Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kelompok Cahya Buwana, Tetap Merawat Adat Jawa di Tengah Gempuran Budaya Asing

Lutfi Hanafi • Jumat, 13 Desember 2024 | 23:04 WIB
PERTEMUAN -Anggota Cahya Buwana Batang saat menggelar pertemuan dan ritual rutin selalu berpakaian adat Jawa
PERTEMUAN -Anggota Cahya Buwana Batang saat menggelar pertemuan dan ritual rutin selalu berpakaian adat Jawa

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di tengah derasnya arus budaya asing, kelompok penghayat kepercayaan Cahya Buwana di Kabupaten Batang tetap kokoh mempertahankan adat budaya Jawa.

Dengan anggota sekitar 80 orang, kelompok ini rutin melaksanakan pertemuan dan ritual yang sarat makna, mencerminkan komitmen mereka untuk nguri-uri (melestarikan) budaya leluhur.

Tokoh pewayangan Semar menjadi simbol sentral yang memandu filosofi hidup mereka.

Semar, sebagai Sang Pamomong adalah figur pengayom yang menjaga harmoni alam dan sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Simbol ini juga diiringi dengan angka 1610, yang melambangkan pesan tersembunyi “Ha Dha La” atau adil—prinsip utama yang dijunjung dalam kehidupan sehari-hari.

"Kami berpegang pada keadilan, baik sebagai pemimpin maupun warga biasa. Ini adalah pesan luhur yang kami terapkan dalam kehidupan," kata Ketua Cahya Buwana Batang, Agus Wahyono.

Pada setiap pertemuan rutin, anggota kelompok ini mengenakan pakaian adat Jawa dan berbicara dalam bahasa Jawa.

Dalam suasana khusyuk, mereka melantunkan kidung macapat seperti Gambuh, Kinanthi, dan Asmaradhana sebagai pujian kepada Sang Pencipta.

Ritual tersebut dilengkapi dengan sesajian berupa buah-buahan, bunga, jajanan pasar, dan dupa yang ditempatkan di depan patung Semar.

SAJEN - Seajai yang disuguhkan untuk Ki eyang Semar oleh anggota Cahya Buwana saat ritual.
SAJEN - Seajai yang disuguhkan untuk Ki eyang Semar oleh anggota Cahya Buwana saat ritual.

Uniknya, dalam ritual-ritual tertentu, ruh Semar disebut memasuki tubuh seseorang yang dipilih, memberikan wejangan berupa petuah kehidupan.

Salah satu anggota, Reni, 35 tahun, sering menjadi medium ruh Semar.

"Ketika kerasukan, saya tidak sadar sama sekali. Suara saya berubah, dan biasanya memberikan nasihat kepada yang hadir," kata Reni, yang sehari-hari adalah ibu rumah tangga.

Sebagai penghayat kepercayaan, anggota Cahya Buwana kerap mendapat pandangan miring.

Banyak yang menganggap mereka tidak beragama, meskipun anggapan ini dibantah tegas oleh anggota seperti Tu'ati.

"Kami tidak bertentangan dengan agama. Setiap anggota tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Kami hanya berusaha menjaga adat budaya Jawa agar tidak hilang," jelas Tu'ati.

Selain melestarikan tradisi, kelompok ini juga merawat situs-situs budaya seperti Petirtaan Balekambang di Gringsing dan situs Gunung Asem di Banyuputih.

Ini menunjukkan komitmen mereka terhadap pelestarian warisan leluhur.

Meskipun sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah, Cahya Buwana tetap bertahan dengan nilai-nilai sederhana yang berbasis kejujuran dan keadilan.

Mereka juga aktif berpartisipasi dalam acara tahunan di Gunung Srandil, Cilacap, yang mempertemukan anggota dari berbagai daerah.

Di era modern ini, keberadaan Cahya Buwana menjadi bukti nyata bagaimana adat dan budaya lokal masih bisa bertahan.

Mereka tidak hanya merawat warisan leluhur, tetapi juga menawarkan nilai-nilai universal yang relevan, yakni keadilan, kejujuran, dan harmoni.

Kelompok ini mengajarkan para penganut kepercayaan Cahya Buwana bahwa menjaga identitas budaya tidak hanya soal tradisi, tetapi juga semangat untuk mempertahankan harmoni di tengah perubahan zaman. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#budaya asing #Kabupaten Batang #Kelompok penghayat kepercayaan