METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Al-Faruqul Islam adalah petinju yang terus memupuk semangat juang untuk bisa hidup dalam berbagai arena kehidupan, baik di ring, di bangku kuliah, maupun di balik etalase usaha kecilnya.
DI atas ring, suara peluit berbunyi. Kepalan tangan terangkat. Nafas diatur. Fokus dipertajam. Di sanalah Mas Faruq ini berdiri.
Pemilik nama lengkap Al-Faruqul Islam yang baru berumur 23 tahun ini, mewakili semangat dan ketekunan anak muda Pemalang dalam dunia tinju.
Namun, di luar ring, ia juga bertarung—bukan hanya dengan lawan, tetapi juga dengan waktu dan tantangan sebagai pelaku usaha muda dan mahasiswa aktif di semester 6 Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin, Adab, Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid.
Ya, selain menjadi atlet tinju yang sudah tergabung dalam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada Agustus 2025 nanti, Mas Faruq juga tengah menempuh pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi di Kota Pekalongan.
Di tengah jadwal latihan yang padat dan usaha kecil yang ia kelola, ia masih menyempatkan diri mengikuti perkuliahan demi masa depan yang masih panjang.
"Capek iya, tapi ini semua bagian dari proses. Saya ingin sukses di ring, di usaha, dan juga dalam pendidikan," ujar Mas Faruq dengan nada optimistis saat ditemui di rumahnya.
Tinju telah menjadi bagian hidupnya sejak remaja.
Ia memulai karier dari pertandingan lokal, hingga akhirnya dipercaya mewakili daerah dalam berbagai kejuaraan.
Tekadnya, kerja kerasnya, dan semangat juangnya akhirnya mengantarkannya masuk dalam naungan KONI.
Namun Faruq tidak berpuas diri hanya di dunia olahraga. Ia juga merintis usaha sendiri, mulai dari menjual makanan ringan hingga membuka jasa kecil yang ia jalankan dengan tekun. Usahanya itu ia jalankan di sela-sela waktu latihan dan kuliah.
"Saya sadar nggak bisa mengandalkan satu jalan. Tinju dan usaha sama pentingnya. Tapi pendidikan juga nggak boleh ketinggalan. Tiga-tiganya harus jalan," kata anak kedua dari 12 bersaudara.
Mengatur waktu tentu bukan perkara mudah. Pagi hari ia latihan fisik, siang kuliah, dan sore mengurus usahanya atau kembali ke sasana.
Meski lelah, Mas Faruq menikmati semua proses itu. Baginya, setiap kegiatan saling menguatkan dan membentuk karakter yang lebih tangguh.
"Saya belajar dari tinju untuk sabar dan fokus. Itu juga yang saya bawa ke kelas dan ke usaha. Semua butuh kerja keras," tambahnya.
Salah satu mimpinya adalah membuka sasana tinju sendiri suatu hari nanti. Ia ingin anak-anak muda Pemalang punya tempat latihan yang layak, sekaligus motivasi agar tidak mudah menyerah pada keadaan.
"Anak muda itu harus punya mimpi. Tapi mimpi saja nggak cukup, harus dibarengi usaha dan tanggung jawab. Saya sedang coba jalani itu," kata anak pengusaha konveksi di Pemalang.
Mas Faruq bukan hanya petinju. Ia adalah simbol generasi muda pekerja keras yang mampu menjaga pukulan di ring, menjaga stabilitas usaha, dan tetap menjaga masa depan lewat pendidikan.
Ia membuktikan bahwa semangat juang bisa hidup dalam berbagai arena kehidupan, baik di ring, di bangku kuliah, maupun di balik etalase usaha kecil. (fajrulfalahadiyanto/ida)
Editor : Ida Nor Layla