METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di antara rimbunnya hutan Alas Roban yang terkenal angker, berdiri sebuah tebing batu raksasa yang menjulang sunyi, yakni Wadas Kelir.
Terletak di Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, tebing ini tampak seolah dipahat secara halus oleh tangan tak kasat mata.
Dari bentuknya yang datar sempurna di salah satu sisi, masyarakat setempat menyebutnya “Kelir”, atau dalam bahasa Jawa berarti layar, seperti layar pertunjukan wayang.
Dulu, ketika warga masih sering mencari kayu bakar di hutan, suara gamelan diyakini sebagai isyarat agar mereka segera pulang dan menunaikan ibadah salat Jumat. Sebuah cara halus dari alam untuk menegur manusia yang lupa waktu.
“Bukan semua orang bisa dengar. Kadang satu orang dengar, yang lain tidak. Itu tergantung hatinya,” lanjut Mbah Tunari sambil menghela napas.
Wadas Kelir memang semakin tergerus zaman. Aktivitas tambang batu, galian C, hingga suara mesin eskavator mulai mengusik ketenangannya.
Meski kini semakin jarang terdengar, namun suara gamelan itu sesekali masih muncul, menghantui mereka yang melintas di sekitar lokasi saat Jumat Kliwon.
Tak jauh dari batu kelir tersebut, dua sumber mata air juga menyimpan kisah mistis tersendiri.
Tuk Kebagusan, konon dipercaya bisa membuat wajah bayi dalam kandungan menjadi rupawan, jika sang ibu mencuci muka di sana.
Baca Juga: Tikungan Wulu-Wulu Alas Roban Makan Korban, Truk Bermuatan Baja Ringan Remuk Setelah Tabrak Median Jalan
Tuk Lumpang, dahulu digunakan oleh Raden Panji Laras untuk memandikan ayam jagonya sebelum adu laga.
Tuk ini diyakini sebagai cikal bakal munculnya kesenian Barongan (Singo Barong) yang erat kaitannya dengan energi gaib Alas Roban.
Ketika Tuk Lumpang masih ada airnya, banyak pemilik ayam jago memandikan ayamnya dengan harapan menjadi petarung hebat.
Baca Juga: Wisata Bendung Kedung Asem Tawarkan Eksotisnya Alas Roban dan Sungai Kalikuto, Hidden Gem Gringsing Kabupaten Batang
Sayangnya, kedua tuk itu kini telah hilang tertimbun longsor. Yang tersisa hanya cerita dan Wadas Kelir, yang masih berdiri sendiri, angkuh, menyimpan misterinya sendiri.
Warga kini mulai cemas, jika penggalian tambang terus merambah, bukan tak mungkin Wadas Kelir pun tinggal kenangan.
“Kalau Wadas Kelir rusak, entah apa yang akan terjadi. Kami hanya bisa berdoa semoga penunggunya tidak marah...” bisik Mbah Tunari dengan suara pelan, seolah takut didengar oleh sesuatu dari balik pepohonan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla