METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Tanaman air eceng gondok yang selama ini dianggap gulma atau pengganggu, kini mulai mendapatkan tempat baru dalam dunia pertanian ramah lingkungan.
Di Kelurahan Padukuhan Kraton, tanaman ini diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan urban farming masyarakat setempat.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan atas tumpukan eceng gondok yang menyumbat aliran sungai dan memperburuk kondisi rob.
Warga bersama pejabat Kelurahan Padukuhan Kraton menggagas solusi kreatif, mengubah gulma menjadi berkah.
“Selama ini eceng gondok dianggap pengganggu, tapi nyatanya dia punya potensi luar biasa sebagai bahan kompos,” kata Lurah Padukuhan Kraton, Widya Putry Nugroho, Minggu 11 Mei 2025.
Ia menjelaskan, pemanfaatan eceng gondok sebagai kompos tidak hanya membantu membersihkan lingkungan perairan, tapi juga menghasilkan media tanam berkualitas tinggi.
Baca Juga: Operasi Premanisme di Pemalang, Polisi Amankan Remaja Bersenjata Busur Panah Siap Tawuran
Menurut Putry, proses pembuatan kompos dari eceng gondok cukup sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri oleh warga.
Tanaman eceng gondok yang telah dicacah dicampurkan dengan tanah atau sekam dengan perbandingan 1:1.
Setelah didiamkan selama minimal dua minggu, campuran tersebut akan berubah menjadi kompos siap pakai.
“Tanpa perlu tambahan bahan kimia, eceng gondok yang sudah kami proses bisa menjadi media tanam yang subur. Satu karung eceng gondok dan satu karung tanah bisa menghasilkan dua karung kompos,” terang Putry.
Saat ini, produksi masih dilakukan dalam skala kecil dan digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan (urban farming) di wilayah kelurahan.
Warga menanam berbagai tanaman sayur dan herbal di pekarangan rumah menggunakan kompos hasil olahan eceng gondok ini.
Baca Juga: Sinergi Polres, Pemkab, dan Petani Pemalang, Sukses Gelar Panen Perdana Jagung Hibrida
Meski belum dipasarkan secara luas, inovasi ini sudah membawa dampak positif bagi lingkungan dan kehidupan sosial warga.
Sungai menjadi lebih bersih, dan tanah-tanah di kawasan rob yang sebelumnya miskin unsur hara kini kembali subur.
"Alhamdulillah, ini bentuk kontribusi nyata warga dalam menghadapi persoalan lingkungan, sekaligus solusi kreatif mengatasi kelangkaan pupuk organik," imbuh Putry.
Ke depan, pihak kelurahan berencana menggandeng komunitas lingkungan dan sekolah untuk memperluas program ini serta menjadikannya sebagai bagian dari edukasi lingkungan hidup berbasis masyarakat.
Dengan kandungan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, eceng gondok terbukti bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah.
Jika dikelola dengan tepat, tanaman yang dulu menjadi masalah kini berpotensi menjadi solusi pertanian masa depan yang berkelanjutan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla