METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Forum Koordinasi Pemerintah Daerah (Forkopimda) Kota Pekalongan, TNI-Polri, berbagai organisasi masyarakat (Ormas), serta pelajar Kota Pekalongan, bersama melakukan ikrar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Pembacaan Ikrar NKRI tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Pekalongan Balqis Diab saat Apel Merah Putih yang dilaksanakan dalam rangkaian Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW Kanzus Sholawat di Lapangan Mataram, Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan pada Sabtu pagi 27 September 2025.
Ulama kharismatik dan bapak bangsa Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya sebagai khodimul maulid hadir bersama Ketua Umum Panitia Maulid Nabi Muhammad SAW Kanzus Sholawat Letjen TNI Marinir (Purn) Suhartono, M.Tr. (Han), bersama para tokoh masyarakat, pemuka agama, pelajar, serta unsur TNI dan Polri.
Dalam sambutannya, Balqis menekankan pentingnya menumbuhkan semangat kebangsaan dan memperkuat komitmen terhadap keutuhan NKRI. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mempererat tali silaturahmi dan menjaga persatuan di tengah keberagaman.
"Ikrar NKRI ini memperkuat kecintaan warga, terutama.generasi muda semakin cinta kepada tanah air, tanah kelahirannya, dan tempat tinggalnya," kata Balqis.
Bahkan saat terjadi kerusuhan 30 Agustus 2025 lalu, itu dipicu oleh warga luar Kota Pekalongan. Balqis yakin, warga dan generasi muda Kota Pekalongan sudah sangat teredukasi dan memiliki rasa cinta terhadap NKRI.
"Ikrar NKRI yang rutin dilakukan tiap tahun, semakin memperkuat kecintaan warga terhadap NKRI," tandasnya.
Suhartono menambahkan, tradisi tahunan Kanzus Sholawat ini tidak hanya bernilai religius tetapi juga sarat akan makna kebangsaan.
Kehadiran berbagai tokoh penting dari unsur pemerintah, militer, dan masyarakat menandai kuatnya sinergi untuk menjaga kedamaian dan harmoni di Kota Pekalongan.
"Masyarakat bangsa kita ini terdiri atas berbagai macam elemen. Bangsa kita ini bangsa majemuk yang memiliki beragam suku, ras, budaya, agama, dan keragaman lainnya semua ada di tanah air kita," kata Suhartono.
Dengan adanya apel merah putih dan ikrar NKRI ini diharapkan, perbedaan tak menjadi suatu yang melemahkan tetapi justru menjadi sebuah potensi kekuatan besar.
"Seperti contoh zaman dulu, para pemuda pada tahun 1928 menyatukan diri sepakat bersatu menuju kemerdekaan Indonesia," jelas Suhartono.
Perbedaan yang ada disatukan menjadi kekuatan luar biasa meskipun kemerdekaan bisa dicapai dengan perjuangan yang cukup panjang.
Saat ini bangsa Indonesia sudah merdeka, sudah seyogyanya para pemuda semakin memiliki semangat.
"Para pemuda menjadi tulang punggung bangsa untuk menuju kejayaan Indonesia. Saya mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk besatu padu, gotong royong, saling menghormati, dan toleransi satu dengan lain," pungkas Suhartono. (ida)
Editor : Ida Nor Layla