METROPEKALONGAN.COM, Wonokerto - Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jambean, Desa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, tampak lebih ramai dari biasanya, Minggu (12/7/2026). Mereka memeriahkan Semarak Budaya Sedekah Laut TPI Jambean 2026.
Pesta rakyat tahunan ini dimeriahkan dengan acara larung saji, hiburan wayang, hingga lomba dayung, yang mempertemukan puluhan tim dari berbagai daerah. Menariknya, acara tersebut sangat meriah dengan memanfaatkan iuran nelayan yang dibayar bukan dengan uang, melainkan ikan segar hasil tangkapan. Sudah setengah abad tradisi ini bertahan, mengikat warga pesisir dalam satu perayaan penuh syukur.
"Jadi seluruh nelayan itu memakai iuran yang tidak pakai uang, tapi pakai ikan. Setiap masuk ke TPI nanti akan diambil," kata Suroto, salah satu panitia Semarak Budaya Sedekah Laut TPI Jambean 2026.
Dari hasil penjualan ikan iuran itu, ditambah donasi dan sponsorship, dana yang terkumpul dalam setahun untuk membiayai Semarak Sedekah Laut biasanya berkisar Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Bahkan tahun lalu sempat menembus sekitar Rp 400 juta. “Masyarakat ramai-ramai mendukung nelayan mencari tangkapan yang lebih banyak untuk disumbangkan,” katanya.
Lomba dayung menjadi salah satu daya tarik utama yang paling dinanti. Tahun ini tercatat lebih dari 80 tim ambil bagian, datang dari Batang, Pekalongan, hingga sejumlah daerah luar seperti Jakarta dan Jawa Timur.
Menariknya, panitia sengaja tidak mengikutsertakan tim tingkat nasional maupun pelatnas agar bibit-bibit baru mendapat kesempatan unjuk prestasi.
Salah satu tim asal daerah setempat, Jovanka, tahun lalu berhasil menyabet juara satu dalam kejuaraan di Ancol, Jakarta. Prestasi itu membuktikan, ajang lomba dayung lokal mampu menjadi batu loncatan bagi generasi muda hingga ke level nasional.
Setiap tim lomba dayung beranggotakan 11 orang, terdiri atas satu komandan dan sepuluh pendayung. Total biaya penyelenggaraan lomba dayung saja mencapai sekitar Rp 70 juta, dengan total hadiah yang diperebutkan sebesar Rp 32 juta untuk juara satu, dua, tiga, serta empat kategori juara harapan. Para peserta yang datang dari luar kota bahkan mendapat fasilitas naik kapal gratis serta jatah makan selama mengikuti acara.
Semarak yang terus berkembang ini, menurut Suroto, tak lepas dari akar tradisi yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, diwariskan sejak generasi ayahnya. Semarak Sedekah Laut digelar setiap tahun untuk melestarikan budaya nelayan, menjaga keseimbangan kehidupan para nelayan, dan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah menurunkan tradisi tersebut.
"Kita satu, melestarikan budaya nelayan, supaya ada gunanya. Yang kedua, menjaga keseimbangan kehidupan nelayan. Dan yang ketiga, penghormatan dari leluhur"
Suroto menambahkan, geliat ekonomi dari Semarak Sedekah Laut sesungguhnya hanya puncak dari denyut ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun di sekitar TPI. Di Desa Wonokerto, tempat tradisi ini berakar, hampir 70 persen warganya berprofesi sebagai nelayan.
Ke depan, Suroto berharap tradisi Semarak Budaya Sedekah Laut TPI Jambean tak hanya dipandang sebagai ritual tahunan semata, bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya yang dikenal luas.
Ia berharap ada dukungan lebih serius dari pemerintah agar tradisi warisan leluhur ini tetap lestari sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga pesisir, khususnya generasi muda yang menjadi penerus tradisi. (mg1/ida)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto