METROPEKALONGAN.COM, PEKALONGAN – Bermula dari permainan sederhana, melipat origami hingga mendengarkan cerita, anak-anak yang mengikuti program Liburan Seru di Perpustakaanku perlahan mulai akrab dengan buku.
Inilah cara kreatif Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan membangun budaya literasi, yakni menjadikan perpustakaan sebagai ruang bermain, belajar, sekaligus berkreasi yang menyenangkan bagi anak.
Program yang digelar Dinarpus Kota Pekalongan bersama Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional RI dan sejumlah mitra tersebut menghadirkan berbagai aktivitas interaktif, mulai dari read aloud, origami, edukasi literasi, workshop animasi hingga permainan edukatif.
Pendekatan itu terbukti mampu menarik minat anak untuk datang ke perpustakaan selama masa liburan sekolah.
Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional RI, Mailis Saidah, mengatakan antusiasme peserta terus meningkat selama kegiatan berlangsung.
Tidak hanya anak-anak, para orang tua juga terlibat aktif mendampingi sehingga tercipta suasana belajar yang hangat sekaligus memperkuat kebiasaan membaca di lingkungan keluarga.
"Antusiasme anak-anak luar biasa. Orang tua juga ikut membersamai sehingga mereka semakin dekat dengan dunia literasi. Kegiatan yang dikemas menyenangkan membuat anak merasa nyaman berada di perpustakaan," ungkap Mailis saat ditemui di sela kegiatan, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, konsep belajar sambil bermain menjadi metode yang efektif untuk memperkenalkan dunia literasi kepada anak-anak. Ketika rasa senang sudah tumbuh melalui permainan dan aktivitas kreatif, mereka secara alami terdorong untuk mengenal lebih jauh koleksi buku yang tersedia di perpustakaan.
Baca Juga: Akses Pendidikan Merata, Anak Yatim hingga Keluarga Rentan di Pekalongan Terima Seragam Gratis
Mailis menuturkan, banyak peserta yang awalnya hanya datang untuk mengikuti permainan, namun akhirnya tertarik menjelajahi rak-rak buku setelah mengetahui bahwa perpustakaan menyediakan berbagai bacaan ringan, bergambar, dan sesuai dengan usia mereka.
"Dari bermain, mereka kemudian melihat buku-buku di perpustakaan. Mereka jadi tahu bahwa tidak semua buku itu tebal, banyak juga buku yang menarik dan mudah dibaca. Harapannya, rasa tertarik itu menjadi awal tumbuhnya kebiasaan membaca," jelasnya.
Ia berharap perpustakaan semakin dekat dengan masyarakat, khususnya anak-anak, dengan menghadirkan kegiatan yang inovatif dan menyenangkan.
Melalui cara tersebut, perpustakaan tidak lagi dipandang sekadar tempat meminjam buku, tetapi menjadi ruang publik yang mampu menumbuhkan kreativitas, mempererat hubungan keluarga, sekaligus membangun budaya literasi sejak usia dini.(han/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto