METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Ajang Pekan Olahraga Daerah (Popda) Tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng) 2024 menyisakan kekecewaan bagi keluarga atlet muda berbakat, Fareno Khiar Aghadhira.
Pasalnya, meski sudah meraih juara 1 cabang olahraga badminton di Popda Kota Pekalongan, namun tak bisa maju ke Popda tingkat Provinsi Jateng.
Reno -sapaan akrabnya- merupakan siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 2 Bendan, Kota Pekalongan.
Dirinya gagal mewakili Kota Pekalongan di tingkat Provinsi Jateng setelah posisinya digantikan oleh atlet juara 2 Popda tingkat Kota Pekalongan.
Keputusan ini memicu pertanyaan dan kecurigaan dari pihak keluarga Reno.
Ayah Reno, Yudi, menduga adanya manipulasi dan kejanggalan dalam sistem pemilihan atlet yang diberangkatkan ke tingkat Provinsi Jateng.
Menurut Yudi, keputusan tersebut tidak sesuai dengan tradisi yang selama ini berjalan, di mana juara 1 biasanya otomatis maju ke tingkat yang lebih tinggi.
Saat dikonfirmasi, Sonny, official Popda cabang olahraga badminton Kota Pekalongan, berdalih, perubahan jadwal Popda tingkat Provinsi Jateng memengaruhi proses seleksi.
“Popda Provinsi Jateng tahun 2023 yang seharusnya digelar Juni diundur ke November, karena penyesuaian jadwal kabupaten/kota. Akhirnya, Provinsi Jateng memutuskan untuk mengambil juara Popda 2022,” kilah Sonny.
Namun, Sonny juga menyebutkan bahwa juara Popda tingkat kota yang diselenggarakan akhir Oktober hingga awal November 2024, baru akan diberangkatkan ke Popda Provinsi Jateng tahun 2025.
Hal ini memicu kebingungan karena Reno yang sudah akan lulus SD pada tahun tersebut.
Yudi mempertanyakan dasar keputusan tersebut.
“Biasanya yang maju adalah juara 1. Kenapa sekarang juara 2 yang maju? Kalau memang acuannya juara tahun sebelumnya, kenapa yang diberangkatkan bukan juara tahun lalu?” ujar Yudi.
Yudi juga menyoroti kurangnya transparansi dalam pergantian atlet. Menurutnya, tidak ada informasi resmi yang disampaikan oleh pihak penyelenggara kepada keluarga maupun Reno.
Hal ini membuat Reno kehilangan semangat dan merasa malu di hadapan teman-temannya.
“Anak saya jadi pendiam sejak mendengar kabar ini. Padahal, dia sudah berlatih keras dan mengatur pola makan demi persiapan. Saya dan istri hanya bisa menyemangati agar dia tidak putus asa,” tambah Yudi.
Reno sendiri mengaku sedih dan malu atas kejadian ini.
“Sedih karena sudah juara, tapi tidak bisa maju ke tingkat Provinsi Jateng. Saya juga jadi malu di sekolah, karena sudah dikenal sebagai juara yang akan maju ke tingkat Provinsi Jateng,” ujar Reno.
Yudi berharap ada evaluasi terhadap sistem seleksi Popda, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Menurutnya, keputusan ini tidak hanya merugikan atlet, tetapi juga mencoreng semangat olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas.
Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan Sabaryo Pramono hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan terkait masalah ini.
Keluarga Reno berharap ada kejelasan dan langkah konkret dari pihak terkait untuk mengatasi persoalan ini. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla