METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Angka penurunan muka tanah di Kota Pekalongan kembali mengundang perhatian. Sejak Maret 2020 hingga Oktober 2026, permukaan tanah di kawasan Stadion Hoegeng tercatat telah turun sekitar 33 sentimeter.
Yang membuat kondisi ini semakin mengkhawatirkan, penurunan tanah masih berlangsung hingga sekarang. Laju penurunannya diperkirakan mencapai sekitar 5–6 sentimeter setiap tahun, sehingga persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan serius bagi Kota Pekalongan dalam menghadapi perubahan iklim.
JF Perencana Muda Bapperida Kota Pekalongan Dyah Wahyuningrum mengatakan, penurunan muka tanah dipengaruhi sejumlah faktor. Kondisi tanah yang relatif muda dan lunak menjadi salah satu penyebab alamiah.
Selain itu, beban bangunan sipil dan aktivitas pengambilan air tanah juga ikut memberikan tekanan terhadap kondisi tanah.
Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat persoalan penurunan muka tanah perlu ditangani secara berkelanjutan.
Baca Juga: Warga Pekalongan Diingatkan Waspada Curat, Curas dan Curanmor
Baca Juga: Viral Pekerja Proyek Ngamuk ke Satpol PP, Ini Faktanya
“Penyebab utama penurunan tanah di Kota Pekalongan ada tiga, yakni kondisi alamiah tanah yang masih muda dan lunak, pembebanan bangunan sipil, serta pengambilan air tanah,” jelas Dyah saat dikonfirmasi usai observasi lapangan Program Sekolah Iklim di Stadion Hoegeng, Jumat (9/10/2026).
Untuk mengetahui perkembangan kondisi tanah, pemerintah melakukan pemantauan melalui enam titik patok tetap yang tersebar di empat kecamatan Kota Pekalongan.
Data dari titik-titik tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perubahan muka tanah dari waktu ke waktu.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan air tanah. Pembatasan pengambilan air tanah dinilai perlu dibarengi dengan penyediaan sumber air alternatif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa memberikan tekanan berlebih terhadap lingkungan.
Bapperida Kota Pekalongan kini juga menyusun konsep Integrated Water Resources Management (IWRM) atau pengelolaan sumber daya air terpadu.
Salah satu gagasan yang dikaji yakni pemanfaatan air sungai sebagai sumber air baku alternatif dengan tetap memperhatikan kualitas air dan potensi pencemaran.
Baca Juga: Penumpang Diajak Pilih Kursi Kereta Eksekutif Ternyaman, Ini Caranya
Baca Juga: Tiket Kereta Murah KAI Mulai Rp35 Ribu, Ini Caranya
Di tengah kondisi tersebut, generasi muda dinilai memiliki peran penting. Mereka tidak hanya diharapkan memahami ancaman perubahan iklim, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan baru untuk menghemat air dan mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.
“Kami sangat membutuhkan pemikiran-pemikiran out of the box dari anak muda, terutama inovasi untuk efektivitas penggunaan air dan upaya membatasi pemanfaatan air tanah secara berlebihan,” ungkap Dyah.
Kesadaran itu coba dibangun melalui Program Sekolah Iklim yang melibatkan 30 pelajar dari 10 SMA, SMK dan sekolah sederajat di Kota Pekalongan.
Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai perubahan iklim, pemetaan risiko lingkungan hingga penyusunan aksi adaptasi.
Para pelajar tidak hanya duduk di ruang kelas. Mereka diajak melihat langsung sejumlah persoalan lingkungan di lapangan, mulai dari penurunan tanah di Stadion Hoegeng, pengelolaan sampah di TPS-3R Padukuhan Kraton hingga ekosistem mangrove di Pekalongan Mangrove Park.
Baca Juga: Truk Overload Kucing-Kucingan dengan Petugas di Batang
Baca Juga: Dump Truk Overload Terguling di Batang, Sopir Hanya Punya SIM C
Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia Eva S. Nisa mengatakan, pendekatan lapangan diperlukan agar pelajar memahami bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Melalui Sekolah Iklim, kami ingin anak-anak muda lebih mengenali lingkungannya, memahami bahwa perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan banjir, tetapi juga perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi,” tutur Eva.
Menurutnya, pemahaman tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan. Para pelajar didorong membawa pulang gagasan dan kebiasaan baru, seperti menghemat air, mengurangi sampah, menjaga lingkungan serta mengajak keluarga dan masyarakat melakukan aksi adaptasi.
Salah satu peserta, Muhammad Agata Azmi dari SMK Negeri 4 Kota Pekalongan, mengaku mendapat pengalaman berbeda selama mengikuti program tersebut.
Kunjungan ke kawasan mangrove menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik baginya karena bisa melihat langsung ekosistem yang sebelumnya hanya dipelajari dari materi.
“Saya sangat senang karena kegiatan ini menambah wawasan saya, terutama tentang tumbuhan mangrove yang dapat tumbuh di kawasan perairan. Secara keseluruhan, kegiatan ini sangat sesuai dengan ekspektasi saya karena banyak tumbuhan yang bisa saya kenali dan pelajari secara langsung,” ujarnya.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com