METROPEKALONGAN.COM, Turki — Angin musim gugur yang dingin di Sakarya tak menghalangi hangatnya tepuk tangan yang menggema dari dalam gedung Kongre Merkezi Universitas Sakarya.
Di tempat inilah, ratusan mahasiswa internasional dan warga Turki menyaksikan kembali bagaimana kekayaan budaya Indonesia tampil megah dalam festival Muhteşem Endonezya, sebuah helatan tahunan yang dipersembahkan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sakarya.
Tahun ini, festival mengusung tema “Story of Dreamland” kisah simbolis yang merangkai keberagaman Indonesia dalam satu panggung dramatik penuh warna, tarian, musik, dan cerita legenda.
Pengunjung tak hanya diajak menonton kebudayaan Nusantara, tetapi benar-benar masuk ke dalamnya.
Tiga hari sebelum malam puncak, PPI Sakarya menggelar acara pemanasan bertajuk Batik x Ebru, kolaborasi budaya antara seni lukis air khas Turki dan batik Indonesia.
Kegiatan yang diadakan pada 25 November 2025 ini langsung ramai diserbu mahasiswa lokal.
Mahasiswa Indonesia dan Turki tampil bersama membuka acara dengan tarian tradisional.
Mereka lalu berbaur mempelajari cara memegang canting, menorehkan malam panas di atas kain, hingga memahami filosofi motif batik.
Di sisi lain ruangan, mahasiswa Indonesia belajar seni Ebru, melukis di atas air yang menghasilkan corak lembut nan indah. Beberapa pengunjung Turki terlihat terpana melihat batik yang dapat dicoba langsung.
Ketua panitia, Reisyaff Fiermy Cantando Abiyu, menyebut bahwa acara tahun ini merupakan hasil perjuangan panjang.
“Indonesia itu sangat indah. Kami ingin dunia tahu. Lewat festival ini, kami menyampaikan bahwa mengenal budaya baru itu menyenangkan," katanya kepada metropekalongan.com, pada Senin 1 Desember 2025.
Festival ini juga dihadiri pejabat penting Sakarya seperti Kepala Dinas Migrasi, Kepala Distrik Serdivan, serta Dinas Olahraga Provinsi.
Kehadiran mereka menambah legitimasi bahwa diplomasi budaya Indonesia diterima dengan antusias.
Lebih dari 900 pengunjung memenuhi arena malam itu. Lampu-lampu panggung berkedip, musik tabola-bale menggema, dan seluruh penampil naik ke panggung bersama.
Pesan yang tertangkap sangat jelas, Indonesia dicintai bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena keragaman yang dirayakan dengan tulus.
Memasuki area acara pada 28 November, aroma rempah dari kuliner Nusantara langsung menyergap.
Nasi tumpeng, sate, soto, pastel, hingga jajanan pasar disusun rapi seolah membawa pengunjung pulang ke Indonesia.
Registrasi yang dipisah antara pengunjung Indonesia dan internasional membuat antrean lebih tertib.
Setiap orang menerima suvenir gantungan kunci dompet batik, serta uang mainan yang bisa ditukar dengan kudapan khas Indonesia.
Tepat pukul 18.00 TRT, festival dibuka dengan lantunan tilawah, disusul lagu kebangsaan Turki dan Indonesia.
Sorak hangat terdengar saat Dubes RI untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, memainkan angklung sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
Baca Juga: Petugas Damkar Digigit Ular Sanca, Alami 17 Luka Sobek
Panggung kemudian berubah menjadi dunia dongeng. Melalui drama naratif, penonton diajak mengikuti perjalanan Arsa, tokoh yang mencari “dreamland” sambil mengungkap sejarah dan budaya Indonesia berdasarkan buku warisan kakeknya.
Dari Saman, Silat, Jejer Gandrung, Tari Piring, Tari Dayak, Tarung Sarung, Kecak, hingga tarian khas Indonesia Timur—setiap tampilannya membuat penonton terperangah.
“Kami merasa seperti menjelajahi seluruh Indonesia dalam dua jam,” kata Aygül Aladı, mahasiswi asal Turki.
Para pengunjung Turki dan mahasiswa internasional tampak antusias. Banyak yang mengunggah foto ke media sosial dan menandai akun PPI Sakarya.
“Yang paling menarik adalah tarian-tarian Indonesia. Kalian punya banyak sekali! Dan kalian begitu ramah. Jika ada acara seperti ini lagi, saya pasti datang. I love Indonesia!” ujar Aygül yang menonton dari awal hingga akhir.
Sementara Wakil Rektor Universitas Sakarya, Özer Köşeoğlu, memuji keseriusan mahasiswa Indonesia dalam merawat budaya bangsanya.
“Budaya adalah identitas bangsa. Apa yang dilakukan mahasiswa Indonesia patut diapresiasi.”
Muhteşem Endonezya bukan hanya festival budaya. Ia adalah jembatan emosional yang membuat Indonesia terasa dekat—bahkan di Tanah Empat Musim.
“Dari dulu saya kira batik itu dicetak, ternyata benar-benar dilukis. Luar biasa,” ujar Seda, salah satu mahasiswi Turki.
Acara ini ditutup dengan foto bersama, disertai ajakan untuk menghadiri malam puncak yang dijanjikan akan jauh lebih megah. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla