METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan pendidikan inklusif di Kota Pekalongan, banyak orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) kini menghadapi tantangan baru.
Daya tampung Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sudah melebihi kapasitas membuat sebagian anak belum sepenuhnya dapat mengakses pendidikan formal.
Dalam kondisi itu, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) menjadi ruang harapan baru bagi keluarga.
Persoalan tersebut mengemuka saat Bunda PAUD Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menghadiri kegiatan silaturahmi bersama pengelola SKB dan orang tua peserta didik di Guest House Kota Pekalongan, Selasa 12 Mei 2026.
Suasana hangat terasa sejak awal acara, ketika orang tua diberi ruang untuk menyampaikan cerita, keluhan, hingga harapan terkait perkembangan anak-anak mereka.
Inggit mengungkapkan, kegiatan tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak momentum Syawal dengan konsep silaturahmi terbuka agar komunikasi antara pemerintah, pengelola pendidikan, dan orang tua dapat berjalan lebih dekat.
“Alhamdulillah, melalui kegiatan ini orang tua bisa menyampaikan curahan hati, masukan, maupun kebutuhan anak-anak mereka secara langsung. Semua aspirasi kami tampung untuk evaluasi bersama,” ujarnya.
Menurutnya, jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Pekalongan saat ini cukup tinggi, sementara kapasitas layanan di sekolah khusus sudah tidak lagi ideal.
Kondisi itu membuat SKB menjadi alternatif penting bagi anak-anak yang belum bisa tertampung di pendidikan formal.
Namun di balik peran strategis tersebut, Inggit menilai layanan pendidikan di SKB masih membutuhkan perhatian serius.
Keterbatasan fasilitas terapi, sarana pendukung, hingga jumlah tenaga pendidik dan pendamping masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
Kegiatan yang melibatkan unsur bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal, serta Pokja Bunda PAUD sebagai bentuk sinergi dalam memperkuat layanan pendidikan inklusif di Kota Pekalongan.
Melalui dialog langsung dengan orang tua, Pemerintah Kota Pekalongan berharap kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus dapat lebih terpetakan, sehingga ke depan layanan pendidikan yang diberikan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan setara bagi setiap anak.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan layanan yang lebih optimal, termasuk fasilitas terapi dan tenaga pendukung yang memadai,” tegasnya.(han)
Editor : Ida Nor Layla