Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Festival Balon Pekalongan 2025, Langit Penuh Warna, Satukan Tradisi dan Inovasi

Lutfi Hanafi • Senin, 7 April 2025 | 23:45 WIB

MERIAH - Walikota Pekalongan Mas Aaf dan Ketua TP PKK Inggit Soraya turut menyaksikan kemeriahan Fesstival Balon Tambat 2025, di Lapangan Mataram (7/4/2025).
MERIAH - Walikota Pekalongan Mas Aaf dan Ketua TP PKK Inggit Soraya turut menyaksikan kemeriahan Fesstival Balon Tambat 2025, di Lapangan Mataram (7/4/2025).
 

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Langit Kota Pekalongan lebih penuh warna di banding hari-hari biasa.

Bukan hanya karena mendung lembut yang menyelimuti Senin pagi 7 April 2025, tapi juga karena warna-warni balon tradisional yang menghiasi cakrawala Kota Pekalongan.

Dari Lapangan Mataram di jantung wilayah Pekalongan Barat, ratusan pasang mata menengadah ke atas, menyaksikan keindahan balon udara yang melayang anggun, seperti lukisan hidup di langit biru kelabu.

Inilah Grand Final Festival Balon Pekalongan 2025 dakan perayaan tradisi yang meleburkan budaya, kreativitas, dan semangat kebersamaan warga dalam satu kemeriahan.

Tak kurang dari 28 tim terbaik berlaga di final, disaring dari 86 peserta yang mendaftar sejak awal.

Balon-balon yang tampil tak sekadar mengudara. Tapi menandakan mahakarya dari curahan kreativitas.

Ada yang menyerupai miniatur kapal pinisi, motif batik klasik, hingga tokoh ikonik seperti Naruto dan Son Goku.

Beberapa di antaranya, bahkan membawa pesan-pesan khas, seperti balon bertuliskan “Ajib”, akronim nama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pekalongan, Aaf-Balgis.

 

“Saya paling suka yang bermotif batik. Tapi penilaian tetap di tangan dewan juri. Saya pastikan semuanya fair play, tidak ada titipan,” kata Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid yang menyaksikan langsung bersama jajaran Forkopimda dan Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya.

Tradisi melepas balon udara di momen Syawalan telah lama menjadi ciri khas warga Kota Pekalongan.

Perkembangan dari tahun demi tahun, festival ini berkembang menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan.

Kini, menjadi wajah budaya Kota Pekalongan. Membuktikan kreativitas warga yang ditampilkan dengan cara paling spektakuler—menghias langit.

Tahun ini, 32 balon berhasil mengudara, termasuk 4 balon partisipatif dari instansi pemerintahan dan komunitas lokal.

Tak hanya menjadi ajang kompetisi. Festival ini adalah bentuk nyata dari gotong royong dan kerja sama tim.

Di balik tiap balon yang terbang, ada keringat, tawa, dan semangat warga yang bersatu.

“Tiap tahun makin kreatif. Kreativitas dan kekompakan jadi nilai penting dalam penilaian,” tambah Aaf.

Sejak subuh, ribuan warga sudah memadati Lapangan Mataram. Bahkan, parkir kendaraan meluber hingga ke Jalan Wilis, Jalan Kurinci, dan gang-gang sekitar.

Warga tak hanya datang dari Kota Pekalongan, tapi juga dari Kendal, Batang, Kajen, Pemalang, hingga Tegal.

Festival ini bukan hanya milik Pekalongan, tapi telah menjelma menjadi magnet wisata budaya tingkat regional.

Namun di balik keceriaan, ada kewaspadaan yang tetap dijaga. Balon udara, jika dilepas tanpa kontrol, bisa membahayakan jalur penerbangan.

Oleh karena itu, General Manager AirNav Semarang, Rita Nurharyanti, bersama Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub, Syamsu Rizal, turut hadir memantau langsung jalannya acara. 

Festival ini menunjukkan bahwa tradisi dan keselamatan bisa berjalan berdampingan. Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan memastikan setiap balon dilengkapi pengaman dan diterbangkan sesuai prosedur.

Lebih dari apapun, Festival Balon Pekalongan adalah bentuk cinta warga pada kotanya.

Sebuah cinta yang diwujudkan dalam balon raksasa yang melayang tinggi—mengirimkan pesan bahwa di Kota Batik ini, kreativitas dan kebersamaan tak pernah padam.

Dan langit Kota Pekalongan, untuk sejenak, berubah menjadi kanvas raksasa. Sebuah lukisan tentang harapan, warisan, dan semangat warga yang tak pernah berhenti bermimpi. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Festival Balon Pekalongan #tradisi syawalan