METROPEKALONGAN.COM, Jakarta – Kericuhan antara puluhan pekerja proyek dan petugas Satpol PP DKI Jakarta di kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sempat viral di media sosial.
Namun, isu yang menyebut pekerja ngamuk karena penjual nasi bungkus langganan mereka ditertibkan ternyata bukan pemicu utama insiden tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 8 Oktober 2026, siang itu berlangsung ketika petugas gabungan menggelar Operasi Cabut Pentil (OCP). Petugas menertibkan sepeda motor milik para pekerja proyek yang kedapatan parkir liar di trotoar maupun bahu jalan di sekitar lokasi proyek.
Ketegangan kemudian meningkat ketika para pekerja memprotes tindakan petugas. Aksi saling dorong pun terjadi hingga videonya menyebar luas di media sosial X atau Twitter.
Di tengah viralnya video tersebut, muncul narasi bahwa para pekerja melawan karena Satpol PP menertibkan penjual nasi bungkus yang sedang melayani makan siang.
Narasi itu kemudian berkembang menjadi cerita bahwa para pekerja emosi karena sedang lapar dan kehilangan tempat makan murah yang biasa mereka datangi.
Baca Juga: Penumpang Diajak Pilih Kursi Kereta Eksekutif Ternyaman, Ini Caranya
Baca Juga: Tiket Kereta Murah KAI Mulai Rp35 Ribu, Ini Caranya
Narasi tersebut sontak memancing simpati publik. Banyak netizen menilai penertiban pedagang makanan pada jam makan siang merupakan tindakan yang kurang tepat, terlebih para pekerja proyek membutuhkan tempat makan yang terjangkau di sekitar lokasi kerja.
Namun, fakta mengenai pemicu kericuhan menunjukkan persoalan awalnya berkaitan dengan penertiban parkir liar. Sepeda motor para pekerja menjadi sasaran Operasi Cabut Pentil karena diparkir di area yang mengganggu fungsi trotoar maupun bahu jalan.
Meski demikian, cara dan momentum penertiban tetap menjadi sorotan. Operasi berlangsung saat jam istirahat siang, ketika para pekerja proyek tengah beraktivitas dan bersiap makan setelah bekerja.
Perbedaan antara fakta di lapangan dan narasi yang beredar di media sosial membuat insiden Bulungan semakin ramai diperbincangkan. Video pendek yang memperlihatkan aksi protes pekerja membuat konteks awal kejadian mudah bergeser ketika dibagikan tanpa informasi lengkap.
Baca Juga: 1.100 Orang Kompak Membaca di Festival Literasi Pekalongan
Baca Juga: Angkutan Barang KAI Daop 4 Semarang Tumbuh 21,66 Persen
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa video viral tidak selalu menggambarkan keseluruhan cerita. Narasi yang menyertainya perlu diperiksa kembali agar publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya dari potongan kejadian yang beredar di media sosial.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com