Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Miftakhutin, Pembatik yang Menjaga Identitas dan Tradisi Batik Rifaiyah Langganan Warga Singapura

Magang • Selasa, 8 Juli 2025 | 18:40 WIB
JAGA IDENTITAS : Mbak Utin saat menghadiri undangan event internasional
JAGA IDENTITAS : Mbak Utin saat menghadiri undangan event internasional

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Berkat ketekunan dan keberaniannya dalam mempertahankan tradisi, Miftakhutin, 48, atau yang akrab disapa Mbak Utin berhasil membawa batik Rifaiyah dikenal hingga mancanegara, bahkan sampai ke Singapura.

Miftakhutin atau Mbak Utin, tetap setia menggunakan teknik membatik tradisional. Yakni menggambar sendiri motifnya dan menorehkan malam panas dengan tangan.

Proses panjang ini memakan waktu hingga tiga bulan hanya untuk satu lembar kain.

Kendati gempuran teknologi dan kecepatan produksi tekstil modern sangat luar biasa pengaruhnya. Namun pilihan ini adalah bentuk komitmennya dalam menjaga kemurnian seni batik Rifaiyah.

Sejak 2012, Mbak Utin membentuk kelompok usaha bersama bernama Tunas Cahaya bersama pembatik lainnya.

Melalui kelompok ini, ia aktif mengikuti berbagai pameran batik di berbagai kota di Indonesia, sekaligus menjalin sinergi dengan pemerintah dan komunitas pecinta batik.

Tak hanya itu, Mbak Utin juga membuka pelatihan membatik setiap hari Minggu di rumahnya, sebagai upaya regenerasi.

Para peserta datang dari berbagai wilayah, bahkan dari luar kecamatan, seperti Limpung.

"Regenerasi pembatik Rifaiyah ini sudah sangat sulit. Tapi saya membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin belajar," jelasnya.

Batik Rifaiyah memiliki ciri khas unik. Motifnya tidak menampilkan makhluk hidup, sesuai dengan ajaran spiritual yang dianut komunitas Rifaiyah.

Corak yang sarat filosofi ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pembeli luar negeri yang mencari keunikan dalam setiap helai kain.

 “Harapan saya, semua kalangan—bukan hanya kaum Rifaiyah—bisa menjaga dan meneruskan budaya kita yang hampir punah ini,” ujar Mbak Utin.

Semangatnya adalah cerminan dari sebuah perjuangan sunyi. Yakni menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, satu gores malam demi satu motif yang mengalir dari tangan yang penuh cinta dan keyakinan.

Terkait usahanya bisa dikenal sampai Singapura, bermula di tahun 2018.

Mbak Utin diundang ke ajang internasional "Meet The Makers" di Singapura, memperkenalkan karya batik khas Kalipucang Wetan yang penuh nilai spiritual dan simbolik.

Sejak saat itu, pelanggan dari Negeri Singa rutin memesan batik buatannya. Bahkan, beberapa di antaranya dijadwalkan akan datang langsung ke rumah Mbak Utin pada 28 Juli 2025 mendatang.

“Mereka akan belajar membatik sekaligus membeli kain batik Rifaiyah langsung dari pembuatnya,” katanya. (chilyatul ashfiya/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#batik #singapura #Batik Rifaiyah #batang