METROPEKALONGAN.COM, Pemalang - Ikhsan Adiarso baru berumur 21 tahun, namun memiliki semangat tinggi untuk berjuang melanjutkan pendidikan.
Meski sempat putus kuliah, karena tak ada biaya, kini justru jadi eksportir baju kerja.
Ikhsan Adiarso, pemuda desa yang bertekad untuk sekolah setinggi mungkin ini terkendala biaya. Anak pertama dari dua bersaudara ini hidup dari keluarga sederhana di Kabupaten Pemalang.
Dirinya pernah mengenyam di Pondok Pesantren (Ponpes) Selamat saat menyelesaikan sekolah di bangku SMA.
Lantas melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid di program studi (Prodi) Manajemen Dakwah. Namun karena terkendala biaya, pada semester dua, terpaksa putus kuliah.
Orang tuanya sebenarnya merintis usaha konveksi kecil-kecilan. Namun kondisi ekonomi yang tak menentu, usaha tersebut kembang kempis.
Ikhsan sempat kuliah sambil kerja, namun masih tak cukup mampu untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang hanya sekitar tiga jutaan.
Waktu itu, sempat bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi di Kota Pekalongan.
“Waktu itu saya sadar, kalau terus mengandalkan orang tua, saya nggak akan bisa lanjut. Jadi saya ambil kerja di kedai kopi. Walaupun capek, yang penting bisa bayar kuliah dan hidup,” tuturnya saat ditemui di tempat usahanya, Jumat 5 Juli 2025.
Kemudian lanjut bekerja sebagai customer service di salah satu bank BUMN di Weleri Kendal selama dua tahun.
Sayangnya, kontrak kerja tidak diperpanjang. Akhirnya, Ikhsan nekat membesarkan kembali usaha konveksi milik orang tuanya.
Karena modal minim, Ikhsan membuka usaha konveksi kecil-kecilan di rumah bernama “Chartive Konveksi” dan membuat desain baju kantor (wokshirt). Kala itu, hanya bermodalkan mesin jahit dan tekad besar.
“Awalnya cuma jahit-jahit baju tetangga. Lama-lama pesanan makin banyak, dan Alhamdulillah sekarang bisa produksi skala besar,” ucapnya, tak bisa menyembunyikan rasa syukur.
Tak hanya berhenti di produksi, Ikhsan mulai memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Ia aktif mempromosikan produknya melalui TikTok, membuat konten seputar proses produksi hingga testimoni pelanggan. Dia menawaekan baju kerja seperti baju Pakaian Dinas Harian (PDH) atau almamater kuliah.
“TikTok sangat membantu. Dari situ banyak orang lihat proses produksi saya, lalu mulai order. Bahkan ada pembeli dari Malaysia yang awalnya tahu dari TikTok,” jelasnya.
Kerja keras dan ketekunan membawa hasil. Usahanya kini tidak hanya melayani pasar lokal, tapi sudah menembus pasar ekspor hingga ke Malaysia.
Ikhsan mengaku, pencapaian ini tak lepas dari dukungan keluarga dan kemauan kuat untuk terus belajar. Kini ia memiliki ruko sendiri dengan lima karyawan.
Setelah usahanya stabil, ia kembali melanjutkan mimpi yang sempat tertunda, yakni kuliah. Ia memilih Universitas Terbuka (UT) Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, agar tetap bisa membagi waktu antara usaha dan pendidikan.
“Kuliah itu impian yang belum selesai. Sekarang bisa lanjut lagi sambil usaha,” ucapnya sambil tersenyum.
Perjalanan Ikhsan adalah bukti bahwa mimpi bisa dijemput dengan tekad dan kerja keras, bahkan saat semua terlihat mustahil. Ia bukan hanya menjahit pakaian, tapi juga merajut harapan bagi dirinya, dan bagi siapa pun yang pernah merasa menyerah pada keadaan. (yanuarilhampangestu/ida)
Editor : Ida Nor Layla