METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Tepuk tangan panjang memenuhi Ballroom Quest Hotel Simpang Lima Semarang, Jumat malam 22 Mei 2026.
Tepatnya, saat nama Bunda PAUD Kota Pekalongan, Hj. Inggit Soraya diumumkan sebagai penerima penghargaan pada ajang Anugerah Pendidikan Indonesia (API) 2026 yang digelar Jawa Pos Radar Semarang.
Penghargaan kategori Transformasi Pendidikan Penggerak Angka Partisipasi Sekolah PAUD itu menjadi penanda keberhasilan Kota Pekalongan dalam mendorong pendidikan anak usia dini hingga menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Direktur Utama Radar Semarang, Baehaqi menyerahkan langsung penghargaan tersebut dengan disaksikan Wali Kota Pekalongan bersama jajaran Dinas Pendidikan Kota Pekalongan.
Bagi Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, penghargaan itu bukan sekadar simbol prestasi, melainkan bukti nyata hasil kerja kolektif seluruh elemen pendidikan di Kota Batik.
“Kesan saya sangat mendalam dan hal ini sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Anugerah Pendidikan Indonesia (API) 2026 tidak hanya sekadar memberikan penghargaan, tetapi menjadi bukti atas kerja keras Bunda PAUD sebagai sosok penggerak yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat di Kota Pekalongan,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan Mabruri saat ditemui, Senin 25 Mei 2026.
Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan usia dini bukan hal mustahil ketika dijalankan dengan kemauan kuat dan kolaborasi semua pihak.
“Transformasi Angka Partisipasi Sekolah PAUD dari 91 persen menjadi 100 persen bukan hal yang mustahil jika ada kemauan kuat dan kolaborasi seluruh pihak,” ujarnya.
Malam penghargaan itu juga terasa istimewa karena Dinas Pendidikan Kota Pekalongan turut membawa sekitar 25 orang pendukung ke Semarang.
Penghargaan kategori Transformasi Pendidikan Penggerak Angka Partisipasi Sekolah PAUD itu menjadi penanda keberhasilan Kota Pekalongan dalam mendorong pendidikan anak usia dini hingga menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Direktur Utama Radar Semarang, Baehaqi menyerahkan langsung penghargaan tersebut dengan disaksikan Wali Kota Pekalongan bersama jajaran Dinas Pendidikan Kota Pekalongan.
Bagi Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, penghargaan itu bukan sekadar simbol prestasi, melainkan bukti nyata hasil kerja kolektif seluruh elemen pendidikan di Kota Batik.
“Kesan saya sangat mendalam dan hal ini sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Anugerah Pendidikan Indonesia (API) 2026 tidak hanya sekadar memberikan penghargaan, tetapi menjadi bukti atas kerja keras Bunda PAUD sebagai sosok penggerak yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat di Kota Pekalongan,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan Mabruri saat ditemui, Senin 25 Mei 2026.
Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan usia dini bukan hal mustahil ketika dijalankan dengan kemauan kuat dan kolaborasi semua pihak.
“Transformasi Angka Partisipasi Sekolah PAUD dari 91 persen menjadi 100 persen bukan hal yang mustahil jika ada kemauan kuat dan kolaborasi seluruh pihak,” ujarnya.
Malam penghargaan itu juga terasa istimewa karena Dinas Pendidikan Kota Pekalongan turut membawa sekitar 25 orang pendukung ke Semarang.
Mereka terdiri atas perwakilan POKJA Bunda PAUD se-Kota Pekalongan, kepala sekolah PAUD, pengawas hingga tim kreatif Dinas Pendidikan.
Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk spontanitas luapan rasa syukur dan solidaritas atas capaian yang diraih Bunda PAUD Kota Pekalongan.
“Ini merupakan support system nyata atas kerja keras beliau. Mereka hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai supporter sekaligus bukti nyata bahwa transformasi ini menyentuh akar rumput,” katanya.
Suasana kebersamaan itu menjadi simbol kuat bahwa peningkatan Angka Partisipasi Sekolah (APS) PAUD di Kota Pekalongan tidak dibangun sendirian, melainkan melalui semangat gotong royong seluruh komunitas pendidikan.
“Kehadiran mereka di Hotel Quest Semarang kemarin adalah simbol bahwa setiap peningkatan APS PAUD di Kota Pekalongan didorong oleh semangat gotong royong dari seluruh lapisan komunitas pendidikan. Saya ingin mereka pulang dengan perasaan bahwa setiap kerja kerasnya kini diakui di kancah nasional,” tambahnya.
Dedikasi Inggit Soraya selama ini dinilai konsisten menggerakkan masyarakat agar anak-anak mendapatkan hak pendidikan sejak usia dini.
Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk spontanitas luapan rasa syukur dan solidaritas atas capaian yang diraih Bunda PAUD Kota Pekalongan.
“Ini merupakan support system nyata atas kerja keras beliau. Mereka hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai supporter sekaligus bukti nyata bahwa transformasi ini menyentuh akar rumput,” katanya.
Suasana kebersamaan itu menjadi simbol kuat bahwa peningkatan Angka Partisipasi Sekolah (APS) PAUD di Kota Pekalongan tidak dibangun sendirian, melainkan melalui semangat gotong royong seluruh komunitas pendidikan.
“Kehadiran mereka di Hotel Quest Semarang kemarin adalah simbol bahwa setiap peningkatan APS PAUD di Kota Pekalongan didorong oleh semangat gotong royong dari seluruh lapisan komunitas pendidikan. Saya ingin mereka pulang dengan perasaan bahwa setiap kerja kerasnya kini diakui di kancah nasional,” tambahnya.
Dedikasi Inggit Soraya selama ini dinilai konsisten menggerakkan masyarakat agar anak-anak mendapatkan hak pendidikan sejak usia dini.
Melalui inovasi dan kolaborasi bersama Dinas Pendidikan serta POKJA Bunda PAUD, partisipasi sekolah PAUD di Kota Pekalongan terus meningkat signifikan.
Atas penghargaan tersebut, Inggit Soraya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung gerakan pendidikan usia dini di Kota Pekalongan.
“Bu Inggit menyampaikan terima kasih yang sangat tulus atas kolaborasi Dinas Pendidikan dan Pokja Bunda PAUD. Tanpa dukungan semua pihak, penghargaan ini sulit dicapai,” jelasnya.
Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan amanah sekaligus penyemangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini di Kota Pekalongan.
Ke depan, transformasi pendidikan PAUD di Kota Pekalongan akan diperkuat melalui tiga pilar utama. Pertama, penguatan wajib belajar 13 tahun atau satu tahun prasekolah sebagai fondasi pendidikan dasar.
Program tersebut diwujudkan melalui penguatan penjaringan Anak Usia Dini (AUD) usia 5-6 tahun lewat kolaborasi Posyandu dan PKK kelurahan, replikasi Kampung Wajar berbasis akar rumput, hingga transisi PAUD-SD yang menyenangkan.
Selain itu, keberlanjutan program Dolan PAUD atau Wadul Anak PAUD juga terus dilakukan sebagai ruang mencari solusi, berbagi praktik baik pembelajaran, sekaligus kampanye pentingnya pendidikan usia dini.
Pilar kedua yakni program “PAUD Berbasis Keluarga”, di mana orang tua didorong menjadi pendidik pertama di rumah melalui pusat pembelajaran komunitas berbasis masyarakat.
Sedangkan pilar ketiga fokus pada standarisasi layanan dan peningkatan kualitas guru PAUD, baik negeri maupun swasta, melalui bantuan beasiswa bagi guru yang belum S1 serta pemberian insentif lewat program harlindung.
“Penghargaan ini bukan akhir, melainkan titik awal. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan memastikan tidak ada satupun anak di Kota Pekalongan tertinggal dalam akses pendidikan,” pungkasnya. (han)
Editor : Ida Nor Layla Atas penghargaan tersebut, Inggit Soraya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung gerakan pendidikan usia dini di Kota Pekalongan.
“Bu Inggit menyampaikan terima kasih yang sangat tulus atas kolaborasi Dinas Pendidikan dan Pokja Bunda PAUD. Tanpa dukungan semua pihak, penghargaan ini sulit dicapai,” jelasnya.
Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan amanah sekaligus penyemangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini di Kota Pekalongan.
Ke depan, transformasi pendidikan PAUD di Kota Pekalongan akan diperkuat melalui tiga pilar utama. Pertama, penguatan wajib belajar 13 tahun atau satu tahun prasekolah sebagai fondasi pendidikan dasar.
Program tersebut diwujudkan melalui penguatan penjaringan Anak Usia Dini (AUD) usia 5-6 tahun lewat kolaborasi Posyandu dan PKK kelurahan, replikasi Kampung Wajar berbasis akar rumput, hingga transisi PAUD-SD yang menyenangkan.
Selain itu, keberlanjutan program Dolan PAUD atau Wadul Anak PAUD juga terus dilakukan sebagai ruang mencari solusi, berbagi praktik baik pembelajaran, sekaligus kampanye pentingnya pendidikan usia dini.
Pilar kedua yakni program “PAUD Berbasis Keluarga”, di mana orang tua didorong menjadi pendidik pertama di rumah melalui pusat pembelajaran komunitas berbasis masyarakat.
Sedangkan pilar ketiga fokus pada standarisasi layanan dan peningkatan kualitas guru PAUD, baik negeri maupun swasta, melalui bantuan beasiswa bagi guru yang belum S1 serta pemberian insentif lewat program harlindung.
“Penghargaan ini bukan akhir, melainkan titik awal. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan memastikan tidak ada satupun anak di Kota Pekalongan tertinggal dalam akses pendidikan,” pungkasnya. (han)