METROPEKALONGAN.COM - Pernahkah Anda melihat screenshot kota bergaya retro pixel art berseliweran di TikTok atau X (Twitter) belakangan ini? Jika iya, kemungkinan besar itu adalah TheoTown.
Fenomena unik sedang terjadi di kalangan gamer mobile Indonesia. TheoTown, sebuah game simulasi pembangunan kota (city builder) yang sebenarnya sudah dirilis cukup lama, mendadak kembali booming di tahun 2025-2026 ini.
Uniknya, game ini justru viral bukan karena grafik 3D yang ultra-realistis, melainkan karena kesederhanaan dan kebebasannya yang "liar".
Lantas, apa yang membuat TheoTown mendadak jadi primadona baru di Indonesia? Berikut ulasan lengkapnya.
1. Ramah "HP Kentang": Hiburan Tanpa Lag
Di tengah gempuran game berat seperti Genshin Impact atau Warzone Mobile yang menuntut spesifikasi tinggi, TheoTown hadir sebagai antitesis.
Game ini sangat ringan. Ukurannya kecil dan bisa berjalan mulus hampir di semua jenis smartphone, termasuk "HP kentang" sekalipun.
Aksesibilitas ini membuat TheoTown mudah dijangkau oleh siapa saja. Siapa pun bisa menjadi Walikota tanpa perlu khawatir baterai bocor atau hape panas. Ini menjadikannya game "pengisi waktu luang" (gabut) terbaik saat ini.
2. Fitur Mod & Plugin: Cita Rasa Nusantara
Ini adalah kunci utama viralnya TheoTown di Indonesia. Komunitas pemain lokal sangat kreatif dalam menciptakan plugin (modifikasi) yang menyuntikkan kearifan lokal ke dalam game.
Pemain tidak hanya membangun gedung pencakar langit ala New York, tapi bisa membangun suasana yang sangat "Indonesia", seperti:
Minimarket Lokal: Kehadiran Indomaret dan Alfamart di setiap tikungan jalan.
Transportasi: Angkot, bus antarkota, hingga ojek online.
Bangunan Ikonik: Masjid dengan arsitektur khas Jawa, gapura desa, hingga Monas.
Fitur ini membuat pemain merasa relate. Mereka tidak sedang membangun kota asing, melainkan sedang menata (atau mengacaukan) kota tempat tinggal mereka sendiri.
3. Ajang "Roleplay" dan Satire Politik
Salah satu aspek paling menarik dari tren TheoTown di Indonesia adalah bagaimana pemain menggunakannya sebagai media satire atau kritik sosial yang jenaka.
TheoTown memiliki mekanisme Demonstrasi dan Kerusuhan yang cukup kompleks. Jika pajak terlalu tinggi atau fasilitas kurang, warga (pixel) akan turun ke jalan membawa spanduk, bahkan bisa membakar gedung jika diabaikan.
Bagi gamer Indonesia, TheoTown bukan sekadar simulasi membangun gedung, tapi sebuah kanvas digital untuk mengekspresikan humor, kritik sosial, dan imajinasi liar tentang tata kota impian (atau mimpi buruk).
Sudah siap menjadi Walikota dan menghadapi demo warga Anda? TheoTown bisa diunduh gratis di Google Play Store dan App Store. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla