Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

KARAT, Komunitas Petualang dari Batang Menghidupkan Kembali Semangat Mendaki

Lutfi Hanafi • Selasa, 1 Oktober 2024 | 16:49 WIB

KEINDAHAN GUNUNG: Bagi yang suka naik gunung keindahan alam seperti ini, bisa menjadi candu
KEINDAHAN GUNUNG: Bagi yang suka naik gunung keindahan alam seperti ini, bisa menjadi candu

Di tepi Jalan Sambong Pos Pantura, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ada sebuah komunitas kecil yang perlahan tumbuh menjadi penyedia jasa penyewaan perlengkapan tenda dan porter untuk para petualang alam.

Mereka menyebut dirinya sebagai KARAT, sebuah nama yang diambil dari inisial anggota pendirinya, Kharisun, Adit, Rio, Agus, dan Tahta.

Kisah mereka dimulai dari sebuah pendakian pada 17 Mei 2022. Empat anggota awal yang dulunya vakum dari kegiatan mendaki, kemudian memutuskan untuk kembali menaklukkan Gunung Sumbing.

Baca Juga: Meski Dua Tahun Berlalu, Masih Ada Potensi Longsor di Kaki Gunung Prau, Pranten, Kabupaten Batang

Komunitas ini awalnya bernama "Oreg-oreg Sawah"—nama yang ringan dan akrab. Namun, setelah perjalanan ke Gunung Sumbing tersebut, mereka tidak hanya berhasil mencapai puncak, tetapi juga berhasil menghidupkan kembali semangat mendaki di antara mereka.

Beberapa bulan kemudian, Gunung Slamet menjadi tujuan berikutnya. Namun, kali ini, pendakian mereka berbeda—banyak yang tertarik untuk bergabung dengan tim.

Pada pendakian ini, mereka menambahkan satu anggota baru, seorang pria yang menambah kekuatan tim. Sekaligus menginspirasi perubahan nama komunitas menjadi KARAT, sehingga mencerminkan kedekatan dan kekompakan mereka.

Baca Juga: Tanah Longsor Terjadi di Gunung Alang Kabupaten Batang, Memutus Satu-Satunya Akses Warga

 

Perjalanan yang Santai, Tapi Penuh Perhatian

KARAT bukan sekadar komunitas pendaki biasa. Dengan pengalaman mendaki yang sudah cukup lama, para anggotanya selalu memastikan kenyamanan, terutama bagi pendaki perempuan yang bergabung.

Dalam pendakian ke Gunung Slamet misalnya, mereka dengan sigap membantu dalam berbagai persiapan. Mulai dari membawa air minum, mendirikan tenda, hingga memasak makanan.

Bagi KARAT, mendaki bukan sekadar mencapai puncak, melainkan tentang menikmati setiap prosesnya.

"Kita selalu nyantai," ungkap Rio, salah satu anggota yang sering berperan sebagai sweeper.

"Kalau ada yang capek, kita istirahat. Berapa lama pun, pasti kita tungguin."

Pendekatan santai ini membuat pendakian terasa lebih ringan, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mendaki.

Salah satu pengalaman mereka yang tak terlupakan adalah ketika mendaki Gunung Merbabu melalui jalur Swanting.

"Dari basecamp naik ojek, trus dari Pos 1 ke Pos 2 itu hampir 6 jam," kenang Rio.

Meski lama, mereka saling bercanda dan menciptakan suasana yang menyenangkan agar rasa lelah tidak terasa berat.

Baca Juga: Misteri Gunung Gandul Alas Roban, Pernah Sesatkan Travel dan Tempat Keramat Pemburu Togel

 

Menjaga Semangat Mendaki dengan Open Trip Murah

Dari pengalaman-pengalaman pendakian tersebut, tim KARAT mulai berpikir untuk membuka layanan open trip.

Ide ini muncul ketika mereka menyadari bahwa persiapan mendaki bisa menjadi beban bagi pendaki yang belum berpengalaman.

"Kita yang ngatur semua persiapan, jadi orang yang join tinggal ikut aja," kata Adit, yang dikenal sebagai penghidup suasana dalam tim.

KOMPAK: Tim Karat saat mendaki berasam dengan pendaki-pendaki baru beberapa waktu kemarin.
KOMPAK: Tim Karat saat mendaki berasam dengan pendaki-pendaki baru beberapa waktu kemarin.

Dengan semangat untuk memperkenalkan pendakian kepada lebih banyak orang, KARAT menawarkan open trip dengan harga yang sangat terjangkau.

"Banyak yang tanya, kenapa open trip-nya murah?" ungkap Rio.

Jawabannya sederhana, kata Rio. Bagi mereka mendaki gunung bukan wisata, tapi olahraga ekstrem dengan tempo lambat.

Mereka ingin memberikan pengalaman mendaki yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi siapa saja yang tertarik mencoba.

Dengan harga sekitar Rp 150.000, peserta open trip sudah mendapatkan berbagai fasilitas, termasuk pendaftaran, makan dua kali, perlengkapan tim, kopi dan teh, serta jasa porter barang.

"Intinya biar para pendaki itu tidak punah," tambah Rio dengan semangat.

Baca Juga: Kamu Harus Coba Glamping Seru di Wonosobo, Pemandangan Telaga dan Pegunungan

 

Kebersamaan di Tengah Alam

Salah satu momen yang paling dinantikan setiap pendaki KARAT adalah ketika malam tiba, duduk di depan tenda, menyeruput kopi, dan bercanda di bawah ribuan bintang. Bagi mereka, inilah esensi dari mendaki—menikmati alam dan kebersamaan tanpa tergesa-gesa.

Dengan karakter masing-masing, para anggota KARAT memiliki peran tersendiri dalam tim. Kharisun, yang dijuluki "Pak Ustad," selalu mengingatkan waktu sholat. Adit, si "joker versi lite", menjadi penghibur dalam perjalanan.

Rio, sang sweeper yang setia memastikan semua anggota sampai dengan aman. Agus, si porter yang tahu seluk-beluk jalur gunung di Jawa Tengah, dan Tahta, si "Escanor Ksatria Matahari," seorang atlet trail run yang selalu penuh energi selama matahari masih bersinar.

Melalui open trip dan penyewaan perlengkapan, KARAT berharap semakin banyak orang yang jatuh cinta dengan mendaki gunung, bukan sekadar sebagai wisata, tetapi sebagai sebuah petualangan yang penuh makna. KARAT tidak hanya mendaki gunung, mereka juga mendaki kebersamaan. (han)

Editor : Ida Nor Layla
#gunung #gunung slamet #open trip #merbabu #batang #pendakian