METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Suara mesin penggiling kopi mungkin tak terdengar jelas bagi Vania. Namun, semangatnya untuk belajar justru mengalir begitu kuat saat tangannya mulai menakar biji kopi, menggilingnya, lalu menyeduh secangkir minuman dengan penuh ketelitian.
Di ruang pelatihan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan, keterbatasan pendengaran bukan lagi menjadi penghalang untuk meraih masa depan.
Bersama 14 peserta lainnya, Vania mengikuti Program Kecakapan Wirausaha (PKW) Barista yang digelar sejak 6 Juli hingga 7 Agustus 2026.
Program ini diperuntukkan bagi penyandang tuli, anak usia sekolah yang tidak sekolah (ATS), serta masyarakat usia produktif yang ingin memiliki bekal keterampilan sekaligus peluang membangun usaha mandiri.
Bagi perempuan berusia 19 tahun itu, kesempatan mengikuti pelatihan bukan sekadar belajar menyeduh kopi. Lebih dari itu, ia melihat secangkir kopi sebagai awal dari mimpi memiliki usaha sendiri.
"Senang bisa mendapat kesempatan mengikuti pelatihan barista ini. Selain mendapatkan pengalaman, saya juga memperoleh ilmu yang nantinya bisa digunakan untuk berwirausaha," ungkapnya dengan senyum sumringah, pada Rabu (15/7/2026).
Optimisme serupa terpancar dari Ahmad (18). Di sela praktik meracik minuman, ia mengaku menikmati setiap proses pembelajaran yang mempertemukannya dengan teman-teman baru dari latar belakang berbeda.
Baginya, pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga ruang untuk membangun rasa percaya diri.
"Senang bisa bertemu teman baru, suasananya menyenangkan. Harapannya setelah pelatihan ini potensi kami sebagai generasi muda semakin berkembang. Terima kasih kepada instruktur yang sudah membimbing kami," tuturnya.
Di balik suasana belajar yang hangat, SKB Kota Pekalongan ternyata menyiapkan target yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak barista.
Para peserta diproyeksikan menjadi pelaku usaha baru yang mampu mengelola bisnis kopi secara profesional.
Baca Juga: KUA PPAS 2027 Kota Pekalongan Prioritaskan Kesejahteraan Warga, RTLH hingga Berobat Cukup Pakai KTP
Kepala SKB Kota Pekalongan, Lisa Anggraeni, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang secara menyeluruh. Peserta tidak hanya belajar membuat espresso atau manual brewing, tetapi juga memahami bagaimana sebuah usaha dapat bertahan dan berkembang.
"Melalui Program Kecakapan Wirausaha ini, kami ingin memberikan bekal pengetahuan, keterampilan teknis, sekaligus menumbuhkan sikap mental wirausaha yang kuat. Harapannya setelah pelatihan peserta mampu merintis dan mengembangkan usaha kopi secara profesional sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," jelasnya.
Selama hampir satu bulan pelatihan, peserta dibimbing mengenal karakter biji kopi lokal, teknik penggilingan, penyeduhan manual, pembuatan minuman berbasis espresso dan susu, hingga teknik penyajian yang menarik bagi pelanggan.
Di ruang pelatihan itu, aroma kopi yang menguar bukan hanya menghadirkan kenikmatan.
Ia membawa harapan baru bagi para penyandang tuli dan ATS untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan berhenti berkarya.
Namun pelajaran tidak berhenti di balik meja barista. Mereka juga diajak memahami cara menyusun pembukuan sederhana, mengatur arus kas usaha, mempelajari strategi memperoleh akses permodalan, hingga memanfaatkan media digital sebagai etalase pemasaran.
"Target kami, peserta tidak hanya terampil meracik kopi, tetapi juga mampu mengelola usaha, menyusun pencatatan keuangan dengan baik, dan memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk mereka," tegas Lisa.
Sebagai bekal memulai usaha, setiap peserta yang lulus pelatihan akan memperoleh sertifikat sekaligus paket peralatan kerja berupa manual brew kit, grinder, timbangan digital, dan bahan baku awal.
Bantuan tersebut diharapkan menjadi langkah pertama mereka membangun usaha secara mandiri.
SKB Kota Pekalongan juga menggandeng PT BPR Bank Pekalongan untuk membuka akses permodalan bagi peserta yang telah memiliki rintisan usaha layak.
Dengan dukungan pembiayaan dan kemampuan pemasaran digital, peluang usaha yang dirintis diharapkan mampu berkembang lebih luas.(han/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto