Jika melihat seorang pria berseragam sederhana duduk di warung makan pinggir jalan, berbincang akrab sambil tertawa kecil bersama warga, jangan buru-buru menyangka ia orang biasa.
Bisa jadi, ia adalah Wabup Batang, Suyono, S.IP., M.Si. Tanpa protokoler berlebihan, ia menikmati makan siang sederhana. Bahkan diam-diam membayar semua pesanan warga yang sedang makan di warung tersebut.
Bagi Suyono, kepemimpinan bukan soal duduk di balik meja atau berbicara dari podium. Ia meyakini, kebijakan yang baik akan lahir dari mendengar langsung suara rakyat, di tempat-tempat yang jujur. Seperti, warung makan, teras rumah, dan jalanan kampung.
“Di situ bahasa rakyat keluar apa adanya, dari hati,” ujarnya.
Kebiasaan hadir langsung di tengah masyarakat bukan pencitraan. Itu adalah karakter. Sejak jauh sebelum menjabat Wabup Batang periode 2025–2030, Suyono dikenal sebagai sosok lapangan.
Ia lebih nyaman duduk sejajar dengan warga, berjabat tangan tanpa sekat, dan membiarkan masyarakat berbicara tanpa rasa sungkan. Ia bahkan sengaja “meninggalkan jabatan” saat turun ke lapangan.
“Kalau jabatan saya bawa, rakyat sungkan. Saya ingin mereka bicara jujur,” katanya.
Ada kebiasaan kecil yang nyaris tak pernah ia tinggalkan, mobilnya selalu berisi beras. Bukan untuk seremoni bantuan, bukan pula untuk agenda resmi.
Beras itu disiapkan untuk situasi mendesak, ketika ia bertemu warga yang benar-benar kesulitan makan hari itu. “Orang lapar tidak bisa menunggu program,” ucapnya singkat.
Setiap Jumat, ia rutin menyantuni anak yatim. Di hari lain, ia mentraktir warga di warung makan, di mana pun ia singgah. Baginya, makan bersama rakyat adalah simbol kepemimpinan.
“Kalau bapaknya makan, anak-anaknya juga harus makan,” ujarnya, menggambarkan kedekatan batin yang ia bangun dengan masyarakat.
Suyono yang lahir pada 27 April 1966, tumbuh dengan nilai kesederhanaan yang masih ia pegang hingga kini.
Pendidikan formal ia tempuh secara bertahap. Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (S.IP.) diraihnya dari Universitas Widya Mataram Yogyakarta pada 2007.
Ia kemudian menyelesaikan Magister Sains (M.Si.) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (UNdip), Semarang, pada 2012.
Meski mengakui pentingnya bangku kuliah, Suyono percaya pengalaman lapangan adalah guru kehidupan yang sesungguhnya.
Pandangan itu pula yang membentuk perjalanan politiknya. Berangkat dari akar rumput sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia pernah dua periode menjadi anggota DPRD Kabupaten Batang.
Pada periode 2017–2022, Suyono dipercaya menjabat Wabup Batang mendampingi Wihaji, yang kini menjabat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN dalam Kabinet Indonesia Maju 2024–2029.
Dalam duet tersebut, Suyono dikenal sebagai figur yang intensif turun ke lapangan, menyerap aspirasi warga di luar ruang-ruang formal birokrasi.
Setelah sempat tidak menjabat, kepercayaan rakyat kembali datang. Melalui Pilkada 2024, Suyono terpilih mendampingi M. Faiz Kurniawan sebagai Wabup Batang periode 2025–2030, diusung koalisi partai besar seperti PPP, Golkar, Gerindra, dan PKS.
Di tengah dinamika politik dan kritik yang datang silih berganti, Suyono memegang satu prinsip sederhana, tidak korupsi dan tidak menipu rakyat. “Uang rakyat harus kembali ke rakyat,” tegasnya.
Kepada generasi muda yang ingin terjun ke pemerintahan, ia berpesan agar tidak takut gagal dan tidak alergi turun ke lapangan.
“Pengalaman adalah penyempurna dari sekolah. Teori penting, tapi mendengar rakyat jauh lebih penting,” ujarnya.
Bagi Suyono, kepemimpinan hari ini bukan lagi soal perintah dari atas, melainkan perjalanan bersama dari bawah.
Dan jika suatu hari jabatan itu tak lagi melekat, ia memastikan satu hal tetap sama. Dia akan tetap duduk di warung makan, mentraktir warga, dan membagikan beras dari mobilnya.
Karena bagi Suyono, pemimpin sejati tidak diingat dari jabatannya, tetapi dari kehadiran, ketulusan, dan tindakan kecil yang bermakna besar.
"Politik butuh uang, tidak semua politik uang sukses. Terbukti belum satu tahun sudah 7 kepala daerah ditangkap KPK," tandasnya. (han/ida)