Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Batik Oey Soe Tjoen, Batik Tulis Pekalongan yang Menginjak Usia Seabad, Pekerja Tinggal Belasan Orang

Nanang Rendi Ahmad • Rabu, 29 Januari 2025 | 17:36 WIB

LEGENDARIS: Salah seorang pekerja rumah batik OST sedang fokus menggarap batik tulis Oey Soe Tjoen.
LEGENDARIS: Salah seorang pekerja rumah batik OST sedang fokus menggarap batik tulis Oey Soe Tjoen.

METROPEKALONGAN COM, Kajen - Tahun ini Batik Oey Soe Tjoen (OST) menginjak usia 100 tahun. Rumah batik peranakan di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan ini terancam punah. Dulu pekerjanya ratusan, kini tinggal belasan.

Batik OST berdiri sejak 1925. Didirikan oleh Oleh Oey Soe Tjoen sendiri dan dikerjakan bersama istrinya.

Sejak berdiri hingga sekarang, lokasi rumah batik OST tak pernah pindah. Berada di Jalan Raya Kedungwuni nomor 208.

Kini rumah batik itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Dialah Widianti Widjaja atau Oey Kiem Lian. Perempuan 48 tahun tersebut merupakan cucu Oey Soe Tjoen yang kini memegang tongkat estafet Batik OST.

Menurut Widianti, kakeknya memang lahir dan besar dari keluarga pembatik.

Oey Soe Tjoen atau Soetjondro Widjaja kemudian menjadi penjual batik yang memasarkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah.

Lambat laun lalu menjelma menjadi pengusaha batik dengan ratusan pekerja.

"Saat itu ada 150 pekerja. Dulu kan orang jago membatik itu banyak. Enggak seperti sekarang. Sekarang pekerja yang membantu saya tinggal 12 orang," ungkapnya. 

Sepeninggal Oey Soe Tjoen, usaha dilanjutkan oleh salah seorang anaknya yaknj Oey Kam Long atau Muljadi Widjaja. Itulah ayah Widianti Widjaja.

Meski sang pendiri telah tiada, namun nama Batik OST makin terkenal di era Oey Jam Long.

Pada 1972 mulai mendapat pelanggan dari luar negeri seperti Australia, Malaysia, Singapura, hingga Jerman. Rata-rata memang kolektor.

"Sejak saya yang pegang, manajemen saya ubah. Kami hanya melayani batik pesanan (by order)," ujarnya.

Itulah mengapa rumah batik OST tak punya gerai. Sebab, kata Widia, kalau pun ada gerai apa yang akan dipajang.

"Apa yang saya jual? Wong saya hanya melayani by order," ucapnya.

Pada era Oey Kam Long, jumlah pekerja di OST mulai berkurang.

Dari 150 menjadi 60-an orang. Saat awal era Widianti juga kembali berkurang, menjadi 30-an orang. Hingga kini menjadi tinggal 12 orang. 

BATIK PERANAKAN: Widianti Widjaja, cucu Oey Soe Tjoen bersama salah seorang pekerjanya ketika sedang mengerjakan proses nglorot.
BATIK PERANAKAN: Widianti Widjaja, cucu Oey Soe Tjoen bersama salah seorang pekerjanya ketika sedang mengerjakan proses nglorot.

Sejak berdiri hingga sekarang, keluarga OST konsisten hanya mengerjakan batik tulis.

Meski gempuran batik cap dan industri makin masif, Widia tetap memegang pakem mendiang ayah dan kakeknya.

Pengerjaan satu helai batik OST, kata Widia, butuh waktu 1,5 tahun. Itu jika dikerjakan secara terus menerus.

Namun karena pengerjaannya bergantung pula dengan cuaca dan kondisi kesehatan pekerja, maka idealnya satu helai bisa memakan waktu tiga tahun.

"Jadi yang kami kerjakan saat ini misalnya, itu bisa merupakan pesanan dari tahun-tahun lalu," jelasnya.

Widia mengakui, Batik OST sudah memasuki senja kala. Ia sendiri tak yakin anak-anaknya bisa meneruskan usaha ini.

Di antara anak-anaknya belum ada yang tertarik memegang tongkat estafet OST. 

"Kalau ditanya sayang, ya tentu saja sayang sekali kalau ini berhenti. Tapi satu sisi, saya tak bisa memaksa anak saya untuk bergelut di batik. Mereka berhak memilih jalan sendiri," tandasnya. (nra/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#satu abad #batik peranakan #batik oey soe tjoen #batik pekalongan