METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan mencanangkan Gerakan Sekolah Kelola Sampah Mandiri di SMP Negeri 8 Kota Pekalongan pada Senin 5 Mei 2025.
Gerakan ini diinisiasi untuk menjadikan sekolah sebagai pioner pengelolaan sampah dari sumbernya.
Dengan target ambisius, sampah yang dihasilkan hari ini, harus tuntas hari ini juga.
Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid menyampaikan, volume sampah di Kota Pekalongan kini mulai berkurang.
Namun, penanganan berkelanjutan harus melibatkan semua pihak, dimulai dari dunia pendidikan.
Sampah bukan lagi isu lokal, tapi sudah jadi persoalan nasional. Mulai dari hotel, restoran, mal, hingga sekolah, harus mampu mengelola sampahnya secara mandiri tanpa bergantung pada TPA.
"Kita mulai dari sekolah agar generasi muda jadi motor perubahan,” tegasnya.
SMPN 8 Kota Pekalongan menjadi pilot project karena berhasil mengelola sampah tanpa membuang ke luar lingkungan sekolah.
Mereka menggunakan incinerator buatan sendiri untuk membakar sampah non-organik, serta memanfaatkan sampah organik melalui bank sampah dan pengomposan.
“Saya tadi melihat langsung incinerator yang digunakan SMPN 8 dan juga karya-karya kreatif dari sekolah lain. Luar biasa! Ada yang membuat fashion show dari sampah plastik hingga pupuk dari limbah organik,” ujar Wali Kota.
Pemkot Pekalongan yakin, jika sekolah bisa mengubah cara pandang siswa terhadap sampah, maka perubahan besar akan terjadi dari rumah ke rumah.
"Ini investasi jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang,” tutup Wali Kota
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri, menekankan pentingnya peran satuan pendidikan sebagai garda terdepan perubahan perilaku.
“Gerakan ini diikuti oleh lebih dari 270 satuan pendidikan dari TK, SD hingga SMP. Semua kepala sekolah hari ini hadir dan menandatangani komitmen bersama. Ini bukan hanya simbolik, tapi juga langkah nyata,” ujarnya.
Menurut Mabruri, mayoritas sekolah sebenarnya sudah memiliki program terkait pengelolaan sampah, namun terkendala pada fasilitas dan sumber daya.
Kini, beberapa sekolah seperti SMPN 8 dan SDN Medono 8 sudah memiliki insinerator.
Meskipun dengan tipe berbeda, terbukti mampu mengurangi emisi asap dan volume sampah.
Jika alat pembakar sampah bisa diproduksi dengan biaya di bawah satu juta, maka setiap sekolah bisa memilikinya.
"Ini akan menjadi revolusi kecil dalam pengelolaan sampah di dunia pendidikan,” tambahnya.
Gerakan ini tak hanya berhenti di sekolah. Pemerintah juga menggandeng pengusaha lokal untuk menghadirkan lebih banyak incinerator dan memperkuat TPS 3R.
Jika sistem ini berjalan lancar, target pengurangan sampah harian Kota Pekalongan sebesar 140–150 ton bisa tercapai.
Sebagai bagian dari pencanangan, digelar pula bazar karya siswa dan penampilan seni dari perwakilan sekolah se-Kota Pekalongan.
Ini memperlihatkan hasil kreativitas dalam mendaur ulang sampah menjadi produk berguna dan ramah lingkungan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla