METROPEKALONGAN.COM, Kendal - Tim pengabdian Universitas Selamat Sri (UNISS) Batang dan Kendal memperkenalkan program inovasi pengolahan limbah tongkol jagung menjadi donat tinggi serat.
Inovasi ini dalam upaya meningkatkan perekonomian desa sekaligus mengatasi permasalahan limbah pertanian.
Program inovasi ini dilaksanakan di Desa Jenarsari Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal.
Ini merupakan bagian dari inisiatif pemberdayaan masyarakat berbasis green economy.
Mahfud Nugroho, salah satu dosen dari Program Studi (Prodi) Manajemen UNISS Kendal, menyatakan, tujuan utama program ini adalah untuk memanfaatkan limbah jagung yang selama ini belum optimal.
“Limbah tongkol jagung biasanya hanya dibuang begitu saja atau dibakar. Padahal, dengan sedikit inovasi, limbah ini bisa diolah menjadi produk pangan yang bergizi dan bernilai ekonomi tinggi seperti donat tinggi serat,” katanya kepada METROPEKALONGAN.COM pada Senin 28 Oktober 2024.
Fitria Yuni Astuti, anggota tim dari Prodi Manajemen UNISS Kendal menambahkan, program ini mencakup berbagai pelatihan untuk kelompok tani di desa tersebut.
“Kami memberikan edukasi dan pelatihan, mulai dari proses pengolahan tongkol jagung menjadi tepung hingga cara membuat donat yang enak dan kaya serat. Selain itu, kami juga membimbing mereka dalam aspek pemasaran, termasuk strategi pemasaran digital,” jelasnya.
Sementara itu, Sufrotun Khasanah dari Prodi Teknik Industri UNISS Batang menjelaskan, pentingnya peralatan teknologi dalam proses produksi.
“Kami juga menyediakan mesin-mesin penggiling untuk membantu proses pengolahan agar lebih efisien. Teknologi ini menjadi solusi penting agar produksi bisa berkelanjutan dan skala usaha bisa lebih besar,” katanya.
Program pengabdian ini mendapat sambutan positif dari Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur, Taswadi.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Semoga ke depannya produk donat tinggi serat dari tongkol jagung ini bisa menjadi produk lokal yang menjadi identitas desa kami,” ungkapnya.
Dengan pendekatan community development dan partisipatif, program ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengolahan limbah dan nilai tambah ekonomi yang dapat dihasilkan.
Limbah yang biasanya dibuang, kini diubah menjadi produk pangan bernilai tinggi, sekaligus mendukung konsep “one village one product” yang diharapkan bisa menjadi identitas baru bagi desa tersebut. (web/han/ida)
Editor : Ida Nor Layla