METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Sujari tak bisa menyembunyikan kegelisahannya ketika membayangkan biaya yang harus disiapkan agar istrinya, Khamidah, bisa pulang dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Di tengah keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab mengurus dua anak, ia hanya berharap ada jalan keluar agar istrinya yang tengah sakit bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Warga Kelurahan Buaran, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, itu mengaku tidak sanggup menanggung biaya denda dan pemulangan yang disebut mencapai Rp60 juta hingga Rp65 juta. Bagi Sujari, nominal tersebut jauh dari kemampuan ekonominya saat ini.
Selama Khamidah bekerja di luar negeri, Sujari mengaku tidak bekerja karena harus mengurus kedua anak mereka. Penghasilannya yang tidak menentu membuatnya kesulitan membayangkan bagaimana bisa mengumpulkan uang puluhan juta rupiah dalam waktu singkat.
“Bagaimana saya bisa cari uang sebesar itu? Orang saya tidak mampu. Pekerjaan saja tidak sepenuhnya, satu minggu dapat uang,” keluhnya, Selasa (13/10/2026)
Baca Juga: KAI Perbaiki Rel Madukoro Semarang, Jalan Buka Tutup
Baca Juga: Biaya Pulang Rp65 Juta, Khamidah PMI Kota Pekalongan Butuh Bantuan
Dengan suara penuh harap, Sujari meminta perhatian pemerintah dan berbagai pihak agar membantu proses pemulangan istrinya.
Ia berharap persoalan yang dihadapi keluarganya tidak berhenti pada pendataan dan koordinasi, tetapi berlanjut hingga ada solusi nyata.
“Saya minta tolong kepada semua instansi, dinas, baik pemerintah maupun swasta atau wartawan, untuk bisa menjemput istri saya. Tolong saya, orang yang tidak mampu. Pemerintah agar mendengarkan suara hati saya,” ujarnya.
Kekhawatiran Sujari bertambah karena ia menyebut tanggal 25 menjadi waktu yang perlu diantisipasi terkait kemungkinan denda dari pihak tempat istrinya bekerja.
Namun, ia mengaku belum mengetahui besaran denda maupun rincian kewajiban yang harus dibayarkan. Informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Khamidah diketahui baru sekitar tiga bulan bekerja di Dubai sebelum kondisi kesehatannya menurun dan meminta dipulangkan ke Indonesia.
Keinginannya kembali ke Tanah Air hingga kini masih menghadapi kendala biaya dan mekanisme administrasi.
Di tengah kesulitan itu, Sujari mulai mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Anggota DPR RI daerah pemilihan Jawa Tengah X, Rizal Bawazier, dikabarkan siap membantu mengawal penanganan kasus tersebut. LBH Adhyaksa juga mendampingi keluarga untuk mengomunikasikan persoalan yang mereka hadapi.
Baca Juga: Pemkot Pekalongan Kawal Pemulangan Khamidah, PMI Sakit di Dubai
Baca Juga: ASN Kota Pekalongan Diingatkan Jaga Etika hingga Medsos
Pemerintah Kota Pekalongan bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan pihak kelurahan telah mendatangi rumah Sujari pada Senin (12/10/2026).
Kunjungan itu dilakukan untuk menggali kronologi keberangkatan Khamidah, kondisi kesehatannya, dan hambatan pemulangan.
Direktur LBH Adhyaksa, Didik Pramono, mengatakan pihaknya mendapat kabar bahwa laporan mengenai kasus tersebut mulai ditindaklanjuti.
Komunikasi dengan pihak perwakilan Indonesia dan instansi terkait diharapkan membantu memperjelas mekanisme pemulangan serta persoalan biaya.
Sujari pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian kepada keluarganya.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Rizal Bawazier, pengacara Didik Pramono, Pemerintah Kota Pekalongan, Bhabinkamtibmas Polsek Selatan, awak media, dan KP2MI yang sudah membantu saya,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Di balik ucapan terima kasih itu, masih ada harapan besar yang terus ia pegang. Sujari ingin istrinya segera pulang dan kembali berkumpul bersama keluarga setelah terpisah selama bekerja di luar negeri.
“Semoga istri saya secepatnya bisa pulang ke Tanah Air dengan selamat,” ucapnya.
Kini, keluarga menanti kepastian dari pihak-pihak yang menangani kasus tersebut. Bagi Sujari dan kedua anaknya, kepulangan Khamidah bukan hanya soal perjalanan dari Dubai menuju Indonesia, melainkan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan bersama tanpa dibayangi ketidakpastian biaya yang belum sanggup mereka tanggung.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com