BATANG, METROPEKALONGAN.COM-Terlahir tanpa kaki, Muhamad Hikmat, 30, tetap semangat sepanjang waktu untuk menjalani hidup.
Hikmat kecil hanya bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ngesot.
Suatu hari saat masih duduk di kelas 3 SD, ada sepupunya sedang bermain skateboard.
Dia mencobanya, kemudian orang disekitarnya bilang kalau skateboard lebih cocok dipakainya sehari-hari.
Akhirnya Hikmat selalu memakai skateboard hingga saat ini.
"Yang jelas jadi tidak kotor. Lebih menghemat energi, terus jadi lebih styling juga. Mobilitasnya juga lebih cepat, bentuknya juga ringkas," ujarnya pada Jawa Pos Radar Semarang.
Sebagai tunadaksa, Hikmat merasa lebih percaya diri dengan menggunakan skateboard. Ketimbang kursi roda.
Pertimbangan menggunakan skateboard karena bisa menjangkau berbagai tempat dengan mudah. Jika dengan kursi roda, perlu akses khusus, hingga perlu bantuan orang lain untuk menjangkau sesuatu. Seperti di tangga, tanjakan dan lainnya.
Pria asal Kampung Cicau, Desa Slawi, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi ini baru sadar dirinya berbeda saat kelas 2 SMP.
"Merasa berbeda, lho kok cuma saya saja yang seperti ini. Tapi itu hanya sebentar di masa remaja," ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, dirinya malah lebih merasa bersyukur. Hidup jadi lebih enjoy, banyak kemudahan yang diberikan Tuhan.
Ia merasa lebih beruntung dibandingkan penyandang disabilitas lain. Banyak yang lebih merasa kurang beruntung.
"Saya banyak mengalami kemudahan dalam menjalani kehidupan. Contoh saat masuk minimarket, pintu bisa terbuka sendiri. Tiap rest area saya punya toilet pribadi," guraunya.
Hikmat juga pernah kehilangan skateboardnya saat 2020. Waktu itu dia sedang salat Jumat di sebuah basemen di Jakarta.
Hikmat berpikir tidak akan ada orang yang tega mengambil skateboardnya. Namun saat keluar skateboardnya sudah hilang.
Ia pun keluar dengan ngesot kemudian naik kendaraan.
"Skateboard itu terbilang mahal. Sekitar Rp 1 juta belum termasuk modified. Seperti rodanya yang diperbesar," ujarnya.
Setelah lulus SMA, Hikmat mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan. Ia melamar lebih dari 50 perusahaan. Hasilnya ditolak, karena kondisi fisik.
Hikmat pun kemudian belajar organ tunggal, hingga menjadi pemain musik. Selanjutnya Hikmat kuliah sembari mengajar di suatu SLB tahun 2012.
Di situ dia mulai menekuni dunia pendidikan sembari melakukan pekerjaan tambah. Seperti jasa tensi, cek gula, kolesterol, hingga timbangan keliling.
Ia juga pernah jadi supir taksi online, supir rental mobil tahun 2014. Apapun dilakukan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Lulus kuliah, dia bisa bekerja di BPJS Kesehatan Jakarta sekitar satu tahun.
Saat itu dia menjalaninya sembari nyupir taksi online. 2018 dia mengikuti tes CPNS dan lolos.
Hikmat mendapatkan formasi di SLB Kabupaten Batang. 2019 dia mulai mengajar di Batang.
"Susah senangnya mengajar anak-anak tergantung kita menyikapinya. Mengajar SLB itu bukan didasarkan dengan kata sabar. Tapi lebih ke maklum. Karena kita sudah memaklumi anak-anak tersebut. Seperti meludahi saya, ada anak-anak bandel, lari-lari dan lainnya," tandasnya.
Ia merasa bersyukur. Walaupun tidak punya kaki dia masih punya tangan, otak untuk berfikir, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar.
Lebih ke muhasabah diri sambil memberikan motivasi kepada anak-anak didiknya dan orang gua siswa. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla