METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak hanya soal belajar lebih giat menjelang ujian.
Di Kota Pekalongan, persiapan siswa mulai dibangun sejak dini melalui penguatan pembelajaran mendalam atau deep learning di sekolah.
Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan secara bertahap mendorong penerapan pembelajaran tersebut mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Tujuannya, siswa tidak sekadar mampu menghafal materi, tetapi terbiasa memahami persoalan, mengolah informasi dan menentukan jawaban secara kritis.
Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri, mengatakan salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kompetensi guru.
Guru Matematika SMP dan guru kelas 6 SD menjadi bagian yang lebih dahulu mendapatkan pelatihan penyusunan soal serta pemahaman karakter soal TKA.
“Guru-guru ini terlebih dahulu dilatih agar memahami karakter soal TKA. Nantinya, mereka juga akan memberdayakan dan melatih teman-teman guru lainnya,” ujar Mabruri.
Menurutnya, pola pembelajaran mendalam penting diterapkan karena karakter soal TKA dapat menyajikan pengantar atau stem yang cukup panjang.
Kondisi tersebut menuntut siswa mampu membaca, memahami informasi, kemudian menganalisis persoalan sebelum menentukan jawaban.
Baca Juga: Kebakaran di Kota Pekalongan Meningkat, Warga Diminta Waspada
Baca Juga: Simpan 151 Gram Sabu, Pria di Pemalang Terancam 20 Tahun
Karena itu, siswa tidak hanya dipersiapkan dari sisi penguasaan materi. Kemampuan memahami bacaan dan berpikir kritis juga menjadi perhatian dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Persiapan juga dilakukan melalui try out berbasis komputer. Langkah ini sekaligus menjadi latihan agar siswa terbiasa menghadapi sistem ujian berbasis komputer.
Mabruri menjelaskan, kemampuan mengoperasikan perangkat juga dapat menjadi bagian dari kesiapan siswa. Mereka perlu terbiasa menggunakan kursor, melakukan scroll, membaca soal di layar, hingga berpindah bagian saat mengerjakan tes.
“Yang memengaruhi nilai itu tidak hanya kemampuan akademis, tetapi juga keterampilan anak menggunakan komputer karena tesnya berbasis komputer,” jelasnya.
Upaya tersebut tidak hanya menyasar siswa kelas 6 SD maupun pelajar SMP yang akan menghadapi TKA. Guru kelas 1 sampai 5 SD juga mulai diarahkan menerapkan pembelajaran yang membangun kemampuan berpikir kritis.
Baca Juga: 3.500 Orang Pekalongan Berpotensi Aman dari Ganja dan Sabu
Baca Juga: Kampung Wajar 13 Kuripan Yosorejo, Pastikan Tak Ada Anak Terlewat Belajar
Hal serupa dilakukan pada jenjang SMP. Guru kelas 7 dan 8 didorong mulai mengenalkan pola pembelajaran serta penyusunan soal yang mengacu pada karakter kemampuan yang dibutuhkan dalam TKA.
Dengan demikian, persiapan tidak dilakukan secara mendadak ketika siswa sudah berada di kelas akhir. Kemampuan memahami soal dan berpikir kritis dibangun secara bertahap melalui proses belajar.
Di tingkat sekolah, bentuk pendampingan juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Sejumlah sekolah dapat menerapkan tutor sebaya, menambah jam pembelajaran maupun memberikan kesempatan mengikuti bimbingan belajar dengan tetap menyesuaikan agenda sekolah.
“Semua jalur kita dorong, kita berikan kesempatan yang maksimal. Harapannya anak-anak dipersiapkan sejak awal, sehingga lebih siap menghadapi TKA maupun tantangan pembelajaran ke depan,” pungkas Mabruri.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com