METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di sebuah rumah teduh yang sekaligus menjadi sanggar seni di Desa Gringsing, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, warna-warna tanah disulap menjadi lukisan bernilai tinggi.
Di sanalah Didik Hariyanto yang akrab disapa Didik Blangkon, mengekspresikan hidupnya lewat kanvas—tanpa cat pabrikan, tanpa bahan mahal.
Bagi sebagian orang, nama Didik mungkin terdengar asing. Namun siapa sangka, karya pelukis nyentrik berusia 52 tahun, kelahiran Kendal ini, justru telah dikoleksi tokoh-tokoh nasional.
Di antaranya, mulai dari Ganjar Pranowo, mantan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) yang pernah maju sebagai calon presiden, hingga Wihaji, mantan Bupati Batang yang kini menjabat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Keunikan Didik terletak pada medium yang ia gunakan. Tanah—berbagai jenis dan warna—menjadi bahan utama lukisannya. Tanah cokelat, kemerahan, hingga keabu-abuan ia kumpulkan dari sekitar rumah.
Jika menginginkan warna tertentu, Didik tak segan membawa pulang segenggam tanah dari tempat yang ia lewati.
“Kalau sedang jalan dan menemukan tanah yang warnanya unik, pasti saya ambil,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain tanah, Didik memanfaatkan arang untuk warna hitam, gamping untuk putih, serta bata merah yang dihaluskan.
Baginya, seni tak harus lahir dari bahan mahal. Alam sudah menyediakan semuanya.
Yang lebih mencengangkan, lukisan berukuran besar—bahkan mencapai 150 x 80 sentimeter—bisa ia selesaikan hanya dalam waktu satu hingga dua jam, lengkap dengan detail yang rapi.
Kecepatan itu bukan tanpa kualitas. Justru, di situlah banyak orang terperangah.
Bakat melukis Didik muncul sejak kecil. Saat masih sekolah, ia gemar mencoret buku dengan pensil atau pulpen.
Meski sederhana, coretannya selalu mengundang pujian. Saat remaja, Didik sempat berguru pada pelukis ternama S. Ton, namun ia memilih jalannya sendiri.
Bukan ekspresionis seperti sang guru, Didik lebih nyaman dengan aliran idealis—melukis apa yang ia rasakan dan inginkan.
Inspirasi melukis dengan tanah datang secara tak terduga. Tahun 2004, abu vulkanik letusan Gunung Merapi menyelimuti Gringsing.
Saat membersihkan lantai rumah, Didik tersadar bahwa abu itu meninggalkan warna unik. Dari coba-coba, lahirlah ciri khas yang kini melekat erat pada dirinya.
Lukisan itulah yang paling ia jaga. Bukan untuk dijual. Bagi Didik, karya tersebut adalah masterpiece, karena menggambarkan sosok ayahnya saat mengikuti karnaval. Pengagum lukisan Didik, Nisa, menyebut karya-karyanya seolah memiliki daya magis.
“Detailnya luar biasa, padahal dikerjakan sangat cepat. Lukisan Jembatan Kali Kuto itu lengkap, ada lalu lintas Pantura, Jembatan Merah, sampai tugu daun jati,” katanya, masih tak percaya melihat Didik menyelesaikan lukisan kurang dari satu jam.
Perjalanan seni Didik juga tak selalu mulus. Pernah tiga lukisannya tertahan di Bandara Soekarno-Hatta saat hendak dibawa ke Singapura.
Bea cukai menganggapnya barang mewah dan mengenakan pajak tinggi. Lukisan itu akhirnya batal ke luar negeri dan terjual di Jakarta.
Pernah pula karyanya dilelang, dibeli Rektor UIN Riau, dan hasilnya digunakan untuk membantu teman yang sakit.
Baca Juga: Mengobati Rindu Pelaku Seni melalui Pekalongan Art Festival
Dalam keseharian, Didik tampil apa adanya—sarung, baju batik, dan blangkon selalu melekat. Penampilannya itulah yang membuat banyak orang memanggilnya Pak Blangkon.
Ke mana-mana, ia mengendarai motor tua Zundapp keluaran 1958, menegaskan karakternya sebagai seniman sejati. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla