METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Suasana Jalan Blimbing, kawasan Sampangan, Kota Pekalongan, berubah menjadi lautan manusia selama tiga hari terakhir.
Ribuan warga memadati gelaran Pintoe Dalem Street Fair 2026. Yakni, festival lintas budaya yang dikenal sebagai bazar Imlek terbesar di Kota Batik yang berlangsung pada 6–8 Maret 2026.
Festival ini menghadirkan perpaduan budaya, kuliner, serta hiburan rakyat yang meriah. Deretan tenda bazar, panggung seni, hingga atraksi budaya, memantik perhatian masyarakat dari berbagai wilayah.
Salah satu pengunjung, Ferdian mengaku selalu menunggu acara tahunan tersebut. Baginya, Pintoe Dalem Street Fair bukan sekadar festival, tetapi juga menjadi ruang nostalgia bagi warga keturunan Tionghoa untuk mengenang suasana perayaan Imlek bersama keluarga.
“Saya selalu menunggu acara ini setiap tahun. Rasanya seperti mengingat masa kecil saat merayakan Imlek bersama keluarga. Selain budaya Tionghoa yang ditampilkan, kulinernya juga banyak yang jarang ditemui,” katanya saat ditemui Minggu 8 Maret 2026.
Antusiasme juga datang dari warga non-Tionghoa. Laela, warga Medono, sengaja datang untuk menikmati suasana festival sekaligus berburu menu berbuka puasa di tengah bulan Ramadan.
“Ramai sekali, mas. Sekalian jalan-jalan untuk refreshing. Jarang ada festival budaya seperti ini. Makanan halal juga banyak, jadi bisa sekalian cari takjil,” katanya.
Sepanjang festival, panggung utama menampilkan beragam pertunjukan seni yang mencerminkan akulturasi budaya.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Pemkot Pekalongan Pilih Cara Humanis Tata PKL
Atraksi barongsai dari komunitas Klenteng Po An Thian menjadi salah satu yang paling dinanti pengunjung, dengan pertunjukan yang menyusuri sepanjang jalan festival.
Selain itu, kesenian tradisional lokal seperti Sintren dari kelompok Kudo Bekso Utomo 1970 turut memeriahkan acara. Pada malam hari, panggung utama diisi pertunjukan live music yang menemani pengunjung menikmati suasana bazar.
Di area bazar kuliner, puluhan pelaku UMKM menawarkan beragam makanan, mulai dari camilan tradisional hingga hidangan khas Imlek.
Panitia juga mengelompokkan stand makanan halal dan non-halal agar pengunjung dapat memilih dengan nyaman, termasuk bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
Dengan perpaduan budaya, kuliner, dan hiburan rakyat, Pintoe Dalem Street Fair 2026 kembali membuktikan diri, selain festival budaya yang paling dinanti warga, juga simbol toleransi dan keberagaman di Kota Pekalongan.
Tidak hanya hiburan, festival ini juga menghadirkan prosesi budaya yang sarat makna. Salah satunya kirab Halaman Kio yang membawa tandu Yang Mulia Tek Hay Cin Jin, dewa perdagangan dalam tradisi Tionghoa.
Kirab tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh sekaligus simbol kebersamaan antarumat di Kota Pekalongan.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Pekalongan Hj. Balgis Diab resmi membuka kegiatan tersebut pada Jumat 6 Maret 2026.
Ia mengapresiasi festival yang rutin digelar setiap tahun, yang mampu mempererat kerukunan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat bisa berkumpul, menikmati hiburan, sekaligus mempererat persaudaraan dalam suasana kebersamaan,” ujarnya.
Menurut Balgis, Pintoe Dalem Street Fair tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu mendorong geliat ekonomi masyarakat melalui kehadiran pelaku UMKM dan sektor wisata budaya di Kota Pekalongan. (han/ida)