METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Kebanggaan kembali datang dari dunia pendidikan Kota Pekalongan. Dua siswi SD Negeri Keputran 6, Kinzie Cetta Ramadhania dan Diandra Prameswari Aghni Pratama, berhasil membawa nama sekolah dan Kota Pekalongan ke panggung Duta Batik Indonesia tingkat nasional.
Salah satu prestasi diraih Diandra Prameswari Aghni Pratama atau Aghni. Siswi kelas 4 tersebut berhasil menjadi 4th Runner Up Duta Batik Indonesia Jawa Tengah setelah bersaing dengan puluhan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Capaian tersebut sekaligus membuka jalan bagi Aghni untuk mewakili Jawa Tengah dalam ajang Duta Batik Indonesia tingkat nasional. Kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11–13 Oktober 2026 di Yogyakarta.
Bagi Aghni, lolos ke tingkat nasional bukan hanya soal prestasi, tetapi juga kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperkenalkan batik dari Kota Pekalongan kepada masyarakat yang lebih luas.
Baca Juga: Viral Diusir dari Kursi Saat Final Timnas, Ternyata Salah Duduk
Baca Juga: Influenza di Pekalongan Masih Aman, Warga Jangan Lengah
“Saya merasa senang dapat memperoleh pengalaman baru melalui ajang tersebut. Targetnya untuk memberikan penampilan terbaik pada tingkat nasional,” kata Aghni saat ditemui di SD Negeri Keputran 6 Kota Pekalongan, Rabu (7/10/2026).
Persiapan pun mulai dilakukan. Selain melatih kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan publik, Aghni tengah menghafalkan materi presentasi mengenai batik Batangan sebagai bekal tampil di tingkat nasional.
Kecintaannya terhadap batik tumbuh tidak hanya melalui kegiatan di luar sekolah, tetapi juga dari pembelajaran yang diterimanya di SD Negeri Keputran 6. Ia memahami batik sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki karakter berbeda di setiap daerah.
“Melalui ajang Duta Batik, saya juga belajar mengenal beragam karakter batik di berbagai daerah. Setiap daerah memiliki ciri khas motif dan warna yang menjadi identitas budaya masing-masing, termasuk batik Pekalongan yang dikenal memiliki keragaman motif dan warna,” ungkapnya.
Baca Juga: Biar Tak Sepi, Pemkot Siapkan Pengelola Baru di TWL
Baca Juga: Bukan Cuma Kota Batik, Pekalongan Pernah Dijuluki "Kota Cheater"
Di luar kegiatan akademik, Aghni juga aktif mengembangkan kemampuan modeling. Ia telah menekuni dunia modeling sejak berusia lima tahun dan kini rutin berlatih di Ardan Modeling School.
Aktivitas tersebut dijalankan bersamaan dengan sekolah dan les. Tantangan bagi Aghni kini adalah menjaga keseimbangan antara pendidikan, latihan, serta persiapan menghadapi kompetisi nasional.
Kepala SD Negeri Keputran 6 Kota Pekalongan Suwartini menyampaikan kebanggaannya atas capaian dua siswinya tersebut. Menurut dia, prestasi itu menunjukkan bahwa siswa di sekolahnya memiliki ruang untuk berkembang tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga seni dan budaya.
“Kami berbangga dan bersyukur karena ada dua putri terbaik kami yang berprestasi. Salah satunya Aghni yang terpilih sebagai Runner Up Duta Batik Jawa Tengah dan melaju ke tingkat nasional,” ujar Suwartini.
Sekolah, lanjutnya, memberikan dukungan kepada Aghni selama menjalani persiapan menuju tingkat nasional. Dukungan diberikan melalui doa, kebutuhan latihan, serta keleluasaan waktu agar siswi tersebut dapat mengembangkan bakat dan minatnya.
Baca Juga: Mengenal Pindang Tetel Pekalongan, Sejarah, Rasa, dan Tempat Makannya
Baca Juga: Apes! Bukan Cuma Muatan, Tas Sopir Juga Hilang di Alas Roban
“Kami memberikan waktu atau dispensasi untuk mengembangkan bakat dan minat Ananda supaya berkembang dan membawa nama baik SD Negeri Keputran 6, Kota Pekalongan, dan Jawa Tengah,” katanya.
Guru Pembimbing Batik SD Negeri Keputran 6 Ristia Ningrum mengatakan keikutsertaan siswa dalam ajang Duta Batik menjadi salah satu bentuk nyata penerapan pembelajaran batik di sekolah.
Menurutnya, siswa tidak cukup hanya mengenal teori batik di dalam kelas. Pengetahuan tersebut perlu dikembangkan melalui kegiatan praktik sehingga mereka dapat memahami sekaligus mengenalkan batik kepada orang lain.
“Ketika anak-anak mengetahui pengetahuan batik di kelas, kemudian mereka mengimplementasikannya dalam kegiatan lain, salah satunya melalui modeling dan menjadi duta batik. Di situ mereka bisa mengeksplor pengetahuan batik sekaligus mengedukasi teman-temannya,” jelas Ristia yang akrab disapa Irum.
Pembelajaran tersebut juga mendorong siswa mengenal karakter batik dari berbagai wilayah Indonesia. Dengan begitu, pemahaman mereka terhadap batik tidak terbatas pada batik Pekalongan, tetapi berkembang menjadi wawasan mengenai keberagaman budaya nusantara.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com