METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Menjadi kepala sekolah tidak cukup hanya piawai mengelola administrasi. Di balik meja pimpinan sekolah, ada tanggung jawab lebih besar untuk menggerakkan guru, memperbaiki pembelajaran dan memastikan setiap perubahan benar-benar berdampak bagi murid.
Kesadaran itulah yang menguat dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Tanoto Foundation yang diikuti 103 kepala sekolah dasar (SD) di Kota Pekalongan.
Kegiatan tersebut berlangsung serentak di empat kecamatan dengan pendampingan dua narasumber di masing-masing kecamatan. Para kepala sekolah tidak hanya mendapatkan materi mengenai manajemen berbasis sekolah, tetapi juga diajak melihat kembali posisi kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.
Kepala SDN Podosugih 01, Resti Pramita, merasakan langsung perubahan perspektif setelah mengikuti Bimtek PINTAR MBS. Menurutnya, kegiatan tersebut membuat kepala sekolah lebih memahami pentingnya kepemimpinan dalam membangun kualitas pembelajaran dan budaya sekolah.
Baca Juga: Dari Keraton hingga Jadi Seragam Kerja, Ini Sejarah Batik
“Dampak yang saya rasakan adalah semakin kuatnya kesadaran bahwa kepala sekolah bukan hanya pengelola administrasi, tetapi juga pemimpin pembelajaran dan penggerak perubahan di sekolah,” ujar Resti saat dikonfirmasi Jumat (2/10/2026).
“Dampak yang saya rasakan adalah semakin kuatnya kesadaran bahwa kepala sekolah bukan hanya pengelola administrasi, tetapi juga pemimpin pembelajaran dan penggerak perubahan di sekolah,” ujar Resti saat dikonfirmasi Jumat (2/10/2026).
Menurut Resti, kepala sekolah memiliki peran penting dalam menggerakkan guru, menentukan langkah sekolah, membangun budaya positif, sekaligus memastikan proses pembelajaran terus berkembang.
Ia menyadari perubahan di sekolah tidak harus selalu diawali dengan program besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh warga sekolah justru dapat menjadi awal perubahan yang lebih berkelanjutan.
Karena itu, Resti menyiapkan sejumlah langkah tindak lanjut setelah mengikuti bimtek. Ia akan terlebih dahulu mengajak guru merefleksikan kebutuhan dan menentukan prioritas sekolah.
Baca Juga: Sempat Diklaim Cina dan Malaysia, IShowSpeed Temukan Fakta, Batik Asli Indonesia
Hasil refleksi tersebut kemudian akan diterjemahkan menjadi rencana yang realistis. Setiap pihak akan mendapatkan pembagian peran, program dilaksanakan, lalu dipantau dan dievaluasi secara berkala.
Hasil refleksi tersebut kemudian akan diterjemahkan menjadi rencana yang realistis. Setiap pihak akan mendapatkan pembagian peran, program dilaksanakan, lalu dipantau dan dievaluasi secara berkala.
Rencana tindak lanjut tersebut juga akan dikoordinasikan dengan pengawas sekolah agar proses perubahan mendapatkan pendampingan dan dapat berjalan sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
“Saya berharap kegiatan Bimtek Program PINTAR MBS tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi benar-benar menjadi awal dari perubahan yang nyata di sekolah. Pada akhirnya, seluruh proses ini bermuara pada satu tujuan, yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi murid,” katanya.
Fasilitator Daerah Tanoto Foundation, Budi Herijanto, menjelaskan bahwa Bimtek PINTAR MBS dirancang untuk memperkuat kapasitas kepala sekolah dalam menerapkan praktik baik manajemen berbasis sekolah.
Baca Juga: Siapa yang Ajukan Batik Indonesia ke UNESCO?
Baca Juga: Kenapa 2 Oktober Diperingati sebagai Hari Batik?
Penguatan tersebut mencakup tiga aspek yang saling berkaitan, yakni kualitas pembelajaran, manajemen sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah.
Penguatan tersebut mencakup tiga aspek yang saling berkaitan, yakni kualitas pembelajaran, manajemen sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah.
“Tujuannya agar kepala sekolah dapat menunjukkan praktik baik MBS di sekolahnya dalam meningkatkan pembelajaran, manajemen sekolah, dan kepemimpinan kepala sekolah,” ujar Budi.
Budi menegaskan, pelatihan tidak dirancang berhenti pada penguasaan materi. Setelah mengikuti bimtek, setiap kepala sekolah harus membawa hasil pembelajaran ke satuan pendidikan masing-masing melalui rencana tindak lanjut.
Rencana tersebut kemudian dikumpulkan kepada pengawas sekolah. Pengawas selanjutnya memantau pelaksanaan program melalui pendampingan di masing-masing satuan pendidikan.
“Pengawas akan mengecek rencana tindak lanjut dan memantau pelaksanaannya melalui program pendampingan pada satuan pendidikan. Dengan demikian, program yang direncanakan dapat benar-benar berjalan sesuai harapan,” ungkapnya.
Baca Juga: Pancasila Tak Tergantikan, Generasi Muda Diminta Teladani Veteran
Menurut Budi, proses tersebut penting agar pelatihan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga melahirkan praktik yang dapat dirasakan dalam pengelolaan sekolah dan proses belajar mengajar.
Menurut Budi, proses tersebut penting agar pelatihan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga melahirkan praktik yang dapat dirasakan dalam pengelolaan sekolah dan proses belajar mengajar.
Ia berharap para kepala sekolah mampu mengambil peran sebagai pemimpin pembelajaran yang efektif. Kepala sekolah juga diharapkan berani mengambil keputusan, tetapi tetap terbuka terhadap masukan dari guru dan warga sekolah.
Budi juga mendorong kepala sekolah dan guru untuk tidak takut mencoba pendekatan baru dalam pembelajaran. Menurutnya, inovasi membutuhkan keberanian untuk mencoba sekaligus kesiapan mengevaluasi hasilnya.
“Lakukan kegiatan dengan percaya diri. Guru terbaik cukup percaya diri untuk mengambil risiko dalam mencoba sesuatu yang baru. Kepala sekolah yang baik tidak pernah lupa bahwa persoalan pendidikan adalah perbaikan atau peningkatan, bukan kesempurnaan,” pesannya.
Ia mengajak para pendidik terus mengajukan pertanyaan sederhana dalam menjalankan tugas sehari-hari: apa yang dapat diperbaiki dan peningkatan apa yang sudah dilakukan hari ini.
Melalui PINTAR MBS, kepala sekolah di Kota Pekalongan tidak hanya diarahkan menjadi pengelola satuan pendidikan, tetapi juga menjadi penggerak yang mampu menghubungkan kepemimpinan, guru, inovasi dan kebutuhan murid.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com