Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Eceng Gondok yang Dianggap Gulma, Kini Jadi Pupuk Organik di Padukuhan Kraton Kota Pekalongan

Lutfi Hanafi • Senin, 12 Mei 2025 | 03:06 WIB
OLAH ECENG GONDOK - Warga Padukuhan Kraton Pekalongan Barat saat olah eceng gondok jadi pupuk organik.
OLAH ECENG GONDOK - Warga Padukuhan Kraton Pekalongan Barat saat olah eceng gondok jadi pupuk organik.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Tanaman air eceng gondok yang selama ini dianggap gulma atau pengganggu, kini mulai mendapatkan tempat baru dalam dunia pertanian ramah lingkungan.

Di Kelurahan Padukuhan Kraton, tanaman ini diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan urban farming masyarakat setempat.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan atas tumpukan eceng gondok yang menyumbat aliran sungai dan memperburuk kondisi rob.

Baca Juga: Nekat Todong Petugas Saat Mabuk, Pemuda Bersenjata Cutter Diamankan dalam Operasi Premanisme di Pekalongan

Warga bersama pejabat Kelurahan Padukuhan Kraton menggagas solusi kreatif, mengubah gulma menjadi berkah.

“Selama ini eceng gondok dianggap pengganggu, tapi nyatanya dia punya potensi luar biasa sebagai bahan kompos,”  kata Lurah Padukuhan Kraton, Widya Putry Nugroho, Minggu 11 Mei 2025.

Ia menjelaskan, pemanfaatan eceng gondok sebagai kompos tidak hanya membantu membersihkan lingkungan perairan, tapi juga menghasilkan media tanam berkualitas tinggi.

Baca Juga: Operasi Premanisme di Pemalang, Polisi Amankan Remaja Bersenjata Busur Panah Siap Tawuran

Menurut Putry, proses pembuatan kompos dari eceng gondok cukup sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri oleh warga.

Tanaman eceng gondok yang telah dicacah dicampurkan dengan tanah atau sekam dengan perbandingan 1:1.

Setelah didiamkan selama minimal dua minggu, campuran tersebut akan berubah menjadi kompos siap pakai.

Baca Juga: Kuripan Yosorejo (Kuryod) Jadi Teladan Kelurahan Mandiri Sampah di Tengah Darurat Sampah Kota Pekalongan

“Tanpa perlu tambahan bahan kimia, eceng gondok yang sudah kami proses bisa menjadi media tanam yang subur. Satu karung eceng gondok dan satu karung tanah bisa menghasilkan dua karung kompos,” terang Putry.

Saat ini, produksi masih dilakukan dalam skala kecil dan digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan (urban farming) di wilayah kelurahan.

Warga menanam berbagai tanaman sayur dan herbal di pekarangan rumah menggunakan kompos hasil olahan eceng gondok ini.

Baca Juga: Sinergi Polres, Pemkab, dan Petani Pemalang, Sukses Gelar Panen Perdana Jagung Hibrida

Meski belum dipasarkan secara luas, inovasi ini sudah membawa dampak positif bagi lingkungan dan kehidupan sosial warga.

Sungai menjadi lebih bersih, dan tanah-tanah di kawasan rob yang sebelumnya miskin unsur hara kini kembali subur.

"Alhamdulillah, ini bentuk kontribusi nyata warga dalam menghadapi persoalan lingkungan, sekaligus solusi kreatif mengatasi kelangkaan pupuk organik," imbuh Putry.

Ke depan, pihak kelurahan berencana menggandeng komunitas lingkungan dan sekolah untuk memperluas program ini serta menjadikannya sebagai bagian dari edukasi lingkungan hidup berbasis masyarakat.

Dengan kandungan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, eceng gondok terbukti bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah.

Jika dikelola dengan tepat, tanaman yang dulu menjadi masalah kini berpotensi menjadi solusi pertanian masa depan yang berkelanjutan. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#kota pekalongan #pupuk organik #tanaman air #gulma #eceng gondok #urban farming #olah #rob #ramah lingkungan #wilayah rob