METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, terdapat sebuah pantai yang sempat tenar di tahun 90-an. Namun kini tersembunyi dan terlupakan. Adalah Pantai Plabuan.
Unik dan eksotis. Pantai ini berbentuk laguna dengan daratan yang menjorok ke laut di kiri dan kanannya. Meski pernah sunyi ditelan masa dan pandemi Covid-19, pesona Plabuan kembali menyedot perhatian pengunjung.
Untuk mencapai Pantai Plabuan, pengunjung bisa memilih tiga jalur berbeda. Bisa melalui Banyuputih, kawasan PTPN IX di Plelen, atau lewat Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Setibanya di area parkir dekat stasiun kereta api, hanya butuh berjalan kaki sekitar 50 meter untuk mencapai pantai.
Di Plabuan, pengunjung disuguhi panorama indah batuan raksasa yang menjulang di antara deburan ombak.
Bebatuan ini tak hanya memperindah lanskap pantai tetapi juga menjadi spot favorit bagi para pemancing dan pecinta fotografi. Batuan karang ini berperan sebagai perisai alami, menjaga pantai dari abrasi.
Menariknya, meski ombak cukup besar di sekitar tepi pantai, air di sisi lainnya tetap tenang dan jernih kebiruan, menambah suasana damai.
Melinda, seorang aktivis lingkungan muda yang menemani kunjungan, berharap pantai ini tetap lestari meski dikelilingi oleh geliat industri.
"Kami berharap keberadaan Kawasan Industri Terpadu tidak mengusik keindahan alami Pantai Plabuan. Semoga kelestariannya tetap terjaga," ujarnya.
Plabuan yang tak berpagar dan tak dipungut biaya masuk ini menawarkan pemandangan memukau, terutama saat senja tiba.
Matahari yang perlahan tenggelam diiringi semilir angin menciptakan suasana romantis dan damai.
Di kejauhan, lampu-lampu kawasan industri mulai menyala, menambah estetika malam di pantai ini.
Dengan mulai beroperasinya Kawasan Industri Terpadu, Plabuan kian dilirik para pekerja dari KITB.
Warga setempat pun berinisiatif membuka beberapa rumah makan yang menyajikan aneka hidangan laut dengan harga terjangkau.
Dua rumah makan besar sudah berdiri di tepi pantai, dibangun tanpa dinding sehingga menyatu dengan alam, memberi pengalaman kuliner laut yang khas.
Tak jauh dari pantai, terdapat sumur keramat bernama Trinilan, yang dipercaya sebagai peninggalan Kiai Nur Anom atau Ki Ageng Gringsing.
Air sumur ini dikenal segar dan tawar meski berada di tepi pantai, dengan debit air yang tak pernah kering bahkan saat kemarau panjang.
Sumur Trinilan kerap dijadikan tempat ritual pada malam Jumat Kliwon dan masih digunakan oleh beberapa warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Pantai Plabuan yang kembali menggeliat ini tak hanya memikat wisatawan lokal tetapi juga beberapa ekspatriat dari KITB.
Semoga, dengan sentuhan yang tetap menghargai kelestarian alam, Plabuan dapat menjadi destinasi wisata kebanggaan Batang yang akan terus memikat hati. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla