METROPEKALONGAN.COM, Batang- Di wilayah Gringsing Kabupaten Batang, menawarkan banyak destinasi wisata alam yang indah.
Selain ada yang berbayar dengan tiket masuk, ada juga yang gratis dan murah meriah. Salah satunya Wisata Alam Bendungan Kedung Asem terletak di Desa Mentosari.
Wisata Alam Bendungan Kedung Asem di Desa Mentosari masih jarang dikunjungi wisatawan. Lokasi ini bisa dibilang hidden gem di wilayah Timur Alas Roban Batang.
Bendungan ini membendung aliran Sungai Kalikuto, sehingga letaknya berbatasan dengan Kabupaten Kendal.
Baca Juga: Serunya Nostalgia Masa Kecil dengan Lomba Langenan Ban di Kecepak Batang
Untuk menuju Bendung Kedung Asem cukup mudah. Dari Jalan Raya Pantura ke arah selatan masuk melalui jalan desa sejauh lebih kurang dua kilometer.
Bendung Kedung Asem menawarkan pemandangan eksotis. Di tempat ini bisa memandang hijaunya kerimbunan hutan jati Alas Roban dan terjaganya sungai. Di sisi timur terdapat bukit batu Cokro Kembang.
Keindahan alam, berpadu dengan jembatan kokoh yang melintang di atas bendungan yang dicat warna-warni. Jembatan selebar 1,5 meter ini menghubungkan Desa Mentosari di Kabupaten Batang dan Desa Sambongsari di Kabupaten Kendal.
Diresmikan tahun 1989 oleh Mendagri Rudini (waktu itu) Bendungan Kedung Asem menampung aliran dari lima anak sungai yaitu Kali Belo, Kali Lampir, Kali Petung, Kali Arus, dan Kali Gadungan. Kelima anak sungai itu berkumpul menjadi Kali Kuto yang legendaris.
Baca Juga: Serunya Ribuan Warga Meriahkan Final Festival Balon Pekalongan 2024
Nama Kedung Asem sendiri diambil dari sejarah kearifan lokal. Konon dulu di tempat itu ada kedung (lubuk) yang dalam. Di sekitar lubuk itu banyak tumbuh pohon asem, sehingga warga sekitar menyebutnya kedung asem.
Beberapa tahun belakangan, Bendung Kedung Asem mulai dilirik wisatawan dan menjadi destinasi wisata alam gratis dan diharapkan bisa menjadi ikon Kecamatan Gringsing.
Menurut Kades Mentosari Suwadji, saat ini Bumdes Mentosari hanya mengelola kolam renang yang terletak tidak jauh dari bendungan.
"Untuk jangka panjang, kami ingin menjadikan Bendungan Kedung Asem sebagai destinasi wisata. Kami sedang merintis itu bersama pihak pengairan," terang Suwadji.
Khairul Anwar, operator bendungan menjelaskan, bendungan Kedung Asem hingga kini masih mampu mengairi 4.353 hektare sawah di Kabupaten Batang dan Kendal secara kontinyu sehingga bisa panen tiga kali setahun.
"Dulu bahkan ada 4888 hektar lahan tapi jumlah itu menyusut karena banyak sawah yang dikeringkan," tegas Khairul yang selalu siaga bersama dua rekannya.
Di balik keindahan alamnya yang teduh dan asri, bendungan Kedung Asem juga terlihat mengerikan saat terjadi banjir. Arus deras dan suara gemuruh air saat melewati bendungan membuat ciut nyali siapapun. Dari data di Kantor Pengairan banjir besar tercatat pernah terjadi beberapa kali.
"Terakhir pada Januari 2023 di mana ketinggian air mencapai 389 dan masuk siaga 3," lanjut Khairul.
Meskipun beberapa kali dihantam banjir besar, tapi kondisi bendungan dan jembatan masih kokoh. Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam yang masih asri sekaligus merasakan sensasi adrenalin, Bendungan Kedung Asem bisa menjadi pilihan.
Tidak ada pungutan masuk dan banyak pedagang di sekitarnya. Pengunjung hanya diberi peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun demi keamanan, pihak pengairan menutup lokasi ini di malam hari. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla