METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Siapa bilang mengenal batik harus selalu menggunakan canting dan malam? Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan, siswa berkebutuhan khusus diajak mengenal warisan budaya Indonesia dengan cara yang berbeda.
Bermodal pelepah pisang, pewarna, dan kertas, mereka belajar membatik sambil menuangkan kreativitas.
Kegiatan sederhana ini menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi murid kelas inklusi.
Di halaman sekolah, mereka mencelupkan pelepah pisang ,bagian batang daun pisang, yang dipotong, dicelup dalam pewarna lalu menempelkannya pada kertas hingga membentuk pola bunga.
Setiap cap menghasilkan bentuk yang unik, memberi ruang bagi anak-anak untuk bereksplorasi sesuai kemampuan masing-masing.
Bagi para murid, kegiatan tersebut bukan sekadar bermain warna. Mereka juga berkesempatan mengenal batik melalui pengalaman langsung, sekaligus belajar mencoba hal baru dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan.
Baca Juga: 2.314 PPPK Paruh Waktu Pekalongan Resmi Diperpanjang
Guru Inklusi SKB Kota Pekalongan, Media Hanani, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran luar kelas yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan murid.
Guru Inklusi SKB Kota Pekalongan, Media Hanani, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran luar kelas yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan murid.
Ketika kunjungan ke museum atau lokasi pembelajaran di luar sekolah belum memungkinkan diikuti semua anak, guru berupaya menghadirkan pengalaman serupa di lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal batik dari gambar atau penjelasan. Mereka perlu mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan yang sederhana, aman, dan menyenangkan. Anak-anak bisa mencoba sendiri, memilih warna, mencap, sekaligus belajar mengikuti proses kegiatan,” jelasnya, saat dikonfimrasi pada JUmat (9/10/2026).
Melalui teknik cap pelepah pisang, anak-anak juga dilatih mengembangkan sejumlah keterampilan. Mulai dari koordinasi mata dan tangan, kemampuan motorik halus, pengenalan warna, hingga mengikuti instruksi dan mengekspresikan kreativitas.
Baca Juga: Dua Anak Pelaku Bullying SDN 01 Kebondalem Direhab
Pembelajaran yang melibatkan gerakan, penglihatan, dan pengalaman konkret ini menjadi salah satu cara untuk membuat proses belajar lebih bermakna. Setiap murid diberi kesempatan untuk terlibat tanpa harus menghasilkan karya yang seragam.
Pembelajaran yang melibatkan gerakan, penglihatan, dan pengalaman konkret ini menjadi salah satu cara untuk membuat proses belajar lebih bermakna. Setiap murid diberi kesempatan untuk terlibat tanpa harus menghasilkan karya yang seragam.
Pendekatan inklusif tersebut juga menunjukkan bahwa pengenalan budaya dapat dilakukan dengan metode yang fleksibel.
Anak-anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut mengalami proses kreatif yang membantu mereka mengenal lingkungan dan mengembangkan potensi diri.
Momentum Hari Batik menjadi kesempatan bagi SKB Kota Pekalongan untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak dini.
Warisan budaya tidak hanya diperkenalkan melalui cerita atau gambar, tetapi juga melalui kegiatan yang dapat disentuh, dicoba, dan dinikmati langsung oleh murid.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com