Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Dekat dengan Lokasi KITB, Bagaimana Nasib Situs Purbakala Pemandian Balekambang?

Lutfi Hanafi • Selasa, 30 Januari 2024 | 19:26 WIB
TUNJUKKAN: Salah penjaga situ purbakala Balekambang menunjukkan batu-batu kuno di sekitar pemandian.
TUNJUKKAN: Salah penjaga situ purbakala Balekambang menunjukkan batu-batu kuno di sekitar pemandian.

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Situs purbakala Balekambang terletak di Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, hingga kini masih jadi jujugan para wisatawan.

Apalagi saat ini keberadaan destinasi wisata tersebut dekat dengan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Tapi bagaimana nasib Kolam Pemandian dan Candi Terakota di lokasi tersebut ke depannya?

“Pemerintah Kecamatan Gringsing sudah mencoba melakukan koordinasi dengan pengelola KITB, terkait pengelolaan Balekambang,” kata Camat Gringsing Adhi Baskoro kepada METROPEKALONGAN.COM.

Pihaknya berharap, situs tersebut tetap dijaga. Kalau bisa, diberikan kemudahan akses jalan, agar masyarakat bisa mudah dan aman untuk mengunjunginya.

"Situs Balekambang itu luar biasa, jika ditangani serius. Bahkan, bisa menjadi ikon Kecamatan Gringsing dan aset budaya yang tidak ternilai," tegas Adhi.

Adhi Baskoro tidak berlebihan. Sebab, di sekitar pertirtaan itu terdapat bangunan candi yang tersusun dari terakota. Candi itu pernah digali dan terlihat bentuknya yang indah.

Tapi kemudian ditimbun tanah lagi, supaya tidak dijarah orang tak bertanggung jawab. Penimpunan ulang tersebut juga sambil menunggu ekskavasi.

Lokasi Balekambang sebenarnya tidak jauh dari Pantai Jodo yang menjadi ikon pantai di Gringsing. Akan tetapi, kendala akses jalan menjadi penghalang.

Jika sudah dibuatkan jalan khusus, wisatawan bisa mengunjungi dua lokasi tersebut dalam satu paket wisata.

Balekambang sendiri, berupa situs budaya berupa kolam permandian dan candi terakota (batu bata dari tanah liat yang dibakar). Diperkirakan berasal dari zaman Mataram Kuno Hindu Budha dan sudah berusia ribuan tahun.

Situs seluas 2046 M2 ini pada tahun 2011 silam, dimasukkan sebagai cagar budaya pertirtaan yang dilindungi. Tapi belum adanya penelitian yang lebih mendalam, jejak atau asal usulnya belum diketahui secara pasti.

Bagi masyarakat sekitar kolam Balekambang, sudah lama memanfaatkan situs tersebut untuk mencuci pakaian dan mengairi sawah. Airnya sangat jernih memancar dari dasar kolam dengan debit yang lumayan besar.

Di sekelilingnya terdapat batu-batu persegi dengan ornamen dan tulisan aksara Kawi yang sudah pudar. Sebatang pohon beringin raksasa menaunginya sehingga teduh dan terkesan angker.

Pada tahun 1977, Dra. Soejatmi Satari dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan survei dan menyimpulkan bahwa situs Balekambang merupakan kolam pemandian atau pertirtaan.

Setelah penelitian Soejatmi Satari dibuat jurnal dan diterbitkan, sejumlah arkeolog tertarik untuk ikut meneliti. Dari penuturan juru pelihara situs Balekambang Agus Santoso, ada dua arkeolog James Wisman dari EFEO dan Prof. Dr. JG de Casparis dari Belanda yang melanjutkan penelitian.

Keberadaan Balekambang baru mendapat perhatian serius setelah seorang arkeolog Perancis Veronique Degroot melakukan penelitian lebih detail tahun 2014. Dari penelitian intensif tersebut, diketahui pertirtaan Balekambang berasal dari pertengahan abad IX Masehi.

Perkiraan ini didasarkan pada penemuan makara dengan arca burung di dalamnya. Serta penemuan arca Sri Vasudhara yang menjadi ciri khas tradisi pembuatan candi di Jawa Tengah.

Arca Sri Vasudhara mempunyai kemiripan dengan arca Roro Jonggrang pada bentuk teratai dan motif sulur di belakang kepalanya.

Selain itu, ditemukan prasasti Bendosari, arca Hamsa, arca Wisnu dan arca itik. Semua penemuan berharga tersebut sekarang tersimpan di Museum Ronggowarsito Semarang.

Sebagian batu-batu penyusun pertirtaan sudah diangkat ke permukaan, tapi belum tertata sesuai urutannya.

"Perlu arkeolog dengan keahlian khusus untuk menyusun batu-batu di petirtaan,” kata Agus.

Untuk itu, pihaknya menunggu tidak lanjut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang untuk segera mengekskavasi (penggalian lebih lanjut) situs tersebut.

Komitmen Agus Santoso dan Pemdes Sidorejo untuk menjadikan situs Balekambang sebagai tujuan wisata memang terbentur banyak kendala. Selain soal ekskavasi dan penataan, juga belum adanya akses jalan menuju lokasi.

Saat ini, bagi yang ingin mengunjungi situs tersebut harus menyusuri tepian rel kereta api. Kemudian menyeberanginya. Setelah itu, melewati jalan setapak sejauh 500 meter. Tentunya ini sangat berbahaya dan pihak PT KAI sangat keberatan.

Kendati begitu, kendala tersebut perlu segera dipecahkan. Mengingat situs Balekambang mulai ramai didatangi wisatawan. Selain untuk berwisata, ada juga kelompok yang mengadakan ritual Kejawen pada malam tertentu, seperti dari Penghayat Kepercayaan Cahya Buana.

Tahun 2010 silam, pengikut Cahya Buana membuat prasasti sendiri bertuliskan aksara Jawa yang berbunyi "Kabeh iki sedulur. Eling lan waspodo. Sabar ngalah narimo." (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Gringsing #arkeolog #candi #mataram kuno #situs budaya #Pantai Jodo Gringsing Kabupaten Batang #cagar budaya