METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – SD Negeri Podosugih 1 menjadi contoh nyata atas kepedulian terhadap lingkungan.
Tidak harus dimulai dari proyek besar, tapi melalui gerakan sederhana namun konsisten.
Sekolah membimbing siswanya melakukan pilah sampah.
Artinya turut ambil bagian dalam upaya menyelamatkan Kota Pekalongan dari krisis sampah.
Kepala SDN Podosugih 1, Resti Pramita, menjelaskan edukasi tentang pengelolaan sampah bukan hal baru di sekolahnya.
Namun, sejak Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan menetapkan status Masa Darurat Sampah, intensitas dan cakupan edukasi kepada pelajar kini ditingkatkan.
“Kami mengintegrasikan tema pengelolaan sampah dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Ini kami wujudkan melalui kegiatan di dalam dan luar kelas,” ujar Resti pada Rabu 16 April 2025.
Salah satu implementasinya, penyediaan tempat sampah terpilah di berbagai titik strategis di lingkungan sekolah.
Para siswa diajarkan membedakan jenis sampah—organik dan anorganik—lalu membuangnya sesuai kategori.
Kegiatan ini diperkuat dengan kerja sama program Tukar Sampah bersama bank sampah lokal.
Tak sekedar membuang sampah dengan benar, para siswa juga dilibatkan dalam Gerakan Jumat Bersih, serta diimbau membawa tumbler dan wadah makan yang bisa dipakai ulang untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.
“Guru-guru kami aktifkan untuk mengingatkan siswa, terutama saat istirahat. Kami ingin tanggung jawab terhadap sampah menjadi budaya, bukan sekadar instruksi,” tambahnya.
Kesadaran lingkungan ini juga ditanamkan hingga ke rumah melalui komunikasi aktif dengan orang tua, terutama melalui grup WhatsApp sekolah.
Orang tua diimbau untuk ikut menerapkan kebiasaan ramah lingkungan, seperti membawa bekal tanpa kemasan plastik dan mengelola sampah rumah tangga.
“Kami ingin semua pihak terlibat. Ini bukan tugas satu sekolah saja, tapi gerakan kolektif,” ujar Resti.
Langkah kecil SDN Podosugih 1 menjadi bagian dari perubahan besar yang diharapkan bisa mengakar dalam jangka panjang.
Sekolah ini menargetkan agar seluruh siswanya menjadi agen perubahan lingkungan, yang mampu membawa nilai-nilai tersebut ke tengah keluarga dan masyarakat.
“Ini bukan program sesaat. Kami ingin pembiasaan jangka panjang. Kami percaya, anak-anak bisa jadi pionir perubahan lingkungan jika dibimbing sejak dini,” pungkasnya. (han/ida)