METROPEKALONGAN.COM – Pernahkah Anda melihat ganjel truk?
Benda kecil berbentuk segitiga ini mungkin terlihat sederhana, namun siapa sangka memiliki peran vital bagi kendaraan berat seperti truk dan bus.
Di Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, ganjel truk bukan hanya alat pengaman, tetapi juga bagian dari kehidupan warga setempat yang telah menjadi ikon desa.
Terbuat dari kayu keras seperti nangka, mangga, atau mahoni. Ganjel truk ini berfungsi layaknya rem tangan darurat yang memastikan kendaraan tidak bergerak sendiri saat parkir atau berhenti.
Dengan ukuran panjang sekitar 30 sentimeter, ganjel truk ini dirancang kokoh, lengkap dengan gagang dari kayu melinjo untuk mempermudah penggunaannya.
Usaha pembuatan ganjel truk di Surodadi dimulai pada tahun 1970-an. Ketika itu Jalan Raya Pantura Alas Roban masih dipenuhi tanjakan dan turunan tajam.
Menurut warga setempat, usaha ini kali pertama dirintis oleh almarhum Mbah Sumat dengan peralatan manual sederhana.
Seiring dengan waktu, usaha ini berkembang dan menjadi salah satu penghasilan utama penduduk Desa Surodadi.
Nahrowi, 48, salah satu perajin ganjel truk di Desa Surodadi saat ini menceritakan, ganjel truk hasil produksinya banyak dibeli oleh pemilik ekspedisi besar.
“Biasanya, mereka mengambil ratusan biji sekaligus,” katanya.
Namun, Nahrowi tidak memulai dari bahan kayu utuh. Ia membeli bahan setengah jadi yang dipotong kasar dari perajin lain, lalu dia menghaluskan dan melengkapinya dengan gagang.
“Pegangan ganjel ini harus dari kayu melinjo. Kalau pakai kayu lain, mudah patah,” tambahnya.
Di sepanjang jalan Desa Surodadi, hampir semua warung kopi menjual ganjel truk.
Mbak Yayuk, salah seorang pemilik warung mengatakan, ganjel truk menjadi barang dagangan yang laris.
“Dalam sehari, saya bisa menjual lima ganjel truk dengan harga Rp 20 ribu per biji,” ungkapnya.
Bagi pengemudi truk seperti Haryanto, yang sering melintas antarprovinsi, Desa Surodadi menjadi satu-satunya tempat di Jawa yang menjual ganjel truk secara masal.
“Kadang saya beli bukan karena rusak, tapi lupa mengambil ganjel truk setelah parkir,” ujarnya sambil tersenyum.
Uniknya, para sopir truk menyebutkan ganjel ini dengan nama KEK, istilah yang populer di kalangan pengemudi asal Jawa Timur. Kini menjadi sebutan umum.
Keunikan bisnis ganjel truk ini, mendorong Kepala Desa Surodadi, Muhlisin, menjadikannya sebagai simbol desa.
Simbol desa tersebut akan diabadikan dengan membuat patung ganjel truk di pertigaan jalan raya desa.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Muspika dan hanya tinggal menunggu izin dari Dinas Perhubungan Kabupaten Batang,” jelas Muhlisin.
Camat Gringsing, Ridho Budi Kurniawan, menyambut baik ide tersebut.
Ia menilai, usaha pembuatan ganjel truk memiliki nilai ekonomis tinggi dan berdampak besar bagi perekonomian desa.
“Mulai dari penyedia kayu, perajin, hingga pengecer, semuanya terlibat dalam rantai produksi ganjel ini,” katanya.
Meskipun jalan-jalan sekarang relatif datar, fungsi ganjel truk tetap relevan, terutama saat parkir atau bongkar muat.
Bahkan, beberapa pabrik mewajibkan penggunaan ganjel truk sebagai bagian standar keamanan.
Dengan sejarah panjang, fungsi vital, dan keunikan yang melekat, ganjel truk menjadi lebih dari sekadar alat pengaman.
Di Desa Surodadi, ganjel truk adalah bagian dari identitas daerah yang patut dilestarikan dan dibanggakan warganya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla