Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Megengan, Tradisi Sakral yang Mulai Bergeser di Kalangan Anak Muda

Lutfi Hanafi • Selasa, 25 Februari 2025 | 03:45 WIB
ZIARAH - Umat muslim di Jawa, menggelar ritual Megengan menjelang bulan puasa, salah satunya dengan ziarah ke makam orang tua.
ZIARAH - Umat muslim di Jawa, menggelar ritual Megengan menjelang bulan puasa, salah satunya dengan ziarah ke makam orang tua.

METROPEKALONGAN.COM – Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa yang telah dilakukan secara turun-temurun menjelang bulan suci Ramadan.

Tradisi ini merupakan bentuk persiapan spiritual dan sosial dalam menyambut datangnya bulan puasa.

Megengan diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Demak sekitar tahun 1500 Masehi sebagai bagian dari dakwah Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa.

Secara umum, Megengan menjadi pengingat bagi umat Islam bahwa Ramadan akan segera tiba.

Biasanya, tradisi ini dilaksanakan pada hari terakhir bulan Sya'ban dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti nyekar atau ziarah ke makam leluhur untuk berdoa dan menabur bunga.

Selain itu, masyarakat juga menggelar kenduri atau selamatan dengan berdoa bersama serta berbagi makanan seperti kue apem kepada tetangga.

Ini sebagai simbol permohonan maaf dan rasa syukur.

Tidak hanya itu, pemuda masjid dan musala biasanya turut berpartisipasi dalam Megengan.

Yakni dengan melakukan kegiatan bersih-bersih tempat ibadah, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci karpet, hingga menata kembali perlengkapan masjid agar lebih nyaman digunakan saat bulan Ramadan tiba.

Namun, seiring perkembangan zaman, esensi dari tradisi Megengan mulai bergeser, terutama di kalangan generasi muda.

Pengaruh budaya global serta dominasi media sosial menyebabkan perubahan cara pandang terhadap tradisi ini.

Beberapa anak muda yang kurang memahami makna asli Megengan justru menjadikannya sebagai ajang perayaan dengan gaya hidup modern yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional.

Saat ini, tidak jarang ditemukan konten-konten di media sosial yang menampilkan perayaan Megengan dengan konsep yang salah kaprah.

Beberapa anak muda, bahkan mengartikan Megengan sebagai "pesta terakhir sebelum Ramadan" dengan mengadakan kegiatan yang berujung pada kemaksiatan.

Dari pesta pora, minum-minuman keras, hingga berbagai aktivitas yang jauh dari nilai-nilai keagamaan.

Fenomena ini tentu sangat mengkhawatirkan, karena dapat menghilangkan makna luhur dari Megengan yang sesungguhnya sebagai momen refleksi dan persiapan spiritual.

Peningkatan penggunaan media sosial juga menjadi faktor yang membuat partisipasi generasi muda dalam tradisi keagamaan semakin berkurang.

Karena lebih fokus pada aktivitas digital, daripada terlibat dalam acara budaya dan keagamaan.

Oleh karena itu, peran masyarakat, tokoh agama, dan pemangku kepentingan sangat penting dalam mengedukasi generasi muda mengenai arti dan nilai yang terkandung dalam tradisi Megengan.

Edukasi ini dapat dilakukan melalui berbagai media, termasuk platform digital, agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterima oleh generasi muda.

Dengan demikian, harapannya Megengan tetap lestari dengan esensi yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya Jawa, serta tidak disalahartikan sebagai ajang perayaan bebas sebelum Ramadan. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#masyarakat jawa #mushola #tradisi #bulan puasa #syakban #megengan #nyekar #kue apem #Kerajaan Demak #ziarah