METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Syafaat Festival Bubur Suro Krapyak 2026 resmi dibuka di Lapangan Leo, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Jumat (10/7/2026).
Perhelatan budaya yang telah memasuki tahun ketujuh ini tak hanya menjadi penanda datangnya Tahun Baru Islam, tetapi juga berkembang sebagai ruang penguatan ekonomi syariah, pemberdayaan UMKM, serta percepatan transformasi digital di Kota Pekalongan.
Pembukaan festival dilakukan oleh Wakil WaliKota Pekalongan Hj Balgis Diab, bersama perwakilan Bank Indonesia Tegal.
Tahun ini, Festival Bubur Suro berkolaborasi dengan Syariah Festival Ekonomi Tegal (Syafaat) 2026, mengusung semangat mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah melalui inovasi digital yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya lokal.
Baca Juga: BLK Kota Pekalongan Bekali Peserta Teknik Rias Hadapi Tantangan Dunia Profesional
Mengangkat tema "Suluk Krapyak: Setakir Sejarah dari Bahtera Nuh (Rupo, Roso, lan Dongo)", festival menghadirkan makna mendalam tentang tradisi Bubur Suro sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan doa yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Krapyak.
Selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Juli 2026, Lapangan Leo menjadi pusat berbagai kegiatan budaya, ekonomi, hingga edukasi keuangan syariah.
Sebanyak 76 stan UMKM meramaikan kawasan festival dengan menawarkan aneka kuliner khas, produk kreatif, dan kerajinan lokal.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, seluruh transaksi di kawasan festival telah menggunakan sistem pembayaran digital QRIS.
Inovasi tersebut sekaligus menjadi upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat sekaligus mendukung digitalisasi pelaku usaha mikro.
Tak hanya itu, Festival Bubur Suro tahun ini juga menjadi momentum peluncuran QRIS Wakaf yang didukung Bank Indonesia.
Inisiatif tersebut diharapkan mampu memperluas pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan wakaf produktif serta memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Kota Pekalongan.
Baca Juga: Dari Perbatasan NKRI ke Pekalongan, Letkol Inf Muhammad Nurul Chabibi Siap Lanjutkan Pengabdian
Wakil Walikota Pekalongan Balgis Diab saat hadir menegaskan bahwa Festival Bubur Suro bukan sekadar seremoni menyambut Tahun Baru Islam.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi media untuk mempererat silaturahmi masyarakat sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap ekonomi digital dan literasi keuangan.
"Festival ini tidak hanya menampilkan Bubur Suro sebagai tradisi budaya, tetapi juga mengajak masyarakat semakin memahami ekonomi digital dan pentingnya literasi keuangan," ujarnya.
Balgis juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), komunitas, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan festival tahunan tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, Andi Arslan Djunaid, mengatakan Festival Bubur Suro menjadi salah satu langkah memperkuat visi Pekalongan sebagai Kota Wakaf Produktif sekaligus destinasi wisata ramah muslim.
Ia berharap sinergi antara budaya, ekonomi syariah, pemerintah, dan pelaku UMKM dapat terus diperkuat sehingga Festival Bubur Suro berkembang menjadi agenda berskala nasional tanpa kehilangan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas masyarakat Krapyak.
Rangkaian acara festival masih akan berlangsung hingga Minggu (12/7/2026). Selain menghadirkan hiburan musik dan jalan sehat, puncak acara akan diisi kirab budaya serta pembagian sekitar 5.000 porsi Bubur Suro gratis kepada masyarakat sebagai simbol syukur, keberkahan, dan kebersamaan yang terus dijaga lintas generasi.(han/MG4/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto