Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Hari Batik di Pekalongan, 130 Anak Difabel Mewarnai Kain 13 Meter

Lutfi Hanafi • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 04:25 WIB
MENCOLET - Wakil WaliKota Pekalongan Hj Balgis Diab bersama ratusan anak difabel saat mencolet di halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis (9/10/2025)
MENCOLET - Wakil WaliKota Pekalongan Hj Balgis Diab bersama ratusan anak difabel saat mencolet di halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis (9/10/2025)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Museum Batik Pekalongan dipenuhi warna, canda, dan semangat, Kamis 9 Oktober 2025.

Sebanyak 130 anak difabel dengan antusias 'Mencolet' (menorehkan pewarna dengan kuas) di atas kain putih sepanjang 13 meter.

Setiap goresan warna membentuk motif batik yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat makna inklusivitas.

Kegiatan bertajuk “Batik untuk Semua” ini digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.

Perayaan semakin istimewa karena untuk pertama kalinya anak-anak difabel dilibatkan secara langsung dalam proses membatik. Mencolet dipilih, karena tehnik membatik ini, lebih mudah, dibanding men-cating.

Wakil Wali Kota Pekalongan Hj Balgis Diab menyampaikan rasa syukur sekaligus haru melihat semangat para peserta.

Kegiatan tersebut, kata Balgis, bukan sekadar perayaan, tapi momen istimewa yang membuktikan bahwa batik adalah milik semua.

"Kami ingin anak-anak difabel tidak hanya memakai batik, tetapi juga merasakan proses kreatifnya. Harapannya, mereka menjadi generasi emas yang mencintai dan melestarikan batik,” ungkapnya.

Dalam suasana penuh kehangatan, Balgis bersama jajaran pemerintah turut membaur dengan anak-anak difabel, ikut menorehkan warna di kain sepanjang 13 meter itu.

Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat perekat persatuan tanpa batas.

Menurut Balgis, mengenalkan batik sejak dini adalah langkah penting untuk memastikan warisan leluhur tetap lestari.

“Batik tidak boleh hanya berhenti di museum atau sekadar dikenakan saat acara formal. Batik harus hidup, dikerjakan, dirasakan, dan diwariskan. Itulah makna perayaan hari ini,” tambahnya.

Para guru dan pendamping sekolah juga tampak bangga melihat anak-anak didik mereka berkreasi.

Salah satu kepala sekolah khusus menyebutkan, momen ini memberikan ruang berekspresi bagi anak-anak difabel.

“Mereka butuh ruang untuk menunjukkan kemampuan. Melalui membatik, mereka belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya,” ujarnya.

Baca Juga: Hari Batik Dunia, Kota Pekalongan Mantap Jadikan Batik Warisan dan Ekonomi Rakyat
 
Acara ditutup dengan doa bersama serta tepuk tangan meriah, mengiringi senyum puas anak-anak difabel yang berhasil menyelesaikan kain batik raksasa tersebut.
 
Museum Batik Pekalongan hari itu tidak hanya menjadi saksi lahirnya karya, tetapi juga lahirnya semangat kebersamaan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla
#kota pekalongan #difabel #hari batik #museum batik #kain batik