METROPEKALONGAN.COM - Dunia microstock sedang dihebohkan dengan banyaknya akun kontributor yang terkena banned, baik sementara maupun permanen.
Hal ini disebabkan oleh kebijakan tegas dua raksasa microstock, Shutterstock dan Getty Images, yang melarang keras unggahan produk berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dikutip dari penggiat microstock, Onyengradar, melalui akun media sosialnya, ia menyebut bahwa kedua platform ini memang sudah sejak lama membatasi produk AI di marketplace mereka.
Alasannya, mereka lebih memilih untuk mengembangkan teknologi AI sendiri ketimbang menerima produk yang dihasilkan oleh alat AI pihak ketiga.
Para kontributor disarankan untuk mengunggah karya orisinal yang diambil menggunakan kamera atau ponsel.
"Jelek pun tidak apa-apa, asal bisa masuk atau approved," ujar Onyengradar.
Pasalnya, semakin banyak stok foto yang dimiliki oleh kontributor, peluang karya mereka terjual pun semakin besar.
Bahkan, jika gambar tidak masuk ke stok normal, karya tersebut bisa masuk ke Data Licensing dan tetap berkontribusi dalam pengembangan AI internal Shutterstock dan Getty Images.
Kini, microstock tidak hanya menilai kualitas foto, tetapi lebih mengutamakan kuantitas dan keberagaman gambar untuk melatih sistem AI mereka.
Dengan banyaknya data visual, AI dapat semakin canggih dalam menciptakan konten secara mandiri di masa depan.
Alasan di Balik Larangan AI di Shutterstock dan Getty Images. Pada tahun 2022, Getty Images secara resmi melarang unggahan dan penjualan gambar yang dihasilkan oleh AI, seperti yang dibuat menggunakan DALL-E, Midjourney, dan Stable Diffusion.
CEO Getty Images, Craig Peters, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil demi melindungi pelanggan dan menghindari potensi masalah hukum, terutama terkait hak cipta dan data biometrik.
Sementara itu, Shutterstock juga awalnya membatasi pencarian konten AI di platformnya.
Namun, pada Oktober 2022, mereka mengumumkan rencana untuk meluncurkan alat AI sendiri, bekerja sama dengan OpenAI dan LG.
Meskipun demikian, mereka tetap melarang kontributor mengunggah gambar dari AI eksternal seperti Midjourney, Stable Diffusion, dan Firefly.
Beberapa alasan utama di balik pembatasan ini antara lain, masalah Hak Cipta: Konten AI sering kali dibuat berdasarkan database gambar yang dilindungi hak cipta, sehingga berisiko meniru atau mereproduksi karya seniman lain tanpa izin.
Legalitas Konten: Banyak negara belum memiliki regulasi jelas mengenai kepemilikan hak cipta atas gambar yang dihasilkan oleh AI, sehingga platform lebih memilih untuk menghindari risiko hukum.
Kualitas dan Orisinalitas: Shutterstock dan Getty Images ingin memastikan bahwa semua konten di platform mereka adalah hasil karya asli manusia, bukan sekadar manipulasi algoritma.
Bagi kontributor yang tetap nekat mengunggah produk AI ke Shutterstock atau Getty Images, risikonya sangat besar.
Jika terdeteksi, akun mereka bisa terkena banned permanen, kehilangan pendapatan yang telah diperoleh, serta dilarang berkontribusi di masa mendatang.
Tidak hanya itu, pelanggaran hak cipta juga dapat membawa dampak hukum bagi individu yang melanggar kebijakan ini.
Pada Januari 2025, Shutterstock dan Getty Images mengumumkan merger senilai $3,7 miliar.
Langkah ini diyakini akan semakin memperkuat posisi mereka dalam industri microstock, sekaligus meningkatkan regulasi terhadap konten yang dapat diunggah ke platform.
Dengan perkembangan teknologi AI, platform microstock seperti Shutterstock dan Getty Images berusaha menyeimbangkan inovasi dan perlindungan hak cipta.
Bagi para kontributor, memahami dan mematuhi kebijakan platform adalah langkah penting agar tetap bisa berkontribusi tanpa risiko terkena banned.
Maka, bagi siapa pun yang ingin sukses di dunia microstock, pastikan untuk selalu mengunggah karya asli yang berkualitas dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. (han)
Editor : Ida Nor Layla