Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Wali Murid Korban Pelecehan Kecewa, Laporan Kepala SMAN 3 Kota Pekalongan Dinilai Tidak Sesuai Fakta

Lutfi Hanafi • Jumat, 11 Oktober 2024 | 19:51 WIB
SEKOLAH: Penampakan gedung sekolah SMAN 3 Kota Pekalongan, yang gurunya sedang bermasalah.
SEKOLAH: Penampakan gedung sekolah SMAN 3 Kota Pekalongan, yang gurunya sedang bermasalah.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Sejumlah wali murid korban dugaan pelecehan seksual di SMA Negeri 3 Kota Pekalongan menyatakan kekecewaannya.

Terutama terhadap laporan kepala sekolah yang dianggap tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Salah satu wali murid, Suhel mengungkapkan, dirinya pun saat ini sedang menyusun laporan resmi untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dusdikbud) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) untuk meluruskan kejadian yang sebenarnya.

Suhel menjelaskan, sebelumnya kepala sekolah telah membuat laporan ke pihak dinas, namun laporan tersebut dinilai sepihak dan mencatut nama pihak lain tanpa persetujuan.

“Banyak yang tidak sesuai fakta, meski ada beberapa yang benar. Kepala sekolah mengklaim selalu melibatkan orang tua, padahal sebenarnya tidak,” ujar Suhel pada Kamis 10 Oktober 2024.

Selain itu, kata Suhel, laporan polisi yang diajukan oleh empat wali murid sudah diterima dan proses hukumnya masih berjalan sesuai tuntutan para orang tua.

Hal ini juga mendapat dukungan dari alumni sekolah yang tergabung dalam Kastilo, organisasi alumni SMA Negeri 3 Kota Pekalongan.

Para wali murid juga menyayangkan tindakan kepala sekolah yang terus membela oknum guru terduga pelaku pelecehan di hadapan para siswa.

Meskipun dalam pertemuan dengan orang tua siswa, kepala sekolah mengakui adanya tindakan tidak pantas secara verbal dan non-verbal yang dilakukan oleh oknum guru tersebut.

“Kami menyayangkan upaya kepala sekolah yang terus mendoktrin siswa, bahwa oknum guru itu orang baik. Padahal tindakan pelecehan sudah jelas terjadi,” kata Suhel.

Salah satu wali siswa, Lutfiah, menyampaikan, ia dan para orang tua korban merasa diabaikan oleh pihak sekolah.

Menurutnya, pasca kejadian, pihak sekolah tidak pernah melibatkan para orang tua hingga akhirnya mereka baru diundang dalam pertemuan, setelah adanya upaya hukum dari salah satu keluarga korban.

“Kami baru pertama kali dipanggil untuk bertemu pihak sekolah. Sebelumnya, kami merasa diperlakukan seperti bola pingpong, tanpa perhatian serius dari sekolah,” kata Lutfiah.

Ia juga menyesalkan klaim kepala sekolah yang menyatakan bahwa sudah ada pertemuan sebelumnya antara korban, oknum guru, dan wali sidswa. Padahal kenyataannya pertemuan tersebut tidak pernah melibatkan orang tua korban.

Dalam pertemuan tersebut, kepala sekolah menyatakan bahwa pihak sekolah hanya memiliki kewenangan terbatas dan menyerahkan proses hukum lebih lanjut kepada dinas terkait.

Namun, Lutfiah menegaskan, sebagai orang tua korban, ia menginginkan oknum guru terduga pelaku pelecehan dikeluarkan dan diproses hukum.

“Kami ingin pelaku diproses hukum dan dikeluarkan. Karena jika hanya dipindah, kasihan korban lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, kepala SMA Negeri 3 Kota Pekalongan Yulianto Nurul Furqon menyampaikan pandangan berbeda.

Ia menyebutkan, dari 20 korban, hanya tiga yang mengalami dampak psikologis serius, sementara sisanya tidak.

“Saat ini korban sedang ditangani oleh tim psikolog dari Dinas Kesehatan Kota Pekalongan. Jika ada yang memperkarakan secara hukum, kami persilahkan agar masalah ini menjadi lebih jelas,” pungkasnya. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#kota pekalongan #SMAN 3 #jawa tengah #pelecehan #dinas pendidikan provinsi