METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Kota Pekalongan kembali mencatat sejarah penting dalam dunia pencak silat.
Empat atlet Tapak Suci asal Kazakhstan yang baru saja menyabet medali di Kejuaraan Dunia Tapak Suci 2025 di Malang, kini melakukan latih tanding atau sparing bersama atlet IPSI Kota Pekalongan.
Tepatnya di halaman Pemkot Pekalongan, Senin 4 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi momen langka yang jarang dimiliki daerah lain.
Para pesilat internasional ini bukan atlet biasa. Mereka adalah timnas pencak silat Kazakhstan dan Uzbekistan yang sukses mengharumkan nama negaranya di kejuaraan dunia, dengan torehan 4 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu dari enam atlet.
Ketua IPSI Kota Pekalongan, Fauzi Umar Lahji, yang juga menjabat sebagai manajer tim Kazakhstan dan Uzbekistan selama kompetisi internasional di Malang.
Fauzi mengungkapkan, kedatangan mereka ke Pekalongan merupakan bentuk penghargaan dan kelanjutan hubungan erat yang sudah terjalin.
“Ini kesempatan emas. Tidak semua kota bisa menghadirkan atlet timnas negara lain untuk melatih tanding. Mereka ke sini atas undangan pelatih mereka yang juga orang Pekalongan,” ungkap Fauzi bangga.
Latih tanding ini melibatkan Tim IPSI Kota Pekalongan, yang merupakan gabungan dari berbagai perguruan dan organisasi pencak silat di Kota Pekalongan.
Para atletnya saat ini tengah menjalani pemusatan latihan sebagai persiapan menghadapi Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Provinsi Jawa Tengah dalam waktu dekat.
Latihan bersama dengan pesilat internasional menjadi bekal berharga sekaligus motivasi untuk meningkatkan kualitas tanding mereka.
Pelatih yang mendampingi langsung latihan adalah M Riski Adi Wijaya, putra daerah Kota Pekalongan yang sebelumnya ditunjuk oleh PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa) untuk menjadi pelatih tim silat di Kazakhstan selama tiga bulan penuh pada akhir 2024.
Penunjukannya merupakan rekomendasi langsung dari Prabowo Subianto selaku Presiden PERSILAT.
Dalam latihan sore itu, keempat pesilat Kazakhstan yang ikut sparing adalah Aibek Nurlybekov, Arsen Ermekkali, Aray Amanbay, dan Aknur-Aiym Ismurzina.
Mereka bertukar teknik dan berlatih bersama para pesilat muda Pekalongan yang tergabung dalam Pelatda Popda Jateng.
Pelatih M Riski Adi Wijaya mengungkapkan rasa syukurnya atas momen langka ini. Ia menyebutkan, latihan bersama ini bukan hanya tentang teknik bela diri, tetapi pertukaran budaya, semangat, dan nilai-nilai silat.
“Alhamdulillah, hari ini kami bisa latih tanding dengan empat atlet Kazakhstan yang baru saja pulang dari kejuaraan dunia. Ini kesempatan yang luar biasa, apalagi bisa mempertemukan mereka dengan atlet lokal yang tengah persiapan kejuaraan provinsi,” ujar Rizki.
Rizki menambahkan, para pesilat Kazakhstan sangat antusias belajar silat karena merasa menemukan filosofi bela diri yang berbeda.
“Mereka bilang pencak silat itu beda dengan bela diri lain yang pernah mereka pelajari. Tidak agresif, penuh hormat, dan sangat Islami. Itu yang membuat mereka jatuh hati. Bahkan banyak dari mereka dulunya atlet Taekwondo, tapi kini fokus ke silat,” jelasnya.
Salah satu pesilat putri Kazakhstan, Aibek Nurlybekov, membenarkan hal tersebut. Ia mengaku awalnya adalah atlet Taekwondo, namun sejak mengenal pencak silat, dirinya langsung jatuh hati dan memutuskan beralih.
“Saya dulu adalah atlet Taekwondo. Tapi saat pertama kali mengenal pencak silat, saya langsung jatuh cinta. Silat itu bukan hanya bela diri, tapi mengajarkan etika dan nilai-nilai hormat yang tinggi. Kami bahkan tidak boleh memukul kepala, jadi jauh lebih aman, dan tetap menjaga sportifitas,” kata Aibek dengan penuh keyakinan.
Kini, di Provinsi Atyrau, Kazakhstan, sudah ada lebih dari 200 pesilat Tapak Suci yang berlatih secara aktif.
Kehadiran mereka di Pekalongan, bahkan menjadi "tamu kehormatan" di kota batik ini, menegaskan, pencak silat bukan lagi sekadar olahraga lokal, tetapi telah menjadi duta budaya dan persahabatan antarbangsa.
Meski singkat, momen ini membawa semangat luar biasa bagi atlet muda Pekalongan, sekaligus meneguhkan posisi Kota Pekalongan di peta pencak silat internasional.
Silat bukan hanya tentang tanding, tapi juga tentang nilai, persaudaraan, dan warisan bangsa.(han/ida)
Editor : Ida Nor Layla