METROPEKALONGAN.COM, Batang – Masyarakat Dukuh Seturi, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, kembali menggelar tradisi tahunan sedekah laut pada Sabtu 13 Juli 2025.
Tradisi ini ditandai dengan pelarungan kepala kerbau dan berbagai sesaji ke tengah laut sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari laut.
Tradisi sedekah laut ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Seturi yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
Mereka percaya, dengan melakukan ritual larung kepala kerbau ke laut, mereka menghormati alam dan memohon keselamatan serta hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Rangkaian acara dimulai sejak Jumat malam, 12 Juli 2025. Kemudian digelar pentas seni tradisional sintren.
Keesokan harinya, sebelum larung dilaksanakan, masyarakat menggelar kirab budaya yang meriah, melibatkan pertunjukan barongsai dan hiburan musik dangdut yang menyedot perhatian warga sekitar.
Suasana makin semarak dengan deretan kapal nelayan yang dihias meriah. Kapal-kapal ini dipasangi bendera plastik warna-warni, bunga, serta makanan ringan yang digantung rapi di sekitar badan kapal.
Ratusan warga menaiki kapal tersebut, bergerak dari kawasan sungai yang menuju perairan tengah Laut Utara Jawa.
Puncak acara terjadi saat kepala kerbau dan sesaji dilarung secara simbolis di tengah laut. Prosesi ini menjadi momen sakral yang diiringi doa bersama dan lantunan puji-pujian. Meski berlangsung sederhana, acara ini tetap sarat makna dan penuh kekhidmatan.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu dan selalu dilakukan setiap tahun di sini,” ujar seorang nelayan, sambil memperhatikan kapal-kapal yang perlahan bergerak ke tengah laut membawa sesaji.
Tradisi larung kepala kerbau ini rutin dilaksanakan setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap alam dan budaya leluhur, sedekah laut ini juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial antarwarga serta menarik perhatian pengunjung dari daerah lain.
Dengan tetap mempertahankan adat dan kearifan lokal, masyarakat Dukuh Seturi menunjukkan bagaimana budaya pesisir bisa terus hidup berdampingan dengan zaman. (chilyatul ashfiya/ida)
Editor : Ida Nor Layla