Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Gilang Nanda Permana Widodo, Bertahan dari Omongan Negatif, Kini Jadi Dokter Muda dan Aktivis

Magang • Senin, 21 Juli 2025 | 20:00 WIB
DOKTER DAN AKTIVIS : Gilang Nanda Permana Widodo didampingi kedua orang tuanya saat lulus Fakultas Kedokteran Unsoed Purwokerto.
DOKTER DAN AKTIVIS : Gilang Nanda Permana Widodo didampingi kedua orang tuanya saat lulus Fakultas Kedokteran Unsoed Purwokerto.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Di tengah gempuran budaya yang kerap meragukan konsistensi kaum muda gen Z, sosok Gilang Nanda Permana Widodo muncul sebagai pengecualian yang inspiratif.

Pemuda kelahiran Pekalongan, 2 Agustus 2002 ini, bukan sekadar mahasiswa kedokteran biasa.

Dengan segudang prestasi, jiwa kepemimpinan yang menonjol, dan semangat pengabdian yang menyala, Gilang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih keberhasilan dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

Dibesarkan dari keluarga yang sederhana, ayahnya yang hanya bekerja menjadi penjual peralatan rumah tangga, dan ibunya yang berjualan sembako kecil-kecilan, ini tidak memandamkan semangat.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak pernah bermimpi menjadi siapa-siapa. Yang ia tahu sejak kecil adalah satu hal, ia ingin bermanfaat bagi sesama. 

Gilang mengenyam pendidikan dasar di Raudlatul Athfal (RA) Muslimat NU Ketitang Kidul, lanjut kw SD Negeri Ketitang Kidul, lalu melanjutkan ke SMPN 1 Bojong dan SMAN 1 Bojong.

Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecemerlangannya. Kelas 4 SD, ia terpilih dalam program pertukaran pelajar selama satu semester di Baturraden, Kabupaten Banyumas. Sebuah pengalaman langka bagi anak seusianya di desa.

Memasuki SMP, Gilang kian aktif. Ia menjadi sekretaris OSIS, anggota PMR, PKS, Paskibra, hingga Forum Anak Kecamatan Bojong. Saat SMA, ia memegang jabatan ketua OSIS dan Pasubra (Paskibra).

Di tingkat kabupaten dan provinsi, namanya pun dikenal dalam berbagai forum kepemudaan seperti Forum OSIS, Forum GenRe, dan Duta Kesehatan Jawa Tengah.

Namun Gilang membuktikan bahwa tekad bisa mengalahkan keterbatasan. Ia memperoleh dua beasiswa yang menopang studinya hingga lulus. Di kampus, Gilang bukan hanya mahasiswa biasa.

Ia menjadi aktivis BEM Fakultas dan BEM Unsoed, serta aktif di UKM PIK Mahasiswa, Teater, dan Penelitian.

Ia juga menjabat sebagai Ketua Komisi I di KPU Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia(ISMKI) 2023/2024 dan Wakil Ketua Bidang di organisasi serupa.

Segudang kegiatan tak menghalangi prestasi akademiknya. Gilang juga menjadi Asisten Dosen di dua departemen sekaligus, departemen Farmakologi dan Bioetika.

Prestasi Gilang tak terhitung. Dari juara olimpiade IPA SD, pertukaran pelajar di Solo saat SMP, hingga juara senam lalu lintas dan LCC PMR. Di SMA, ia memenangkan lomba PBB tingkat provinsi, FLS2N, geguritan, duta GenRe kabupaten dan provinsi, serta Duta Wisata 2019.

Ia juga juara nasional video edukasi Kemendikbud dan penulis terbaik buku ISBN tentang literasi desa. Ia juga telah menulis buku berjudul “Dari Desa Membangun Bangsa”, sebagai bentuk refleksi dan motivasi bahwa anak desa pun bisa melanglang buana jika punya tekad dan niat yang tulus.

Di dunia tulis-menulis, ia kerap menjuarai lomba essay nasional, karya tulis, bahkan menyabet gelar Honorable Mention Best Presenter. Ia juga terpilih menjadi Duta Kesehatan Jawa Tengah dan mewakili provinsi di tingkat nasional.

Meski kelihatannya mulus, perjalanan Gilang jauh dari kata mudah. Ia sempat ganti judul skripsi empat kali, lulus dalam waktu 3,8 tahun saat teman-temannya bisa menyelesaikan dalam 3,5 tahun.

Namun, ia tidak menyerah.  Ia memegang erat filosofi hidupnya yang terinspirasi dari pohon pisang "Sebelum aku berbuah, aku tidak akan tumbang." Ia percaya, hidup adalah soal menebar manfaat dan bertahan hingga titik tujuan tercapai.

Ia juga masih rutin meneliti. Terakhir ia meneliti ekstrak herbal untuk kanker kolorektal. Di tengah semua kesibukan itu, ia masih menyempatkan diri hadir sebagai pembicara di berbagai seminar dan mengedukasi masyarakat lewat media sosial.

Gilang juga terus mengelola Perpustakaan Desa Panuntun, yang ia sebut sebagai warisan hidupnya.

“Aku ingin tetap memegang perpustakaan ini sampai akhir hayat,” katanya dengan penuh tekad.

Ke depan, Gilang ingin fokus pada Koas yang harapannya tidak menambah masa studi, lulus cumlaude, dan memperbanyak publikasi ilmiah, lalu melanjutkan studi S2 atau Spesialis dengan beasiswa LPDP.

Mimpinya bukan hanya menjadi dokter, tapi juga dosen, peneliti, dan penggerak perubahan di masyarakat. (rifkah saffanah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Gen Z #Fakultas Kedokteran Unsoed #Segudang prestasi