu digandrungi, nama komunitas tersebut ikut beredar di forum-forum dan komunitas gamer.
Program yang ditawarkan diklaim dapat memberikan berbagai kemudahan bagi pemain. Sebagian di antaranya bahkan disebut diperbarui mengikuti perubahan sistem keamanan permainan.
Karena menggunakan nama “Pekalongan”, identitas komunitas itu kemudian ikut melekat pada nama daerahnya. Dari sinilah julukan “Kota Cheater” berkembang di kalangan netizen dan komunitas game.
Fenomena tersebut semakin kuat ketika tren game online berkembang ke perangkat mobile. Nama Pekalongan Community kembali dikaitkan dengan berbagai permainan yang populer di kalangan gamer.
Sejumlah nama game seperti PUBG Mobile, Free Fire, Mobile Legends, Arena of Valor, Rules of Survival hingga beberapa game lainnya pernah disebut dalam pembahasan komunitas cheat di internet.
Baca Juga: Hindari Rem Panas di Jalan Lingkar, Truk Malah Masuk Jurang
Baca Juga: Rem Blong, Truk Muat 20 Ton Oli Masuk Jurang Alas Roban
Namun, perlu digarisbawahi, keberadaan komunitas atau pembuat cheat tidak berarti masyarakat Pekalongan secara keseluruhan terlibat dalam aktivitas tersebut.
Julukan “Kota Cheater” lebih tepat dipahami sebagai fenomena reputasi digital yang terbentuk karena penggunaan nama Pekalongan oleh komunitas game tertentu.
Di dunia maya, sebuah nama bisa menyebar jauh lebih cepat dibandingkan fakta mengenai asal-usulnya. Ketika nama kota digunakan sebagai identitas sebuah komunitas, pengguna internet yang tidak mengenal kondisi sebenarnya bisa dengan mudah menghubungkan keduanya.
Padahal, Pekalongan memiliki identitas yang jauh lebih panjang daripada sejarah komunitas game tersebut.
Batik telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pekalongan selama ratusan tahun. Industri batik berkembang bersama perdagangan, kreativitas perajin dan budaya masyarakat pesisir.
Identitas itu pula yang kemudian membuat Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik.
Kontras inilah yang menarik. Di satu sisi, Pekalongan memiliki warisan batik yang telah mengakar lintas generasi. Di sisi lain, dunia maya pernah memperkenalkan kota ini melalui julukan yang sama sekali berbeda.
Baca Juga: Mahasiswa hingga Pembatik Berebut Juara Ngerensi Batik
Baca Juga: Aaf Dorong Warga Dukung Bulan Dana PMI, Target Rp700 Juta
Bagi sebagian warga, sebutan “Kota Cheater” tentu tidak selalu menyenangkan. Kata cheater sendiri memiliki konotasi negatif karena merujuk pada pemain yang menggunakan cara tidak fair untuk mendapatkan keuntungan dalam permainan.
Terlebih, sebuah julukan yang muncul di internet mudah berubah menjadi generalisasi. Padahal, gamer yang menggunakan cheat hanyalah bagian kecil dari masyarakat dan tidak dapat dijadikan gambaran mengenai seluruh warga Pekalongan.
Seiring berubahnya tren permainan dari PC menuju game mobile dan berkembangnya sistem keamanan game, gaung komunitas cheat yang dahulu ramai juga perlahan meredup.
Meski begitu, jejaknya masih tersimpan dalam ingatan para gamer generasi 2010-an. Bagi mereka yang pernah aktif di forum game pada masa tersebut, nama Pekalongan Community menjadi salah satu cerita lama yang pernah membuat nama Pekalongan ikut dikenal di dunia game.
Kini, ketika orang menyebut Pekalongan, identitas yang lebih kuat tetaplah batik, kuliner khas, budaya pesisir dan kreativitas masyarakatnya.
Julukan “Kota Cheater” pada akhirnya lebih menarik ditempatkan sebagai bagian dari sejarah kecil internet Indonesia. Sebuah cerita tentang bagaimana nama sebuah komunitas game bisa membuat nama kota ikut berkeliling di dunia maya.
Baca Juga: Mengenal Garang Asem Khas Pekalongan yang Legendaris
Baca Juga: Polres Pemalang Tepis Narasi Liar Kasus Pelajar SD
MetroPekalongan.com melihat fenomena tersebut sebagai sisi lain dari perjalanan identitas Pekalongan. Kota ini memiliki banyak cerita untuk dikenali, dan kisah “Kota Cheater” hanyalah salah satu fragmen dari perjalanan panjang kota yang lebih dahulu dikenal sebagai Kota Batik.
Jadi, jika hari ini Anda mendengar Pekalongan disebut sebagai Kota Cheater, jangan buru-buru menganggap seluruh warganya demikian.
Ada sejarah internet di balik julukan tersebut. Tetapi jauh sebelum julukan itu muncul, Pekalongan telah memiliki nama besar yang dibangun selama ratusan tahun: Kota Batik.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com