METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Museum Batik Pekalongan dipenuhi warna, canda, dan semangat, Kamis 9 Oktober 2025.
Sebanyak 130 anak difabel dengan antusias 'Mencolet' (menorehkan pewarna dengan kuas) di atas kain putih sepanjang 13 meter.
Setiap goresan warna membentuk motif batik yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat makna inklusivitas.
Kegiatan bertajuk “Batik untuk Semua” ini digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.
Perayaan semakin istimewa karena untuk pertama kalinya anak-anak difabel dilibatkan secara langsung dalam proses membatik. Mencolet dipilih, karena tehnik membatik ini, lebih mudah, dibanding men-cating.
Wakil Wali Kota Pekalongan Hj Balgis Diab menyampaikan rasa syukur sekaligus haru melihat semangat para peserta.
Kegiatan tersebut, kata Balgis, bukan sekadar perayaan, tapi momen istimewa yang membuktikan bahwa batik adalah milik semua.
"Kami ingin anak-anak difabel tidak hanya memakai batik, tetapi juga merasakan proses kreatifnya. Harapannya, mereka menjadi generasi emas yang mencintai dan melestarikan batik,” ungkapnya.
Dalam suasana penuh kehangatan, Balgis bersama jajaran pemerintah turut membaur dengan anak-anak difabel, ikut menorehkan warna di kain sepanjang 13 meter itu.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat perekat persatuan tanpa batas.
Menurut Balgis, mengenalkan batik sejak dini adalah langkah penting untuk memastikan warisan leluhur tetap lestari.
“Batik tidak boleh hanya berhenti di museum atau sekadar dikenakan saat acara formal. Batik harus hidup, dikerjakan, dirasakan, dan diwariskan. Itulah makna perayaan hari ini,” tambahnya.
Para guru dan pendamping sekolah juga tampak bangga melihat anak-anak didik mereka berkreasi.
Salah satu kepala sekolah khusus menyebutkan, momen ini memberikan ruang berekspresi bagi anak-anak difabel.