METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Official Pekan Olah Raga Pelajar Daerah (Popda) Badminton Kota Pekalongan dan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan, beri klarifikasi.
Tidak memberangkatkan juara I Popda Kota Pekalongan dan memberangkatkan juara kedua pada Popda Provinsi Jateng karena waktu pendaftaran Popda Jateng yang mepet. Karena itu, melakukan seleksi terbatas.
Sony, official Cabang Olahraga (Cabor) Badminton Popda Kota Pekalongan beralasan, seleksi terbatas itu digelar pada 20 September 2024, jauh sebelum pertandingan Popda Kota Pekalongan yang berlangsung pada 25-27 Oktober 2024. Seleksi ini dilakukan karena pendaftaran untuk Popda Provinsi Jateng sudah ditutup pada 19 Oktober 2024.
“Kami hanya memanggil empat atlet putra dan lima atlet putri untuk seleksi terbatas. Hasil seleksi inilah yang menentukan siapa yang diberangkatkan ke Popda Provinsi Jateng 2024,” kata Sony.
Sony menambahkan, keputusan tersebut diambil berdasarkan keterbatasan waktu dan dana yang tersedia. Seleksi ini bertujuan memastikan atlet yang dipilih sudah siap secara teknis dan fisik.
Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan, Endro Triyatmo, menambahkan, kebijakan seleksi terbatas ini.
Menurutnya, keputusan ini diambil karena jadwal pendaftaran Popda Provinsi Jateng yang tidak sejalan dengan jadwal Popda tingkat Kota Pekalongan.
“Juara Popda Kota Pekalongan 2024 akan dipersiapkan untuk Popda Jateng 2025. Namun, kami masih menunggu petunjuk teknis lebih lanjut dari pihak Provinsi Jateng,” jelas Endro.
Persoalan ini menjadi catatan penting bagi Dinparbudpora dan pihak terkait agar kebijakan olahraga yang berkeadilan dan transparan dapat terwujud. Ini demi menjaga semangat dan psikologis atlet muda.
Perlu diketahui, Fareno Khiar Aghadhira atau Reno, siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 2 Bendan, Kota Pekalongan, adalah juara I Popda Kota Pekalongan. Namun tak diberangkatkan ke Popda Tingkat Provinsi Jateng.
Yudi, ayah Reno pun menyayangkan keputusan ini. Ia mempertanyakan transparansi proses seleksi terbatas yang disebut-sebut hanya melibatkan juara Popda Kota Pekalongan 2023 dan juara Wali Kota Cup 2023.
“Anak saya sekarang kelas 6 SD. Tahun depan dia sudah SMP. Kalau Popda 2025 digelar setelah kelulusan, bagaimana nasibnya? Sistem ini harus lebih jelas dan transparan agar tidak ada lagi anak-anak yang merasa dirugikan,” tegas Yudi, Minggu 8 Desemmmbder 2024.
Menurut Yudi, Reno tidak pernah diundang untuk mengikuti seleksi terbatas tersebut, sehingga membuat anaknya kehilangan kesempatan untuk bersaing di tingkat provinsi.
“Dia sudah berlatih keras, tapi merasa malu dihadapan teman-temannya karena tidak bisa maju ke provinsi meskipun menjadi juara pertama,” imbuhnya.
Meski demikian, Yudi berharap agar kedepannya sistem seleksi olahraga di Kota Pekalongan dapat diperbaiki.
Ia menyarankan agar Popda tingkat kota digelar lebih awal, sehingga pemenangnya memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri di tingkat provinsi.
“Popda adalah olahraga berjenjang. Seharusnya yang mewakili adalah juara di tingkat kota, bukan dari hasil seleksi terbatas dengan kriteria yang tidak jelas,” tutup Yudi. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla