Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Fika Linatunnafisah, Anak Tukang Bengkel Sederhana, Kini Jadi Dokter

Magang • Kamis, 10 Juli 2025 | 13:15 WIB
PENUH PERJUANGAN : Fika Linatunnafisah yang masih melanjutkan spesialis gizi klinik sedang foto bersama keluarganya.
PENUH PERJUANGAN : Fika Linatunnafisah yang masih melanjutkan spesialis gizi klinik sedang foto bersama keluarganya.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Fika Linatunnafisah hanya bercita-cita menjadi guru, tapi nasib membawanya pada Fakultas Kedokteran UI sehingga menjadi dokter.

Fika Linatunnafisah merupakan sulung dari empat bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya membuka bengkel motor di depan rumah.

Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga, namun penuh kasih. Mereka tidak bergelimang materi, namun kaya akan semangat dan doa.

Fika tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang dokter, apalagi menapaki bangku kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), kampus impian ribuan pelajar Indonesia. Namun jalan hidupnya berubah, saat ibunya jatu sakit.

Alih-alih berobat, sang ibu memilih menahan rasa sakit karena keterbatasan biaya. Saat itulah benih cita-cita Fika mulai tumbuh, menjadi dokter—agar bisa menolong mereka yang tak mampu seperti keluarganya dulu.

Dengan tekad dan dukungan keluarga, Fika menembus jalur SNMPTN dan diterima di FKUI tahun 2013.

Tak hanya itu, ia juga berhasil lolos beasiswa Bidikmisi, yang menanggung biaya kuliah dan memberikan uang saku bulanan.

Tapi kehidupan di Jakarta tidak semurah di Pekalongan. Biaya hidup tinggi, dan uang saku yang ia terima pun sering kali tak cukup.

Orang tua Fika pun berjuang diam-diam. Sang ibu rela bekerja menjaga toko hanya untuk menambah uang saku Fika. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa kedokteran, Fika juga tidak tinggal diam.

Ia berjualan makanan, mengajar les anak SD, dan bahkan mengatur jadwal makan agar bisa lebih hemat, sarapan digabung dengan makan siang, dan makan malam dimajukan sore hari.

Beban kuliah di kedokteran tidak hanya berat secara finansial, tapi juga mental dan fisik.

Fika harus bolak-balik dari Salemba ke Depok, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan menghadapi teman-teman yang sebagian besar berasal dari latar belakang lebih mampu.

Rasa minder sempat menghantuinya. Ia bahkan pernah berkonsultasi ke psikiater karena merasa tidak cukup layak berada di sana.

Namun semua itu tak membuat Fika menyerah. Ia justru membuktikan bahwa mental tangguh, restu orang tua, dan doa yang tak pernah putus bisa membawanya menamatkan pendidikan dokter tepat waktu dalam 5,5 tahun.

“Aku pernah mimpi jadi guru, tapi hidup mengarahkan aku jadi dokter. Dengan harapan, agar bisa bantu orang-orang yang dulu seperti ibuku, menahan sakit karena tak punya biaya,” kata Fika.

Setelah lulus, Fika menjalani pengabdian satu tahun di Serang, mengikuti suaminya. Kemudian ia bekerja sebagai dokter umum hingga 2023.

Namun keinginannya untuk terus belajar belum padam. Kini, Fika sedang menempuh pendidikan Spesialis Gizi Klinik yang merupakan pendidikan profesi lanjutan yang kembali menuntut perjuangan besar.

Di balik sosoknya yang lembut, tersimpan kisah tentang ketangguhan, pengorbanan, dan keberanian bermimpi.

Ia adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi, bahkan di tempat paling prestisius sekalipun. (rifkah saffanahh/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#fk ui #tukang bengkel #dokter