METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Dalam sunyi, Erick Sunardi, 36, merenungi jalan hidup yang telah membawanya kepada keyakinan yang kini ia peluk erat.
Pria asal Pekalongan Timur, Kota Pekalongan ini, lahir dari keluarga besar yang memiliki latar belakang agama berbeda-beda.
Baca Juga: Perjalanan Spiritual Sri Wulan Madyowati, Dari Budha hingga Menemukan Ketenangan dalam Islam
Ia anak kedelapan dari sembilan bersaudara, dengan ibu dan saudara-saudara yang beragama Kristen. Ayah yang menganut Konghucu, serta kakek yang beragama Buddha.
Namun kini, dalam keyakinan barunya sebagai seorang Muslim, ia menemukan ketenangan dan kedamaian.
Sejatinya, benih ketertarikan Erick terhadap Islam telah tumbuh sejak ia menempuh pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, jurusan Teknik Industri, angkatan 2008.
Baca Juga: Pengendara Motor di Pemalang Kaget Ada Razia Polisi, Ternyata Bagi-Bagi Takjil Pakai Kostum Wayang
Kampusnya yang didominasi 50 persen mahasiswa Muslim membuatnya akrab dengan ajaran Islam.
Ia kerap bergaul dengan teman-temannya yang Muslim.
Kemudian mengamati cara mereka berinteraksi, cara memperlakukan orang lain dengan adab yang santun, hingga menjalankan ibadah mereka dengan penuh disiplin.
“Saya tidak banyak bertanya atau berdiskusi tentang Islam. Namun, saya melihat langsung bagaimana seorang Muslim hidup dalam keseharian mereka. Dari cara makan yang menjaga kehalalan, cara menghormati teman, hingga ketatnya dalam menjalankan ajaran agama,” kenang Erick.
Bahkan, ia sempat tinggal di rumah seorang teman Muslim karena sering mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam.
Dari kedekatan itu, semakin banyak kebiasaan Muslim yang ia saksikan dan rasakan sendiri.
Namun, ia belum memutuskan untuk memeluk Islam hingga akhirnya bertemu dengan seorang perempuan yang kini menjadi istrinya.
Wanita Muslim asal Kabupaten Batang itulah yang kemudian menjadi penguat langkahnya menuju Islam.
Baca Juga: Kelurahan Podosugih Kota Pekalongan Siap Bertarung di Lomba Kampung KB 2025
Lima tahun lalu, Erick akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim. Namun, keputusannya bukan tanpa tantangan.
“Dari sisi keluarga, tentu ada jarak yang muncul karena saya dianggap berbeda. Tidak semua bisa menerima, tapi saya berprinsip bahwa yang penting saya tidak menyakiti siapapun,” ungkapnya.
Menghadapi konsekuensi tersebut, Erick semakin menguatkan tekadnya untuk sukses, terutama dalam bidang ekonomi.
Baca Juga: Kemenag Latih Mualaf dan Penyandang Disabilitas di Kabupaten Pekalongan tentang Kewirausahaan
Sejak masih kuliah di Bandung, ia telah merintis usaha sablon yang hingga kini masih ia jalankan dengan tekun.
Baginya, keislaman bukan hanya keyakinan dalam hati, tetapi juga pembuktian dalam kehidupan nyata.
Selain bekerja keras, Erick juga terus memperdalam pemahamannya tentang Islam.
Baca Juga: Perjalanan Spiritual Sri Wulan Madyowati, Dari Budha hingga Menemukan Ketenangan dalam Islam
Ia rutin mengikuti jamaah salawat di Majelis Habib Zaky Al Habsyi, Kauman, Kota Pekalongan, serta aktif belajar mengaji dan memperbaiki salatnya.
“Saya masih banyak belajar, dan saya ingin terus menjadi Muslim yang lebih baik,” tuturnya dengan penuh ketulusan.
Kini, Erick tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga ingin menjadi manfaat bagi orang lain.
Baca Juga: Sekjen Kemenag Wakili Indonesia dalam Konferensi Islam ASEAN di Thailand
“Saya ingin berguna untuk sekitar, membantu mereka yang membutuhkan. Semoga jalan ini semakin membawa berkah,” ujarnya penuh harap.
Kisah Erick Sunardi menjadi bukti bahwa hidayah bisa datang dari berbagai arah.
Kendati perjalanannay menuju cahaya tidak selalu mudah.
Baca Juga: Haul Ki Ageng Gringsing, Ulama Penyebar Islam di Batang Timur Abad 1.600 Masehi
Namun, dengan keteguhan hati dan keikhlasan, ia menemukan makna baru dalam hidupnya—sebagai seorang Muslim yang berusaha lebih baik setiap harinya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla